System Level Up Super Rich

System Level Up Super Rich
BAB 53


__ADS_3

Mereka pun melahap makanannya.


"Nanti pulang tunggu aku di gerbang sekolah ya," ucap Ferzo.


"Iya." angguk Syahila.


Bel pun berbunyi nyaring menandakan jika waktunya para murid untuk masuk kelas.


"Berapa Bude?" tanya Ferzo.


"50 ribu," jawab pemilik kantin.


Ferzo merogoh kantong dan memberikan selembar uang.


"Terima kasih ya," ucap bude.


"Sama-sama Bude." Ferzo dan Syahila pun pergi meninggalkan kantin dan pergi kembali ke kelas.


[Ding Ding]


[Saldo Anda di kurang 50.000]


[Sisa saldo Anda 287.100.000]


"Ya udah aku masuk kelas dulu, sampai ketemu nanti," ucap Ferzo.

__ADS_1


"Oke," jawab Syahila tersenyum. Mereka pun menuju kelasnya masing-masing.


Meskipun mereka sama-sama kelas 2, akan tetapi Syahila berada di kelas Xl A sedangkan Ferzo ada di kelas Xl H. Sekolah itu sangat ramai muridnya, kelas X saja ada 10 lokal dan begitu seterusnya, dan di sana ada ribuan murid.


"Ferzo pun masuk kelas, ada beberapa wajah yang tidak menyukai keberadaannya.


"Melihat wajahnya sungguh menyebalkan!" sungut Yuli.


Saat Syahila masuk ke kelasnya, Adrian menghampirinya. "Syahila, kalau boleh tau laki-laki tadi siapanya kamu?" tanya Adrian tersenyum, ia berusaha membunyikan rasa kesalnya dengan menutupinya dengan senyuman palsu.


"Oh, dia itu teman aku," jawab Syahila tersenyum.


"Ooo, tapi kayaknya kalian dekat banget," ucap Adrian bersender di konsen pintu masuk.


Yang tadi wajahnya tersenyum, tapi sekarang berubah menjadi datar. Sungguh tidak enak di dengar dari telinganya.


"Yang kamu suka dari dia apa?" tanya Adrian lagi dan berusaha mengontrol emosinya.


Syahila menekuk alisnya. "Kenapa kau sangat ingin tahu?" tanya Syahila merasa ada yang aneh dengan Adrian.


"Hanya penasaran saja, kenapa kau lebih memilih ingin mengobrol dengan dia di banding denganku," jawab Adrian mengangkat bahunya.


"Kan sudah aku katakan tadi jika Ibuku akan bekerja di cafe dia, otomatis aku akan sering bertemu dengan dia, lalu untuk apa aku menghindarinya," ucap Syahila merasa terganggu.


"Bagaimana jika Ibu mu bekerja di perusahaan Papaku saja? Apa kita akan terus bertemu?" tanya Adrian.

__ADS_1


"Mana mungkin Ibuku akan diterima di sana, ibuku tidak bersekolah, mana ada perusahaan memperkerjakan orang yang tidak mengenyam pendidikan seperti ibuku," jawab Syahila menatap Adrian tajam.


"Tentu saja jadi Office Girl," jawab Andrian sekenanya.


"Ibuku sudah cukup menjadi pembantu, aku sebagai anaknya siapa yang akan tega membiarkan ibunya menjadi pesuruh orang, setidaknya jika dia mendapatkan pekerjaan ini meskipun di bawah naungan orang, tapi ia bekerja dengan hobi sendiri, ia bisa menyalurkan bakat masaknya di sana, ia bisa mengembangkan ide-ide yang tidak bisa ia kembangkan selamanya ini karena keterbatasan uang, di sini ada keuntungan untuk dirinya dan keutungan untuk orang lain juga," jelas Syahila panjang lebar.


"Baiklah kalau begitu, aku akan meminta Papa ku mencari pekerjaan yang bagus untuk Ibumu," ucap Adrian yakin.


"Lupakan itu, menjadi OB di sebuah perusahaan saja setidaknya tamat SMA, ibu ku tidak pernah sekolah bagaimana ia bisa di tempat di pekerjaan bagus, jika tidak ingin perusahaan Papamu hancur, lebih baik lupakan saja itu," ucap Syahila masuk ke dalam kelasnya.


"Sial! Dia semakin sombong saja, lihat saja nanti, aku akan menghancurkan tempat usaha milik orang yang kau sukai itu, aku juga akan menghancurkan mu!" ucap Adrian geram. Ia kembali ke kelasnya dengan wajah kesal. Teman-temannya menghampiri Adrian.


"Ada apa Bro? Kok jutek gitu muka kamu?" tanya temannya saat melihat wajah Adrian yang merah padam itu.


"Syahila! Lihat saja kamu Syahila karena menolak ku secara terang-terangan begini, jika aku tidak bisa mendapatkannya, maka orang lain juga tidak bisa mendapatkannya.


"Bro, cinta itu tidak bisa di paksa, mungkin itu bukan jodoh kamu," sahut temannya.


"Tidak bisa! Sesuatu yang aku ingin kan harus aku dapatkan, jika aku tidak bisa mendapatkan jangan harap yang lain juga mendapatkannya. Jika perlu aku hancurkan mereka saja sekalian!" geram Adrian dengan mengepalkan tangannya dengan wajah memerah.


Teman-temannya saking berpandangan, bagaimana tidak, orang kaya seperti Adrian sekalipun ia berbuat masalah, akan tetapi ada Papanya yang membereskan dengan uang, Adrian menjadi seperti di manja dan tidak ada yang marah jika ia melakukan kesalahannya, mentalnya malah seperti terganggu, ia bisa berbuat seenaknya tanpa memikirkan resikonya, tapi ia cukup menikmati hidupnya.


Bu guru pun masuk ke kelas Ferzo menandakan jika pelajaran akan segera di mulai.


"Ayo anak-anak buka buku hal 56," ucap buk guru.

__ADS_1


__ADS_2