
"Ck! Orang tua mu saja dapat harta dari mana memangnya aku pernah kepo, siapa yang tahu itu hartanya dari mengelapkan uang Negera," sahut Ferzo melipat tangannya sambil mencibir.
"Sial! beraninya bicara seperti itu! Dasar kau miskin!" teriak Yun marah.
"Kenapa kau marah? Jika Ayah mu tidak melakukannya ya sudah, dan aku beri tahu kepada kalian semua, aku memiliki motor dan benda lainnya karena aku punya saham di perusahaan game online yang sedang viral saat ini, jika kalian tidak percaya, aku punya buktinya transaksi pembayaran dari perusahan game onlinenya," ucap Ferzo yakin.
Ferzo mengambil ponselnya dan memperlihatkan transaksinya.
"Berikan pada ibu," ucap Bu guru. Ferzo berjalan mendekati bu guru dan memberikan ponselnya.
Buk guru pun melihatnya dan terbelalak.
"Kamu ikut Investasi emas juga ya?" tanya bu guru dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Ya Buk." angguk Ferzo.
"Wah ... di sini kamu sudah mendapat keuntungan dan kamu bertransaksi lagi, jika seperti ini kamu beneran kaya mendadak nih, kamu ajarin ibu donk, gimana biar bisa menanam saham, kamu kalo kaya jangan sendiri-sendiri donk," ucap ibu dengan mengedip-kedipkan matanya.
"Eh iya, nanti saya ajarkan," jawab Ferzo merasa tak enak hati, emang menanam saham dan mendapat keuntungan, tapi itu tidak banyak dan langsung beli rumah, rumah yang ia dapatkan dari system', setidaknya ia punya alasan jika ia mendapatkan ini hasil menanam saham.
"Baik, di sini sudah jelas jika Ferzo mendapatkan hartanya dari menanam saham, dan untuk Yun, karena kamu sudah memfitnah teman sekelas kamu atas nama pencemaran nama baik maka kamu akan di skors selama 3 hari, kamu masih bersyukur jika Ferzo tidak melaporkan mu ke polisi, ini kita berdamai saja karena sesama teman. Tidak apa-apa kan Ferzo," ucap Bu guru melihat Ferzo.
"Tidak apa-apa Buk." angguk Ferzo menyengir.
"Baiklah untuk Yun, kamu silakan pulang, ibu akan menghubungi orang tua mu masalah ini," ucap buk guru.
Yun menatap Ferzo penuh dendam, ia mengambil tasnya dan melangkah keluar dari kelas dengan kesal.
__ADS_1
Mul dan Iyan saling berpandangan, tidak ada induk mereka lagi, sekarang apa yang bisa mereka lakukan?
"Baiklah, pelajar kita mulai," ucap Bu guru.
****
Bel pun berbunyi menandakan waktu pulang sekolah. Iyan mendekati Ferzo meskipun takut-takut, ini semua demi gamenya.
"Hm … anu … Ferzo. Bolehkah kau kembalikan game ku? Aku … aku sangat membutuhkan game itu," ucap Iyan menundukkan kepada, ia tak berani menatap wajah Ferzo.
"Ah aku hampir melupakan itu, hm … begini, sepetinya game mu itu sangat berarti jika begitu ambil di rumah ku, aku lupa membawanya," ucap Ferzo naik ke atas motornya.
"Di mana rumah mu?" tanya Iyan dengan polosnya.
__ADS_1
"Tidak jauh dari sekolah, kau lihat rumah yang mewah lantai 2 itu yang tidak ada tetangga kiri kanannya, yang warnanya putih seputih hatiku donk pastinya, nah itu rumah ku," ucap Ferzo mengstater motornya dan melaju meninggalkan Iyan dan Mul.
Mereka melongo mendengar rumah yang di katakan Ferzo. Akhirnya mau tak mau Iyan pun setuju dari pada ia tidak mendapatkan gamenya, ia juga tahu apa yang akan di lakukan Ferzo padanya.