
"Aku mau yang ini saja Bang," ucap Ferzo menunjuk ke arah ponsel yang berwarna hitam.
Pegawai konter itu pun mengambilnya dan memberikan kepada Ferzo untuk melihat-lihatnya dulu.
"Kamu suka yang ini?" tanya Ferzo memperlihatkan modelnya kepada Syahila.
Syahila mengangguk pelan.
"Ya udah, yang ini saja," ucap Ferzo memberikan kembali kepada pegawai itu, untuk di masukkan ke dalam kotak.
"Berapa Bang?" tanya Ferzo.
"2.500.000" jawab pegawai konter itu.
"Bisa bayar lewat kartu Bang?" tanya Ferzo mengeluarkan kartu Black card-nya.
"Bisa." angguk pegawai itu mengambil mesin pembayaran.
Ferzo menggesek di mesin pembayaran dengan sandi namanya "Ferzo A" atau "337962".
[Ding Ding]
[Saldo Anda di kurang 2.500.000]
__ADS_1
[Sisa saldo Anda 137.250.000]
"Ini ponselnya, terima kasih," ucap pegawai itu memberikan tas yang yang berisi ponsel kepada Ferzo.
"Sama-sama." angguk Ferzo menerimanya lalu memberikan kepada Syahila. "Ini ambil." Syahila menerimanya malu-malu.
Ferzo berjalan terlebih dahulu dan masuk ke dalam mobilnya, Syahila juga mengikuti Ferzo masuk ke dalam mobil.
"Coba lihat dulu ponselnya, di cek semua," ucap Ferzo menghidupkan mesin mobilnya dan pelan-pelan melaju di jalanan.
Syahila membuka tas itu dan mengambil ponselnya, ia menghidupkannya dan melihat fitur-fitur di dalamnya.
"Ponsel mahal beda ya," ucap Syahila.
"Suka banget, makasih ya," ucap Syahila tersenyum ke arah Ferzo.
"Kamu biasanya kamu dapat kado apa dari teman-teman kamu?" tanya Ferzo.
"Berbagai macam sih, ada yang ngasih buket, ada yang ngasih ponsel, boneka, ada yang ngasih motor juga, ada yang ngasih cincin emas, dan benda-benda berharga lainnya," jawab Syahila.
Mendengar ucapan Syahila, Ferzo tertegun, karena mereka bisa berikan hadiah-hadiah besar akan tetapi ia memberi hanya ponsel.
"Tapi aku tidak menerimanya, aku kembalikan semua hadiah yang berharga itu kepada pemiliknya, aku tidak bisa menerimanya, Ibu juga tidak boleh menerima hadiah itu. Jadi aku kembalikan," ucap Syahila tersenyum melihat Ferzo. Ferzo mengangguk-angguk.
__ADS_1
"Lalu apa kata mereka kamu kembalikan hadiahnya?" tanya Ferzo penasaran.
"Ya tentu saja mereka terpaksa menerimanya lagi, toh aku juga tidak menginginkannya juga," jawab Syahila.
"Semoga hadiah yang aku berikan ini, Ibumu tidak menyuruhnya mengembalikannya," ucap Ferzo.
Syahila tersenyum. "Karena kamu berikan ini kamu ikhlas, tapi mereka memberikan semua barang-barang itu hanya demi mendapatkan perhatian ku saja," jawab Syahila manyun.
"Hm … begitu ya," ucap Ferzo mengangguk-angguk.
Tak lama kemudian, merek Apun sampai di depan rumah Syahila.
Mereka pun turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah Syahila.
"Ibu!" panggil Syahila. Ibunya pun keluar dari kamar.
"Bibi," ucap Ferzo mendatangi ibu Syahila dan mencium tangannya.
"Ibu, Ferzo ada yang ingin ia katakan," ucap Syahila.
"Ada apa Nak?" tanya ibu Syahila.
"Hm … begini, aku punya cafe, nah itu cafe belum ada pegawainya, tapi sudah ada yang melamar sih, nah, Bibi kira-kira mau nggak kerja di cafe ku. Bibi kan bisa masak kata Syahila, jadi mau Bibi jadi koki di sana nggak? Kalau Bibi bisa meng-hadle di sana, nanti aku angkat jadi kepala koki di Cafe ku," ucap Ferzo.
__ADS_1
Ibu Syahila mengangkat alisnya lalu melihat anaknya itu.