
Wulan... yang sudah mengantongi alamat makam Bayu kini sudah berjongkok ditepi makam.
" Maaf kan anak ku Bayu, seharusnya aku menjelaskan semuanya pada Rangga, " ucap Wulan yang terus memandang makam yang tanahnya belum mengering.
" Bu ... sebaiknya kita pergi... hari mulai sore" ucap Dara salah satu asisten kepercayaan Wulan.
Mendengar ucapan asistennya Wulan akhirnya bangkit dan beranjak pergi...
" Dara.. cepat kau selidiki gadis bernama Luna, gadis yang selalu bersama Bayu, aku yakin Luna adalah anakku" perintah Wulan setelah berada didalam mobil.
" Baik bu... "
Dilain sisi Luna yang semakin diam, membuat Rehan Frustasi, bahkan Pekerjaan kantor semakin terbengkalai.
" Luna... Luna" teriak bi inah saat melihat pergelangan tangan Luna tersayat dan mengeluarkan banyak darah..
" Tuan... cepat pulang.. Luna mencoba bunuh diri" ucap Bi inah yang menelfon Rehan
" apa.. " teriak Rehan dan langsung mematikan sambungan telfonnya.
Setelah sampai dirumah Rehan langsung bergegas masuk kekamar Luna.
Saat Rehan melihat Luna sudah tak sadarkan diri Rehan langsung membawa Luna kerumah sakit. dengan Bi inah yang mengekor di belakang Rehan.
Dilain sisi Malik yang sudah berniat merebut Luna dari Rehan diam diam menyelidiki asal usul Luna,
" Rehan... " ucap Malik dibalik meja dengan senyum yang tak bisa diartikan
__ADS_1
Rehan yang sudah sampai di rumah sakit langsung membiarkan dokter menangani Luna.
" Bi sebenarnya apa yang terjadi.. ? " tanya Rehan
" Bibi juga tak mengerti, saat bibi mau mengantarkan makan siang, Luna sudah menyayat tangannya. " jawab Bi inah mencoba menjelaskan
" dok bagaimana keadaan Luna? " tanya Rehan yang melihat dokter dan suster keluar dari ruangan Luna.
" Luna baik baik saja. sekarang dia sudah siuman" ucap dokter.
" Terima kasih dok" ucap Rehan dan langsung masuk kekamar Luna.
" Luna kenapa kau melakukan semua ini. ? " tanya Rehan namun tak ada respon dari Luna.
Bahkan pandangan Luna menerawang entah kemana.
" Bi kau saja yang bicara pada luna. " perintah Rehan
" Nak.. Luna... " ucap Bi inah sambil membelai rambut Luna lembut
Luna yang menyadari akan sentuhan yang lembut, tersadar dan langsung menangis saat melihat bi inah..
Rehan yang melihat Luna menangis, tanpa terasa air matanya ikut menetes.
" Begitu sakit kah, sehingga kau tak mau melihatku dan tak mau merespon setiap ucapan ku. " batin Rehan..
Setelah Luna behenti menangis dan tertidur, barulah bi inah menjauh dari Luna, dan pergi ke kantin rumah sakit. membeli beberapa makanan untuk Tuannya.
__ADS_1
" Tuan... tuan" ucap Bi inah membangunkan Rehan dari tidurnya.
" hem... " jawab Rehan berusaha merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku harus tertidur dikursi.
" Makan lah sedikit.. tuan belum makan dari siang"
" Terima kasih bi.. " jawab Rehan sambil membuka makanan yang dibawakan bi inah
" Bi... aku harus bagai mana supaya Luna bisa memaafkan aku"
" Entah lah Tuan... Luna masih 17 tahun namun dia sudah mengalami semuanya. seharusnya diusia dia sekarang, Luna masih asik sekolah, bercanda tawa dengan temannya dan bermain sesuka hati" jawab Bi inah
" apa sebaiknya Luna saya sekolahkan bi"
" tapi dengan kondisi Luna yang sekarang itu tidak memungkinkan tuan"
" Lalu harus bagaimana bi'
" Sebaiknya kita buat Luna merasa aman dahulu. "
" Tapi bukannya dirumah Luna juga aman bi"
" buka itu maksud bibi, tapi perasaan aman, nyaman. "
" apa Sebaiknya kita pindah rumah bi, mungkin dirumah yang sekarang banyak kenangan yang menyakitkan bagi luna. " ucapan Rehan yang kembali mengingat saat dirinya menyakiti Luna.
" itu ide yang bagus tuan" ucap Bi inah
__ADS_1
Bersambung....