
"Tuh kan, ke sini kamu malah naik angkot, pake ongkos lagi, kalo ada apa-apa kasih tau aja ya, oh ya mana nomor HP mu?" pinta Ferzo.
Syahila menundukkan kepala, ia malu ingin mengeluarkan ponsel bututnya saat melihat ponsel Ferzo yang mahal itu, ia baru ganti kartu baru jadi nomornya ia belum hapal, itu karena sering orang menelpon nomor lamanya, baik orang iseng mau pun teman sekolahnya.
"Kenapa? Apa ada sesuatu?" tanya Ferzo berusaha melihat wajah Syahila yang sedang menunduk karena ia ingin tahu permasalahan apa yang sedang di hadapi Syahila.
"Hm … itu … aku lupa nomor HP ku, dan juga ponselku tinggal di rumah, maaf ya, lain kali aku akan mengingat nomorku," ucap Syahila pelan, ia mengigit bibir, ia merasa bersalah karena sudah membohongi Ferzo yang sudah baik padanya.
"Hm … ya sudah, tidak apa-apa, kalau begitu aku catat nomor ku di kertas, nanti kamu tinggal salin dan langsung hubungi aku ya," ucap Ferzo tersenyum. Syahila mengangguk.
Ferzo berdiri dan ingin masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil kertas dan pena.
Ting! Tong!
Ting! Tong!
Bel berbunyi, Ferzo tidak jadi masuk ke dalam kamarnya dan ia menuju pintu.
"Apa ini dengan pemesan Ferzo Ananda?" tanya kurir itu.
"Iya, berapa Bang?" tanya Ferzo.
__ADS_1
"150 ribu," jawab kurir itu. Ferzo merogoh kantongnya dan mengambil uang 2 lembar dari kantongnya dan menyerahkan kepada Abang kurir.
Abang kurir itu membuka tasnya dan menyerahkan uang 50 ribu kepada Ferzo.
"Terima kasih ya," ucap Abang kurir itu dan ia pun kembali ke motornya.
[Ding Ding]
[Saldo Anda di kurang 150.000]
[Sisa saldo Anda 139.750.000]
Ferzo membawa kotak makanan itu lalu meletakkan di atas meja. Ia membuka kotak itu lalu meletakkan di depan Syahila.
Syahila melahapnya pelan.
Tririt! Tririt! Tririt!
Suara ponsel berbunyi dari tas kecil yang di sandang Syahila.
Seketika Ferzo dan Syahila berhenti makan karena ada suara ponsel yang berbunyi. Syahila salah tingkah karena ketahuan berbohong.
__ADS_1
"Itu sepertinya bukan bunyi ponsel ku," ucap Ferzo mengerutkan alisnya mencoba mengingat-ingat suara ponselnya.
"Itu …." Syahila tak bisa berkata-kata dan tidak tahu alasan apa yang ingin ia jawab.
"Ponsel kamu ya?" tanya Ferzo.
Syahila menarik nafas berat, karena sudah ketahuan ya sudahlah.
"I-iya." angguk Syahila menundukkan kepala.
"Kenapa nggk bilang kalau kamu bawa ponsel, sini berikan padaku," pinta Ferzo.
"Aku lupa, aku pikir aku nggak bawa ponsel tadi." Syahila pelan-pelan membuka tasnya, ia melihat ponsel bututnya itu ia sangat enggan untuk memberikan kepada Ferzo. Dengan berat hati Syahila memberikan kepada Ferzo.
Ferzo menerimanya dan sedikit tertegun karena ponsel milik Syahila bukan saja model lama, tapi juga layarnya pecah tapi bisa di gunakan, akan tetapi Ferzo memilih diam saja, takut jika Syahila tersinggung.
Ferzo memasukkan nomor ponselnya ke ponsel Syahila dan ponsel milik Syahila berbunyi.
"Ini nomor ku sudah masuk," ucap Ferzo memberikan ponsel kepada Syahila.
Syahila menerima kembali ponselnya dan ia menyimpannya. nama yang ia buat di sana adalah 'Ferzo penyelamatku'.
__ADS_1
Syahila tersenyum dan ia menyimpan ponselnya di dalam tas kembali.