System Level Up Super Rich

System Level Up Super Rich
BAB 27


__ADS_3

"Kamu mau melihatnya, mari aku bawa masuk," ucap Ferzo membelokkan motornya masuk ke perkarangan rumah besar itu lalu memberhetikan motornya di depan rumah itu.


"Hey apa yang kau lakukan! Kita di tuduh pencuri nanti!" ucap Syahila panik sembari menepuk-nepuk pundak Ferzo.


"Tapi kamu penasaran mau lihat isi dalam rumah besar ini," ucap Ferzo mematikan mesin motornya.


"Aku tadi cuma bercanda aja kok, ayo kita putar lagi!" seru Syahila bergerak dengan gelisah.


Ferzo turun dari motornya. "Ayo turun, apa kau berdiri di sini saja? Kalau begitu aku masuk duluan ya," ucap Ferzo mengangkat plastik di motornya berjalan mendekati pintu tersebut. Syahila memiringkan kepalanya, ia sungguh binggung apa yang akan di lakukan Ferzo.


'System, bagaimana aku membuka pintu rumah ini?' tanya Ferzo dalam hati.


[System menjawab: Anda hanya perlu meletakkan sidik jadi Anda yang ada di layar 1 cm itu sebagai pengenalan Tuan]


Ferzo pun meletakan jempolnya dan pintu itu pun otomatis terbuka ke samping.


"Hey apa yang kau lakukan!" teriak Syahila saat Ferzo bisa membuka pintu.


"Katanya kau ingin melihat isi dalam rumah ini, ayo masuk," ajak Ferzo melambaikan tangannya.


"Kamu jangan becanda donk, ini rumah orang bagaimana jika kita tertangkap?" Syahila khawatir sambil melihat ke kiri dan kanan takut jika jika pemilik rumah itu tiba-tiba saja datang.


"Ya iya, tentu saja ini rumah orang, masa rumah monyet, kalau kamu tidak mau ya sudah, aku masuk duluan ya," ucap Ferzo masuk ke dalam. Mau tak mau Syahila juga ikut masuk ke dalam, lagian sudah malam juga. Syahila membawa Comot masuk ke dalam dan melihat-lihat.


"Masuklah, katanya kau ingin mandi, tapi maaf ya, di rumahku tidak punya baju wanita, jadi kau pakai saja baju ku," ucap Ferzo mengeluarkan baju baru dari tasnya dan meletakkan di atas meja.


"Rumahku? Maksudmu ini rumah mu?" tanya Syahila terbelalak.


"Ya anggap saja begitu, cepatlah mandi, ayo aku antarkan," ucap Ferzo berjalan terlebih dahulu mencari kamar mandi, karena ia juga baru pertama datang ke rumahnya tentu saja ia juga tidak tahu.

__ADS_1


Di dapur itu sangat besar, dan ada 2 toilet yang sangat besar.


"Di sana, mandilah, hm … tapi seperti di rumah ini tidak ada handuk, apa kamu mau memakai handukku, tapi ya cuma handuk lusuh," tawar Ferzo.


"Tidak masalah," jawab Syahila.


Ferzo pun kembali ke ruang tamu, ia tersenyum melihat rumah yang mewah itu kini menjadi miliknya, ia pun membuka tasnya dan mengambil handuk di dalamnya.


"Astaga! Ini bau, bagaimana Syahila memakai handuk bau ini," ucap Ferzo mengendus-endus bau handuknya.


"Hm … itu … apa ada handuknya?" tanya Syahila tiba-tiba muncul, Ferzo melihat handuk itu dan ia tidak sempat menyembunyikannya.


Ferzo merasa tak enak hati jika ia memberikan handuk baunya itu. Sedangkan Syahila melihat handuk di tangan Ferzo dan berharap Ferzo memberikannya handuknya.


Melihat mata Syahila yang penuh harap itu Ferzo menjadi tak tega jika dia tidak memberikannya, dengan berat hati Ferzo dengan terpaksa mengulur handuknya itu dengan membuang wajahnya kebelakang.


