
Iyan mendengus kesal dan ia pun kembali ke tempat duduknya, dan melihat Ferzo dengan tatapan tajam.
"Ya sudah, kita mulai pelajarannya," ucap Bu guru.
Pelajaran pun di mulai.
"Kenapa bisa PS mu sama dia?" bisik Yun.
"Dia mengambil tas ku dan mengambil PS ku, kau juga, sudah tau aku di tangkap kenapa kau tidak menolongku dan malah kabur meninggalkan ku, apa kau masih di sebut teman?" sindir Iyan mengatup kedua mulutnya.
"Mau bagaimana lagi, dia terlalu kuat akhir-akhir ini, aku tidak tahu dia dari mana dapat keberanian dan kekuatan itu, dia juga semakin banyak uangnya, jika hanya menjual kambing mana mungkin ia punya uang banyak, secara jual kambing juga tidak mahal-mahal amat, apa jangan-jangan dia sekarang jadi pengedar barang haram?" tebak Yun.
"Mari kita buat cerita agar dia di keluarkan dari sekolah," ucap Yun tersenyum. Iyan mengangguk setuju.
****
Suara bel pun berbunyi, menandakan jika waktunya pulang sekolah. Iyan kembali mendatangi Ferzo.
"Ferzo, kembali PS ku," ucap Iyan. Yun dan Mul juga datang mendekat.
"Sudah aku katakan, jika kau menginginkan PS mu kembali, kau harus memukul kedua teman mu babak belur, jika tidak jangan harap aku mengembalikannya," ucap Ferzo menyengir.
"Jika kau tidak mau kembalikan PS ku, maka jangan menyesal nanti, lihat saja, kau bahkan di keluarkan dari sekolah, bahkan di penjara," ancam Iyan.
"Ck! Kalian mengancam ku? Kalau gitu aku akan mengikuti permainan kalian saja, jika sampai aku di di keluarkan dari sekolah itu tidak masalah dengan ku, tapi jika aku sampai di penjara, aku juga akan membawa kalian ke dalam untuk menemaniku," ucap Ferzo.
__ADS_1
Mereka berdelik ngeri jika beneran jika dia masuk penjara karena fitnah mereka, maka ini akan membuat mereka dalam bahaya juga.
"Ah! jangan dengarkan dia! Dia hanya menggertak, tenang saja, Ayahku banyak uang dan bisa mengeluarkan kita," ucap Yun menenangkan Iyan.
"Iya, ya sudah kita tinggalkan dia," ucap Iyan melihat Ferzo tajam dan akhirnya mereka pun memilih pergi.
Ferzo menuju parkiran dan naik ke atas motornya dan melajukan motornya di jalanan, hari ini ia harus pergi melihat tanahnya.
Yun dan kedua temannya pulang ke rumah Yun, dan mereka berkumpul di dalam kamar Yun untuk membuat rencana.
"Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Iyan.
"Sini mendekatlah," ucap Yun, mereka pun berbisik dan sambil mengangguk-angguk.
[Klik]
Ferzo melihat di systemnya dan melihat lokasi tanahnya dan posisi serta patokan agar tidak mengenai tanah orang.
"Jadi ini tanah ku? Ini luas banget," ucap Ferzo bercekak pinggang melihat tanahnya yang luas.
Tanah itu datar, itu juga sangat bersih tanpa ada rumput.
"Hm … sepertinya aku harus segera menabung agar bisa bangun rumah. Wah memikirkannya saja aku sudah sangat senang," ucap Ferzo tersenyum.
Akan tetapi ia mengingat ada dua bocah di rumah, ia harus segera pulang, takutnya jika tidak ada dirinya maka mereka pasti akan berantem.
__ADS_1
Ferzo pun bergegas melajukan motornya dan menuju rumahnya.
"Cimot, Comot, aku pulang," ucap Ferzo membuka pintu dan melihat kedua peliharaan itu terkapar.
"Hey! kalian kenapa?" tanya Ferzo panik, ia memeluk mereka dan memeriksa keadaan mereka takutnya jika mereka kenapa-napa.
"Meong."
"Ya ampun, kalian ini membuat aku cemas saja, rupanya cuma kekenyangan, apa aku terlalu banyak memberi kalian makan membuat kalian terkapar begini?" tanya Ferzo tersenyum dan ia pun mengelus kedua ekor anabulnya itu.
Tapi Ferzo seperti mencium bau sesuatu, jika di endus itu tercium dari dapur. Perasaan semalam ia tidak mencium bau ini. Ferzo pun memeriksa dapurnya dan mendapati kotoran kedua anabulnya itu.
"Cimot! Comot!" teriak Ferzo mengengam tangannya. Kedua ekor peliharaannya itu lari pontang patung, binggung mau bersembunyi di mana, pintu juga tertutup sehingga mereka hanya bisa berlari dan berputar-putar saja.
"Haishh … sudahlah, kalian tenanglah dan duduk," perintah Ferzo. Kedua anabul itu pun duduk menurut.
Ferzo mencari sesuatu untuk membersihkan kotoran itu lalu membuangnya.
"Siapa suruh kalian terlalu imut, jika tidak sudah ku potong kalian buat makan harimau," keluh Ferzo.
Ferzo masuk ke dalam kamar mandi dan segera mandi lalu berganti pakaian. Ia pun berbaring di kasur untuk melepaskan lelah.
Kedua anabul itu berlalu manja di hadapan Ferzo dan minta di elus kepalanya.
"Kalian ya, sudah buang kotor sembarangan dan sekarang berlaku manja sekarang, bilang saja jika kalian takut di pukul bokongnya." Ferzo mengacak-acak bulu yang lembut itu.
__ADS_1