
Alila menatap punggung Ferzo yang menjauh dengan tatapan kosong.
"Suster! Suster! Alila sudah bangun," ucap Ferzo menghampiri seorang suster yang hendak pergi.
"Oh baiklah," angguk suster itu. Suster itu pun berjala mendekati dokter dan dokter itu mengangguk.
Mereka pun bergegas berjalan menuju ruangan Alila. Ferzo mengikutinya dari belakang.
Dokter pun masuk ke dalam ruangan dan langsung memeriksa keadaan Alila.
"Bagaimana perasaan mu sekarang? Apa ada keluhan?" tanya dokter itu sambil memegang lengan Alila dan menekan-nekan dengan pelan.
Alila diam dan tidak menyahutinya, ia menatap dokter itu dengan tatapan kosong.
"Apa ada keluhan? Yang di mana yang sakit?" ulang dokter itu dengan lembut.
"Aku … kepalaku sakit," jawab Alila dengan mata sayu.
"Ambilkan alat pemeriksaan," perintah dokter itu.
Suster itu pun berlari ke ruangan medis untuk mengambil alatnya.
Dokter terus memijat tangan Alila dengan pelan.
__ADS_1
"Dokter, bisakah dia melupakan hal yang buruk itu dalam keadaan seperti ini agar penyembuhan bisa cepat?" tanya Ferzo.
"Saat ini dia memang melupakannya, tapi saat ini ia merasa ada yang hilang saja, akan tetapi ia berusaha untuk menemukan jawabannya, jadi kalian sebisa mungkin untuk membawanya berbicara atau apalah agar ia bisa melupakan dan tidak berusaha mencari ingatan itu," jawab dokter.
Suster pun datang membawa alat yang berbentuk kotak dan meletakkan di atas meja. Dokter megambil alat pemeriksaan itu yang berbentuk panjang seperti pena, itulah alat pemeriksaanya.
Dokter itu mengambil telapak tangan Alila dan meletakan benda panjang itu di telapak tangannya Alila, dari jempol, ujang jarinya untuk memeriksa bagian mana saja yang di rasakan sakit.
"Kamu merasa sakit di bagian kepala dan juga di lambung mu, kamu harus makan teratur ya agar asam lambung tidak naik," ucap dokter itu tersenyum.
"Baik dokter, akan aku katakan kepada Mamanya," ujar Shopia.
"Di mana Mamanya?" tanya dokter itu mengemas peralatan pemeriksanaan.
Shopia langsung memukul pundak Lazi dan membelalakkan matanya.
"Upshhh!" Lazi langsung menutup mulutnya lalu menepuk-nepuknya.
"Baiklah, kalau begitu, nanti suster akan mengantarkan obatnya, di minum nanti ya," ucap dokter itu.
"Baik Dok." angguk Ferzo.
Dokter pun keluar bersama suster, masuk lagi petugas yang mengantar makan malam.
__ADS_1
Tak lama suster pun datang. "Ini obatnya ya, minum sehabis makan," ucap suster itu meletakkan obatnya di atas meja, ia memeriksa infus dan ia pun pergi.
"Ayo Alila, kita makan dulu," ucap Shopia duduk di samping Alila. Lazi mengambil piring yang berisi nasi ia pun menyuap Alila.
Perlahan Alila membuka mulutnya dan Lazi menyuapnya, ia mengubahnya dengan pelan.
Triring! Triring! Triring!
Ponsel milik Ferzo berbunyi dan ia melihat di layar ponselnya jika yang menelponnya adalah Syahila.
"Halo," jawab Ferzo.
"Aku sudah sampai di depan rumah sakit kasih bunda, kamu di ruangan mana?" tanya Syahila melihat ke dalam rumah sakit.
"Ya ampun kamu ke sini rupanya, ya udah kamu tunggu di sana sebentar," ucap Ferzo keluar dari ruangan untuk menjemput Syahila.
Shopia dan Lazi sambil berpandangan. "Siapa yang mau datang?" tanya Lazi.
"Temannya katanya tadi," jawab Shopia.
"Syahila, kamu ke sini dengan siapa?" tanya Ferzo menghampiri Syahila.
"Aku sendiri dengan mengunakan ojek," jawab Syahila tersenyum sambil memegang tas selempangnya.
__ADS_1