
"Dia adalah Yundar Fajar, anak dari Pak Yusen Fajar. Yusen Fajar adalah orang kaya, seorang CEO perusahaan FJ grub, tidak tahu kenapa anaknya malah tukang fitnah dan tidak seperti orang kaya terdidik lainnya. Dia kan yang memfitnah cafe ku kalau cafe ku mengunakan formalin, sekarang kamu tunjukkan ke orang-orang kalau cafe ku pakai formalin," ucap Ferzo.
Orang-orang segera memvideokan masalah ini lalu memviralkannya di media sosial.
Yun berusaha melepaskan tangannya dari Ferzo, ia menatap tajam Ferzo. Akan tetapi itu tidak lepas dari tangannya, genggaman tangan Ferzo sangat kuat dan tangannya sangat sakit.
"Cepat katakan, di mana buktinya jika cafe ku ada formalinnya, kalau tidak ada katakan pada mereka semua jika kamu yang salah dan minta maaflah. Kalau tidak, aku tidak akan melepaskan mu, bahkan sampai Ayah mu mencari pun aku tidak akan melepaskan mu!" ancam Ferzo.
"Lepaskan!" teriak Yun.
"Katakan dulu kalau kamu bersalah, kalau kamu tidak mau dengan terpaksa aku akan melaporkan mu ke kantor polisi atas kasus nama pencemaran nama baik, usaha yang baru saja ku bangun dengan merintis malah kau rusak begitu saja, aku tak terima. Lebih baik kau katakan sekarang atau kita bicara di kantor polisi, ayah mu pasti akan malu jika melihat anaknya di kantor polisi. Kau bisa memilihnya sekarang. Ku hitung satu sampai sepuluh, aku sedang tidak bermain-main Yun, itu terserah pada mu lagi," ucap Ferzo.
"Satu … dua … tiga … empat … Lima … enam … tujuh."
__ADS_1
"Baiklah! Baiklah! Aku yang salah, aku minta maaf!" teriak Yun yang sudah malu.
"Kamu kalau minta maaf yang tulus donk, kalau marah-marah begini ini bukan minta maaf, tapi sedang memarahi orang," ucap Ferzo.
Wajah Yun memerah, tercampur aduk antara malu, kesal, marah dan geram.
"Aku minta maaf dengan setulusnya, aku yang salah, sebenarnya tadi aku hanya ingin bercanda saja, sebenarnya tidak ada apa-apa di sana," ucap Yun pelan, tapi sebenarnya ia menahan emosi.
"Nah gitu donk, api asal kamu tau, dengan meminta maaf saja itu tidak akan bisa membuat cafe ku kembali ramai seperti semula."
"Ayo masuk dulu, kau bisa mencicipi masakan cafe ku," ucap Ferzo menarik Mul dan Yun masuk ke dalam.
"Maaf ya kakak, adek, Mak, Abah, Abang harap bubar ya. pertunjukkan sudah selesai," ucap Syahila mengatup kedua tangannya.
__ADS_1
Mereka pun satu persatu bubar, mereka pun masuk ke dalam.
"Kalian berdua, bereskan dapur, jika tidak jangan harap kalian bisa pulang," ucap Ferzo mendorong Yun dan Mul ke dapur.
"Apa kamu bilang! Aku tidak mau!" ucap Yun melipat tangannya dan membuang wajahnya.
"Oh tidak mau ya, jika begitu tinggallah di sini selama-lamanya, aku akan menunggu mu di sini sampai selesai.
"Oh begitu ya, baiklah aku akan membereskannya," ucap Yun menyengir sambil tersenyum sinis, ia menarik Mul dan berbisik-bisik.
Terlihat mereka menyengir dan tersenyum dengan akal bulusnya, mereka pun merusak seluruh barang-barang makanan milik Ferzo. Mereka mengoyak-ngoyak bungkus tepung dan menginjak-injak sayuran milik Ferzo.
"Hey! Apa yang kau lakukan!" teriak Syahila geram. Ferzo menghalangi Syahila.
__ADS_1
"Biarkan saja mereka bermain sepuas hati," ucap Ferzo tersenyum.