"Kamu mau melihatnya, mari aku bawa masuk," ucap Ferzo membelokkan motornya masuk ke perkarangan rumah besar itu lalu memberhetikan motornya di depan rumah itu.


"Hey apa yang kau lakukan! Kita di tuduh pencuri nanti!" ucap Syahila panik sembari menepuk-nepuk pundak Ferzo.


"Tapi kamu penasaran mau lihat isi dalam rumah besar ini," ucap Ferzo mematikan mesin motornya.


"Aku tadi cuma bercanda aja kok, ayo kita putar lagi!" seru Syahila bergerak dengan gelisah.


Ferzo turun dari motornya. "Ayo turun, apa kau berdiri di sini saja? Kalau begitu aku masuk duluan ya," ucap Ferzo mengangkat plastik di motornya berjalan mendekati pintu tersebut. Syahila memiringkan kepalanya, ia sungguh binggung apa yang akan di lakukan Ferzo.


'System, bagaimana aku membuka pintu rumah ini?' tanya Ferzo dalam hati.


[System menjawab: Anda hanya perlu meletakkan sidik jadi Anda yang ada di layar 1 cm itu sebagai pengenalan Tuan]

__ADS_1


Ferzo pun meletakan jempolnya dan pintu itu pun otomatis terbuka ke samping.


"Hey apa yang kau lakukan!" teriak Syahila saat Ferzo bisa membuka pintu.


"Katanya kau ingin melihat isi dalam rumah ini, ayo masuk," ajak Ferzo melambaikan tangannya.


"Kamu jangan becanda donk, ini rumah orang bagaimana jika kita tertangkap?" Syahila khawatir sambil melihat ke kiri dan kanan takut jika jika pemilik rumah itu tiba-tiba saja datang.


"Ya iya, tentu saja ini rumah orang, masa rumah monyet, kalau kamu tidak mau ya sudah, aku masuk duluan ya," ucap Ferzo masuk ke dalam. Mau tak mau Syahila juga ikut masuk ke dalam, lagian sudah malam juga. Syahila membawa Comot masuk ke dalam dan melihat-lihat.


"Masuklah, katanya kau ingin mandi, tapi maaf ya, di rumahku tidak punya baju wanita, jadi kau pakai saja baju ku," ucap Ferzo mengeluarkan baju baru dari tasnya dan meletakkan di atas meja.


"Rumahku? Maksudmu ini rumah mu?" tanya Syahila terbelalak.


"Ya anggap saja begitu, cepatlah mandi, ayo aku antarkan," ucap Ferzo berjalan terlebih dahulu mencari kamar mandi, karena ia juga baru pertama datang ke rumahnya tentu saja ia juga tidak tahu.


Di dapur itu sangat besar, dan ada 2 toilet yang sangat besar.


"Di sana, mandilah, hm … tapi seperti di rumah ini tidak ada handuk, apa kamu mau memakai handukku, tapi ya cuma handuk lusuh," tawar Ferzo.


"Tidak masalah," jawab Syahila.


Ferzo pun kembali ke ruang tamu, ia tersenyum melihat rumah yang mewah itu kini menjadi miliknya, ia pun membuka tasnya dan mengambil handuk di dalamnya.


"Astaga! Ini bau, bagaimana Syahila memakai handuk bau ini," ucap Ferzo mengendus-endus bau handuknya.


"Hm … itu … apa ada handuknya?" tanya Syahila tiba-tiba muncul, Ferzo melihat handuk itu dan ia tidak sempat menyembunyikannya.


Ferzo merasa tak enak hati jika ia memberikan handuk baunya itu. Sedangkan Syahila melihat handuk di tangan Ferzo dan berharap Ferzo memberikannya handuknya.

__ADS_1


Melihat mata Syahila yang penuh harap itu Ferzo menjadi tak tega jika dia tidak memberikannya, dengan berat hati Ferzo dengan terpaksa mengulur handuknya itu dengan membuang wajahnya kebelakang.


__ADS_2