
Ferzo membuka pintu kamar Comot dan Cimot, kedua ekor itu terlihat akrab dan sedang bergulat.
"Wah … anak-anak ku sedang bermain ya," ucap Ferzo masuk ke dalam, kedua anabulnya itu berlari ke arahnya dan menerpanya, layaknya seorang ayah yang baru saja pulang kerja.
Kedua anabulnya mengajak Ferzo bergulat.
"Ha-ha-ha, kalian sangat lucu, oh ya, kalian ada yang mau jenguk, awas ya kalau lupa majikan kalian, kalau tidak … ku potong anu kalian," ancam Ferzo menatap tajam.
Kedua anabul itu ketakutan dan meringkik, mungkin kalau mereka bisa bicara pasti mereka mengatakan 'Punya majikan seram amat bah'.
Ferzo membawa keluar kedua anabulnya untuk bermain, Ferzo duduk di sofa dan memesan makanan.
[Ding]
[Pesanan Anda akan segera kami antar]
Ferzo masuk ke dalam kamarnya dan ia segera mandi, karena dari tadi ia hanya memakai pakaian seragam sekolah.
Setelah selesai, Ferzo berganti pakaian kasual, kaos berwarna kuning dan jins hitam lalu membawa laptopnya ke meja ruang tamu.
__ADS_1
Ia membuka laptopnya dan melihat data perusahaanya. Meskipun ngensot, tapi angka pasarannya naik. Suatu saat nanti, ia yakin jika ia bisa bersaing dengan perusahaan lain.
Ting! Tong!
Ting! Tong!
Ferzo membukakan pintu dan terlihatlah Alila, Shopia dan Lazi.
"Oh kalian sudah datang, ayo masuk," ajak Ferzo. Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah Ferzo. Mata mereka tak lepas memandang seluruh bagian rumahnya.
"Ayo silakan duduk, makanannya lagi di pesan, tunggu aja ya," ucap Ferzo duduk di sofa kecil yang hanya muat satu orang.
"Hm … iya." angguk Ferzo.
"Kamu tinggal sama siapa? Di mana orang tua kamu?" tanya Alila penasaran.
"Aku tinggal bersama Comot dan Cimot. Orang tua aku sudah lama meninggal jadi hanya tinggal aku sendiri saja," jawab Ferzo.
"Eh maaf, aku nggak maksud begitu membuat kamu teringat orang tua kamu," ucap Alila merasa bersalah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kok, semua orang juga pasti menanyakan hal yang sama, jadi aku sudah terbiasa," jawab Ferzo tersenyum tipis.
"Lalu di mana Comot dan Cimot?" tanya Alila melihat sekeliling rumah Ferzo.
"Hm … di mana mereka ya? Sebentar aku cari dulu," ucap Ferzo masuk ke dalam kamarnya dan melihat kedua bocah itu sedang bermain di kamarnya.
"Nggak nyangka ternyata dia orang kaya," bisik Lazi.
"Iya, mana rumahnya lebih mewah dari rumahku lagi," sahut Shopia mengangguk-angguk.
"Eh Alila, kamu kan biasa nih ikut pameran lukisan ke luar negeri kan? Nah, harga lukisan itu kisaran berapa?" tanya Lazi menunjukkan sebuah lukisan gambar bambu kuning dan merah, beserta latar belakang sungai salju kristal.
"Sepertinya harga lukisan itu sangat fantastis, karena aku belum pernah melihat lukisan yang begitu menarik seperti ini, mungkin kah lukisan ini hanya ada satu di dunia? Dari mana ia mendapatkannya?" tanya Alila memperhatikan lukisan yang menarik perhatiannya itu.
"Hey! Jangan nakal ya," ucap Ferzo yang kaki sebelahnya di rangkul Cimot, sedangkan di tangannya mengendong Comot bermain dengan mengigit tang Ferzo.
"Hay Comot, hay Comot, kalian apa kabar?" Alila mengambil Cimot dari tangan Ferzo, dan Shopia mengambil Cimot dari kaki Ferzo.
"Ya ampun, kalian manja sekali," ucap Shopia memeluk Cimot dan mengacak-acak bulu halusnya
__ADS_1