
Dilain sisi bi inah... dengan setia menemani Luna.. Sudah tiga hari.. bi inah menjaga Luna sendirian..
terkadang Arman sang asisten sesekali.. datang menjenguk menggantikan Bi inah supaya istirahat...
Luna yang tengah mengandung dan belum adanya keputusan dari sang suami.. Luna hanya mendapat vitamin buat sang jabang bayi..
"Nak Arman.. sebenarnya kenapa dengan tuan Rehan.. kenapa tuan tidak pernah mengunjungi Luna...? " tanya Bi inah yang bingung dengan sikap Tuan Rehan
" Entah lah bi.. semua pekerjaan kantor juga sekarang aku yang hendel... berasa aku yang punya kantor... lama lama.. aku bisa gila bi... " keluh Arman. .
" tuan.. tolong bujuk.. tuan Rehan supaya.. kesini... siapa tau.. dengan kedatangan tuan Rehan.. non Luna akan siuman.. "
" baik bi.. aku akan berusaha membujuk tuan Rehan.. " ucap Arman... dan segera pergi..
Setelah kepergian Arman.. Bi inah.. menyeka.. tubuh Luna dengan air hangat.. supaya terlihat segar..
Seketika Bi inah.. menangis melihat tubuh Luna yang lebam lebam
" nak.. aku mohon.. bangun lah... apa kau akan menyerah begitu saja... aku mohon bangunlah.. demi anak yang ada dikandunganmu.. " mohon bi inah.. sambil menangis...
__ADS_1
" aku mohon... bangun lah.. setidaknya jawab pertanyaan ku.. aku tak membutuhkan suara monitor.. aku mohon bangun.. " ucap Bi inah frustasi sambil menunjuk layar monitor.. pendeteksi jantung..
Dilain tempat... Rehan masih menggunakan baju yang sama saat mengantar istrinya kerumah sakit.. dan masih setia didalam kamar.. dengan memeluk selimut Luna yang terkena bercak darah yang sudah mengering..
bahkan.. Arman yang datang pun.. tak dihiraukan.. oleh Rehan.. dibiarkan terus saja berbicara seperti penyiar radio.. tanpa iklan..
" heeyy.. apa aku datang kesini hanya untuk melihat Rehan yang seperti mayat hidup... ayo kita kerumah sakit.. istri kecilmu.. dan buah hatimu sedang menunggumu... " teriak Arman
Namun Rehan tetap terdiam.. seribu bahasa.. hanya air mata yang sesekali mengalir membasahi bantal.. dan membuat pulau disana..
Arman yang sudah kehabisan kesabarannya akhirnya menarik Tubuh Rehan... dan menyeretnya keluar kamar...
" istri kecilmu menunggumu... "
" biarkan dia menunggu... " jawab Rehan tak malas ganas
Seketika Arman yang. en dengar jawaban majikannya langsung emosi.. dan memukul dengan kepalan tangannya..
" dimana.. majikanku.. yang keras kepala.. dan hebat itu.. kenapa kau jadi begini.. ayo cepat kerumah sakit..kau bahkan seperti bubur ayam.. yang lembek.. dan tak laku dijual.. " ucap Arman geram
__ADS_1
Sedangkan RehN yang mendapatkan pukulan mendadak dari Arman.. langsung terhuyung kebelakang..
" biarkan dia menunggu... setidaknya dia masih aman disana.. " jelas Rehan..
" kau.. akan menyesal tuan... " jelas Arman..
" setidaknya.. aku tidak akan memilih disana.. karna aku tak sanggup harus memilih siapa yang harus aku pertahankan.. sudah cukup sekali bagiku kehilangan anak... dan aku tak mau kehilangan buah hatiku lagi.. dan dan aku juga tak sanggup harus kehilangan istri kecilku.. kalau kau jadi aku.. siapa yang akan kau pilih.. haa... aku sudah berfikir selama ini tapi.. tetap aku tak bisa memilih.. aku harus bagaimana..? " jelas Rehan panjang lebar... air matanya kembali jatuh.. bagaikan air terjun..
Rehan pun menangis kembali.. dan mendudukan bokongnya dilantai.. rumah, dan mengusap kasar wajahnya..
" aku harus bagaimana...? . . " ucap Rehan..
Sedangkan Arman yang melihat bosny menangis pun.. hanya terdiam.. bingung harus.. menjawab apa... karna baginya.. Arman belum pernah mencintai.. taupun kehilangan orang yang disayanginya...
.
.
bersambung... ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1