
'Kasian Syahila, apa aku belikan ponselnya saja ya,' batin Ferzo melihat Syahila yang sedang melahap makanannya dengan menundukkan kepala karena malu.
"Kamu lahir tahun berapa?" tanya Ferzo sambil melahap makanannya.
"Hm ... kenapa?" tanya Syahila memberhetikan makannya sejenak.
"Tidak ada, mana yang paling tua antara kita, maksudku bukan apa-apa sih," jawab Ferzo menggaruk dagunya.
"Aku lahir 2007, bulan April tanggal 14," jawab Syahila.
"Hm, jarak kita nggak jauh, duluan aku lahir, aku Februari tanggal 1," ucap Ferzo. Syahila mengangguk-angguk.
"Ayo makan lagi, nanti aku antarkan kamu pulang ya," ucap Ferzo. Mereka pun melahapnya dengan cepat.
Setelah selesai makan, Ferzo membersihkan meja dan membuangnya ke tong sampah.
"Sebentar ya, aku tidurin para bocah-bocah ini dulu." Ferzo membawa kedua anabulnya ke rumah barunya dan membaringkannya di atas kasur.
Syahila mengikuti Ferzo dan ikut duduk di kasur itu dan melihat sekeliling kamar anabulnya.
'Bahkan kamar Anabulnya aja lebih bagus dari rumahku,' batin Syahila.
Ferzo mengelus kepala Cimot dan Comot agar ia mereka tidur, dengan begitu Ferzo bisa pergi dengan tenang meninggalkan mereka nanti.
__ADS_1
Setelah anabulnya tidur, Ferzo pelan-pelan menutup pintu agar mereka nggak terbangun.
"Ayo aku anterin kamu pulang," ajak Ferzo. Syahila mengangguk. Ferzo menutup pintu dan mereka masuk ke dalam mobil.
Perlahan-lahan mobil pun meninggalkan rumahnya dan menuju rumah Syahila.
"Ibu kamu di mana?" tanya Ferzo membuka pembicaraan.
"Di rumah."
"Nggak bikin kue?"
"Kan kue yang di jual ibu itu punya orang, nanti dapat untung bagi dua," jawab Syahila.
"Hm … nggak tau juga, Ibu nggak pernah bilang sama aku mau usaha apa," jawab Syahila mengangkat bahunya.
"Oh iya, ibu kamu bisa masak apa aja? Misalnya bisa bikin goreng ayam tepung atau apalah gitu?" tanya Ferzo ingat sesuatu, saat ini cafenya butuh orang untuk bekerja.
"Hm … bikin ayam tepung bisa sih, bikin burger juga seingat ku bisa." Syahila mencoba mengingat-ingatnya.
"Nah kebetulan banget, cafe aku belum ada karyawan, jadi kalau mau ibu kamu jadi karyawan di cafe ku, aku pasti akan menerimanya," ucap Ferzo.
"Beneran?" tanya Syahila terbelalak.
__ADS_1
"Iya, Ibu kamu mau nggak?" tanya Ferzo.
"Ibu aku pasti mau banget tuh," jawab Syahila dengan mata berbinar.
"Iya, semoga saja," jawab Ferzo mengangguk. Melihat sebuah konter, Ferzo membelokkan mobilnya dan menuju konter tersebut lalu berhenti di sana.
"Ayo turun," ajak Ferzo.
"Mau ngapain?" tanya Syahila bingung.
"Udah, ayo saja," ucap Ferzo membuka sabuk pengamannya dan keluar dari mobil, mereka pun mendekati konter itu dan berdiri di depannya.
"Kamu pilihlah mau ponsel yang mana," ucap Ferzo kepada Syahila.
"Ha?" Syahila masih kebingungan.
"Udah, kamu pilih ponsel mana yang kamu suka, anggap saja ini hadiah ulang tahun mu," ucap Ferzo tersenyum.
Syahila jadi canggung, ia merasa tak enak hati, malah terlihat dirinya matre.
"Eh, nggak usah, kado ulang tahun ku kamu bisa beri yang lain aja, misalnya gantungan kunci aja gitu," jawab Syahila panik.
"Haishh … sudahlah kalau begitu aku saja yang pilih," ucap Ferzo melihat-lihat isi steling kaca yang berisi ponsel yang di pamerkan.
__ADS_1