
Baru saja ingin duduk, bel rumah kembali berbunyi.
Ferzo pun menghampiri pintunya lalu membukanya.
"Ini Tuan pesanan Anda," ucap kurir itu, lagian Ferzo sudah beberapa kali pesan makanan dengan kurir itu.
"Berapa ini Pak?" tanya Ferzo menerima kotak makanan itu.
"500 ribu," ucap kurir itu. Ferzo mengambil membawa kotak makanan itu masuk ke dalam dan meletakkan di atas meja, kemudian ia masuk ke dalam kamarnya.
[Klik di sini untuk membuka]
[Klik]
Ferzo pun mengambil uangnya dari system sebagian ia simpan di lemari, nanti ia tak perlu ambil lagi dari system'.
Ferzo pun keluar dari kamarnya dan menyerahkan uang 500 ribu itu kepada kurir tersebut.
"Terima kasih Tuan, silakan berlangganan lagi," ucap kurir itu dan ia pun kembali ke motornya. Ferzo menutup pintu.
[Ding Ding]
__ADS_1
[Hadiah Anda di kurang 500.000]
[Sisa Hadiah Anda 290.600.000]
"Aku ambil piring dulu ya," ucap Ferzo melewati mereka dan masuk ruang dapur. Ia mengambil beberapa piring dan gelas lalu membawanya kembali ke ruang tamu.
Meja makannya malah tak terpakai, meja tamu malah menjadi meja makan.
"Ayo di buka kotak makanannya," ucap Ferzo meletakkan piring dan gelas di atas meja.
Shopia dan Alila membuka kotak makanan itu dan meletakkan di dalam piring. Mereka pun makan bersama.
"Oh ya, alamat rumah kalian di mana?" tanya Ferzo membuka pembicaraan.
"Aku sama dengan Alila, cuma jaraknya sekitar 500 meter sih masih di jalan yang sama," jawab Lazi.
"Kalo aku sih di jalan kelapa, nggak perumahan elit sih, rumah biasa aja," ucap Shopia.
Ferzo mengangguk-angguk. "Kalian nggak ada PR nih, kelihatannya santai banget," ucap Ferzo.
"Ada sih, cuma nggak banyak, nanti malam juga selesai, jadi karena kami punya waktu senggang yang main ke sini deh. Hm … kamu nggak lagi sibukkan?" tanya Alila.
__ADS_1
"Hm … enggak sih, cuma tadinya aku mau game aja," jawab Ferzo.
Akhirnya mereka pun selesai makan, Alila dan yang lain membereskan piring dan mereka mencucinya.
"Bahkan dapurnya saja luas banget ya," ucap mereka terpana melihat dapur yang sangat rapi.
"Astaga! Bahkan di dapur dia letakkan lukisan mahal, orang kaya emang beda ya," ucap Lazi menggeleng kepala.
"Mana ada 3 lukisan lagi, kalo Papa aku sih di sediakan ruangan khusus tempat lukisan, mungkin kalau Papa tau lukisan mahal ini di letakkan di sini bisa pingsan dia," ucap Alila menyengir.
"Iya, secara Papa kamu sangat menghargai lukisan, coba sekali-kali bawa Papa kamu ke sini, pasti dia sangat senang," saran Lazi.
"Benar juga sih, tapi aku harus izin dulu sama Ferzo, lagian kan kita baru kenal juga," ucap Alila sambil meletakkan piring di rak piring lalu mengelap tangannya dengan serbet.
"Tapi kalau do lihat-lihat sih, dia orangnya baik, pasti dia akan memperbolehkannya," ucap Shopia.
"Semoga saja begitu." angguk Alila. "Ya udah sudah bereskan, ayo ke ruang tamu, aku mau minta ijin sama Ferzo mau lihat sekeliling rumah dia," ucap Alila.
"Nah, bener tu, aku juga penasaran," jawab Lazi bersemangat.
Terlihat Ferzo sedang asik bermain game di laptopnya dan terlihat ketiga gadis itu berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Ferzo.
"Hm … sebelumnya kami minta maaf ya jika kami lancang, tapi kami pengen lihat dan keliling rumah kamu, boleh?" tanya Alila ragu-ragu.