
Setelah selesai mandi, ia pun segera berganti pakaian. Sore ini ia ingin melihat mata hari tenggelam. Ada sebuah tempat yang biasa para pengunjung datang, dan Ferzo ingin datang ke sana.
Biasanya ia selalu melihat matahari tenggelam di sebuah gubuk penjaga kambingnya dulu. Jika sudah terlihat warna jingga di langit, ia berlari ketengah lapang padang rumput itu sambil membawa kertas untuk melukisnya bersama kambing-kambing peliharaannya.
Tapi kali ini berbeda, ia pergi bersama dua anabul yang lucu dan imut, Ferzo pun mengikat leher anabulnya dengan rantai besi tapi tidak mencekiknya. Ia pun memasukkan ke dalam mobilnya dan ia pun menancap gas mobil dan melaju.
"Kalian di tempat ramai nanti jangan nakal ya, jangan lari sana lari ini," pesan Ferzo.
Dua anabul itu malah menguap dan membaringkan kepalanya di atas kursi penumpang dan bermalas-malasan.
Tak lama kemudian, ia pun sampai di tempat itu, tempatnya sudah ramai yang sudah menunggu matahari terbenam. Rasanya sedikit canggung karena ini adalah baru pertama datang di tempat keramaian dan banyak orang asing. akan tetapi ia harus membiasakan diri hidup di tempat keramaian, jika ia malu-malu bagaimana nanti jika ia jadi bos cafe dan menghadapi para karyawannya nanti.
Ferzo membawa keluar kedua anabulnya dan mereka terlihat aktiv.
"Hey! Hey! Sudah aku katakan tadi jangan liar!" seru Ferzo karena dua ekor bocah itu ingin berlari.
Ferzo mengendong dan membawanya duduk di lapangan yang bersih itu untuk menyaksikan matahari terbenam.
__ADS_1
"Wih ... anabulnya lucu sekali." 3 orang gadis datang mendekat dan mengelus kepala Cimot dan Comot. Kedua ekor hewan itu malah ingin mengikuti gadis itu.
"Sepertinya dia menyukai ku, bolehkah aku menggendongnya sebentar, aku akan duduk di sana," ucap gadis itu menunjukkan lapangan yang ada di depan Ferzo.
Dengan terpaksa Ferzo mengangguk.
Kedua ekor itu di bawa oleh para gadis itu dan mereka duduk di depan Ferzo sambil tertawa renyah, mereka sangat menyukai Comot dan Cimot.
"Dasar bocah-bocah pengkhianat! Giliran dengan ku kalian mau kabur, eh giliran ada cewek cantik kalian diam!" umpat Ferzo dengan suara pelan menata tajam kedua ekor yang di peluk oleh para gadis itu.
"Dek mau kopi." seorang bapak-bapak pedagang kopi keliling mencolek bahu Ferzo.
"Ini ada gorengan juga masih anget, baru di goreng," ucap bapak itu memperlihatkan gorengan di dalam tapurwer putih.
"Eh, aku mau 10 buah, tapi tahu sama bakwan aja ya pak," pinta Ferzo.
"Baik, sebentar ya," bapak itu menurunkan dagangannya dan membuat kopi hitam lalu mengambil 10 buah gorengan dan memasukkan ke dalam plastik.
__ADS_1
"Berapa pak?" tanya Ferzo merogoh kantongnya.
"15 ribu," jawab bapak itu. Ferzo mengeluarkan uang 100 ribu dan memberikan kepada bapak itu.
"Ambil saja kembaliannya," ucap Ferzo.
"Terima kasih banyak Dek," ucap bapak itu senang, ia menempelkan uang itu keningnya sebagai tanda keberuntungan lalu memasukan ke dalam saku celananya.
"Sama-sama." angguk Ferzo.
Bapak itu pun pergi lagi berjalan berharap ada yang membeli kopinya, biasanya di tempat seperti ini para pedagang akan laris dagangannya.
[Ding Ding]
[Saldo Anda di kurang 100.000]
[Sisa saldo Anda 8.900.000]
__ADS_1
Ferzo meminum kopi hitam itu sambil melihat anabulnya.
"Ah panas! Panas! Panas!" teriak Ferzo mengipas-kipaskan lidahnya yang seperti terbakar itu.