Takdir Luna

Takdir Luna
AIR MATA...


__ADS_3

Sasa yang melihat Rehan menangis, akhirnya pergi meninggalkan Rehan sendirian..


Dilain sisi.. Rangga yang menerima telfon memperlihatkan senyum dibibirnya yang tak bisa diartikan.


" Kenapa kau tersenyum.. sayang? " tanya seorang gadis yang sedang menempel pada tubuh Rangga.


" Sesuatu yang menyenangkan... " Jawab singkat Rangga dan melanjutkan minumnya..


Dirumah sakit Rehan masih terduduk dikursi.


" Tuan Rehan... " sapa salah satu dokter yang keluar dari ruangan rawat Bayu


" Iya... "


" Ayah.. anda sudah siuman, tapi keadaannya harus diperhatikan, sekali lagi dia mendapatkan tekanan bisa berakibat fatal" ucap dokter panjang Rehan


Rehan yang mengerti pun menganggukan kepalanya tanda mengerti setiap intruksi yang diberikan..


" Kalau begitu saya permisi... " ucap dokter yang menangani Bayu


" Tuan... luna.. luna bagaimana? " tanya Bayu


yang melihat Rehan masuk ke ruangannya


" Dia sudah ditangani dokter"

__ADS_1


" cucuku bagaimana? "


Deg... bagai disambar petir Rehan tak bisa menjawab pertanyaan Bayu.


" dia... dia.. "


" Tuan... aku tak mempermasalahkan tuan jika membenci ku, saat luna kau bawa pergi, dan melampiaskan kemarahanmu pada luna.. aku sangat marah padamu, tapi aku masih bisa memaklumi nya.. tapi dengan calon cucuku bahkan yang baru berumur beberapa minggu, kau pun begitu tega mengambil nyawanya, aku Bayu tidak akan pernah memaafkanmu, selepas Luna siuman aku akan membawanya, dan menyuruhnya bercerai denganmu.


Rehan yang mendengar ucapan Bayu hanya bisa mengepalkan tangannya keras keras. menahan amarah dengan ucapan Bayu yang menyuruh Luna menceraikannya


" aku tidak akan pernah melepaskan Luna, dengan kondisi apapun dan sejelek apapun Luna aku tidak akan melepaskannya, sebelum rasa dendamku padamu hilang" Jawab Rehan dan berlalu pergi kekamar Luna.


" Seandainya aku kaya aku dan Luna tak akan mengalami semua ini... " Batin Bayu meratapi kehidupan yang dia alami.


" Kenapa aku tak rela saat ayahmu meminta dirimu menceraikan ku.. " Batin Rehan dengan kedua bola mata masih setia menatap Luna yang masih terlelap.


Tanpa aba aba kini tangan Rehan sudah menggenggam tangan Luna.


Saat tangan Rehan memegang tangan Luna. Rehan menyadari ada bekas luka ditelapak tangan luna.


" Bekas luka apa ini.. kenapa sangat dalam.. " Batin Rehan saat lebih teliti melihat luka Luna.


sepersekian detik Rehan teringat disaat Luna baru datang ke rumahnya dan memecahkan gelas, disaat itu lah Rehan menginjak telapak tangan Luna yang sedang membersihkan serpihan gelas.


Kemudian dengan perlahan Rehan membuka sedikit baju Luna. disitulah Rehan melihat tubuh Luna yang hampir penuh dengan perban, menutupi luka bekas cambukan darinya.

__ADS_1


" Kenapa aku tak bisa mengontrol diriku, begitu sakitkah hingga kau tak mau bangun dan melihatku lagi" Batin Rehan setelah melihat Luna, dan kembali memperbaiki baju Luna.


Tanpa terasa air mata Rehan menetes dan jatuh dipipi Luna.


Satu minggu sudah Luna masih, setia dalam tidurnya,


Dengan penuh perhatian Bayu menemani Luna dirumah sakit, walaupun Rehan kini tak begitu marah marah saat melihat Bayu, tapi Rehan masih menjaga Jarak dengan Bayu, bahkan satu pertanyaan tak pernah terlontar dari mulut Rehan.


Ruang Rawat Luna bagaikan ruang tak berpenghuni, hawa dingin selalu menyelimuti saat kedua laki laki itu sedang berada dalam satu ruangan.


Hawa dingin tiba tiba terpecah ketika sesosok Rangga datang dengan senyum dibibirnya.


" Selamat siang... " ucap Rangga memecahkan kesunyian


" selamat siang " jawab Bayu tanpa menoleh karna bagi Bayu rehan dan Rangga sama2 jahatnya.


Rangga yang cuma melihat sebentar kearah Bayu, langsung menghampiri Rehan... dan memberikan beberapa Berkas yang harus ditanda tangani..


" cepat lah masuk kekantor... aku sudah pusing harus mengurusi semuanya sendiri.. " ucap Rangga mengingatkan Rehan


" hemmm... " jawab Rehan singkat


Setelah urusannya selesai dengan Rehan, Tangga pun pergi tanpa berpamitan pada Bayu..


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2