System Level Up Super Rich

System Level Up Super Rich
BAB 29


__ADS_3

"Kamu jangan gitu donk, aku berapa kayak orang jahat yang udah menindas mu," ucap Ferzo. Syahila terdiam.


"Ha-ha-ha lupakan itu, kamu pegang kotak makanannya yang erat, nanti terbang di bawa angin," ucap Ferzo tertawa. Syahila tersenyum. Ia merasa benar-benar punya teman yang bisa di ajak ngobrol dan bercanda. Selama ini biasanya ia selalu menghindar untuk berbicara dengan para pria karena mereka pasti isi pikirannya mesum.


"Masuk gang ini," ucap Syahila menunjuk di depannya ada sebuah gang kecil.


Ferzo membelokkan motornya dan masuk gang itu yang di terangi lampu jalan.


"Rumah kamu di mananya?" tanya Ferzo.


"Rumah yang paling jelek pokoknya," jawab Syahila.


"Jangan gitu donk, jelek-jelek itu rumah orang tuamu, kamu mah numpang," jawab Ferzo bercanda.


"Iya sih," jawab Syahila mengangguk-angguk.


"Ini rumahnya," ucap Syahila menunjuk rumahnya yang hanya di sulam dengan bambu, hanya ada satu lampu di ruang tamu saja.


Terlihat seorang wanita paruh baya keluar dari rumah.


"Ibu." Syahila turn dari motor dan menghampiri ibunya dan mencium tangan ibunya. Ferzo juga turun dari motor dan ia sempat bingung harus panggil siapa.


"Bibi, selamat malam," ucap Ferzo mengulurkan tangannya. Ibu Syahila membalasnya dan Ferzo mencium tangan ibu Syahila.

__ADS_1


"Selamat malam," jawab ibu Syahila sedikit merasa canggung.


"Ibu, dia Ferzo, teman satu sekolahan. Oh ya, dia bawakan makanan, katanya mau makan bersama ibu di sini," ucap Syahila.


"Oh, ayo masuk," ajak ibu Syahila.


"Iya Bi." angguk Ferzo.


"Sana ambilkan piring," ucap ibunya. Syahila pergi ke dapur mengambilkan piring lalu meletakkan di tengah-tengah ruang tamu yang sangat sederhana itu, tapi sangat bersih.


"Beginilah keadaan rumah Syahila, tidak seperti rumah orang lainnya," ucap ibu Syahila merendah.


"Tidak apa-apa, asalkan bisa di tempati, dan bisa berteduh," ucap Ferzo.


"Ayo makan," ucap ibu Syahila. Terlihat sekali jika ibunya sangat ingin melahapnya, setalah makanan itu masuk ke dalam mulutnya, ia mengangguk-angguk.


"Ibu tidak pernah memakan makanan ini, sangat enak," ucap ibu Syahila tersenyum.


"Makan yang banyak ya Bi," ucap Ferzo.


Mereka pun melahap makanannya sampai habis dan kekenyangan. Mereka pun mengobrol biasa sehingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 21:00 WIB.


"Hm … Bi, aku pamit dulu ya, hari juga sudah tambah malam," ucap Ferzo.

__ADS_1


"Oh iya, iya, terima kasih banyak ya atas makanannya, Bibi minta jagain Syahila ya, Bibi benar-benar khawatir pada Syahila, Bibi juga nggak mau lahirin anak yang cantik jika dia malah jadi sorotan orang-orang yang tak bertanggung jawab," pinta ibu Syahila.


"Pasti Bibi." angguk Ferzo mantap.


Ferzo pun naik ke atas motornya. "Aku pergi dulu Bi," ucap Ferzo mengklakson motornya.


"Iya, hati-hati di jalan ya," pesan ibu Syahila. Ferzo mengangguk dan meninggalkan rumah Syahila.


[Ding Ding]


[Misi baru]


[Menolong seorang ibu-ibu yang dompetnya tercecer di jalan]


[Hadiah 5.000.000]


[Status misi: Sedang berlangsung]


Saat mendengar menemukan dompet Ferzo langsung merasa ngeri sedap, karena ia masih terasa pukulan maut itu akibat sebuah dompet. Tapi tidak masalah baginya, saat ini ia harus mengerjakan misi.


Motor pun terus berjalan dan terlihat seorang ibu-ibu sedang mencari dompetnya dengan menggunakan senter bersama 2 orang anak laki-lakinya yang berumur 20 tahun, karena anaknya itu kembar.


Ferzo pun memberhentikan motornya.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu Bu?" tawar Ferzo, ia pura-pura nanya, nggak mungkin kan jika dia tiba-tiba tahu jika ibu itu kehilangan dompetnya, malah mereka berpikir jika dia mencuri dompet ibunya.


__ADS_2