
Sontak keduanya langsung tersadar.. dan berlari kearah balkon....
" sisil.... " ucap Luna yang panik... saat melihat sang empunya apartemen tengah bergelantungan dengan tangan yang memegang pagar balkon..
Rehan reflek memegang tangan Sisil... dan membantunya naik kembali..
" hiks.... hiks... hiks.... " tangis sisil yang sudah didalam apartemen
" kau... benar benar gil*... setidaknya.. kalau mau mati mati aja langsung.. ga usah pake acara video call segala... bikin repot tau ga... " omel Rehan pada sisil yang tengah tersuduk dilantai..
Sedangkan Luna dengan lembut mengusap punggung sisil.. menenangkan'nya.
" sudah.. sudah jangan menangis.. semuanya akan baik baik saja... " ucap Luna yang berusaha menghibur sisil
" baik... baik kau bilang... kehidupan ku sudah hancur.. dan itu disebabkan oleh laki laki brengs*k yang lebih tepatnya suamimu.. " omel Sisil pada Luna
" heeeyyy.. jaga mulutmu itu... jangan berani berani kau memarahi istri ku.. " gerutu Rehan pada sisil
" kalau begitu.. nikahi aku... atau aku akan benar benar bunuh diri... " ancam Sisil pada Rehan
" Mati.. mati aja langsung ga usah ribet... kalau perlu dengan tanganku ini aku memastikan kau mat*... " ucap Rehan yang sudah geram dengan tingkah sisil.. dan langsung menarik tubuh sisil kembali ke pinggir balkon.. bersiam menerjunkan Tubuh sisil...
" stooopppp... kalian membuatku Gil* .. " ucap Luna.. yang melihat pertengkaran dua manusia.. yang ada dihadapannya
__ADS_1
Sontak Rehan.. langsung melepaskan tubuh sisil.. dan menjatuhkannya kesegala arah.. saat mendengar teriakan sang istri..
" hiks.. hiks.... " tangis sisil kembali pecah.. saat tubuhnya sudah terjatuh diatas lantai... dengan perlahan sisil beringsut menghampiri Luna yang tengah berdiri.. menatap Sang suami
" aku mohon.. padamu.. biarkan aku menikah dengan suamimu.. aku akan bersujud bahkan aku akan mencium telapak kakimu.. supaya kau mengizinkan aku menikah dengan suamimu... " ucap Sisil dengan derai air mata di pipinya..
" menikahlah dengan suamiku.. aku merestui mulai... " ucap Luna datar.. raut mukanya sangat dingin... air matanya berhenti mengalir...
Duaaarrr.... Bagaikan disambar Petir Rehan menatap sang istri kecilnya... Waktu terasa berhenti... Saat Rehan mendengar ucapan sang istri..
Lain halnya Dengan sisil... bagaikan kupu kupu.. hati Sisil tengah terbang bebas... mendengar ucapan sahabat barunya.. senyum tlangsung terukir dibibirnya
" Benarkah... benarkah.. yang kau katakan Luna... kau.. kau mengizinkan aku menikah dengan suamimu..? " tanya Sisil tak percaya dengan ucapan Luna..
" terimakasih... Luna terimakasih... " ucap Sisil yang langsung bersiri dan memeluk tubuh Luna...
Tak dipungkiri Sisil menyadari tubuh Luna yang terasa dingin dan kaku seperti kayu saat dipeluk namun semua itu tak digubris oleh sisil... dalam hatinya yang terpenting persetujuan Luna untuk menikah dengan Rehan...
karna bagi Rehan apa yang diucapkan sang istri... akan dilakukan walau dengan berat hati sekalipun...
" berhenti memelukku.. persiapkan dirimu.. untuk menikah dengan suamiku.. lusa... " ucap Luna tanpa berkedip dan terus memandang sang suami
" kau... gil* shayang.. kau sudah terjerumus dengan virus yang dilemparkan oleh sisil... " ucap Rehan... yang langsung membawa sang istri pergi dari apartemen Sisil..
__ADS_1
Sepeninggalnya Rehan dan Luna... Sisil.. tersenyum senang...
.
.
.
Bersambung... π€¦ββοΈπ€¦ββοΈ
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak
like....
komen....
vote....
Dan berikan hadiah walaupun hanya sekuntum πΊπ»πΉπ·....
__ADS_1