
Malik yang berada di dalam kamar terus saja berdiam diri, memikirkan dirinya dan Luna.
" apa aku harus merelakan Luna bersama suaminya, kenapa Hatiku terasa sakit, membayangkan nya saja aku bisa gila, " Batin Malik sambil mengusap kasar mukanya.
flasback
Setelah dirasa baikan, akhirnya Malik berinisiatf melihat keadaan Luna... Namun kedua mata Malik menemukan pemandangan yang sangat dibenci, dimana Luna sedang dipeluk oleh Rehan.
Akhirnya Rehan memilih menulis surat, dengan meminjam pada suster yang lewat, dihadapannya
Stelah selesai menulis Surat, Malik langsung menitipkannya pada suster penjaga.
flashback of
" tuan.... . ayah dan ibu sudah menunggu didepan" ucap ART
" iya... bi. " jawab Malik dengan menyeret kopernya
" Nak... sudah siap? " tanya ibu susanti
" ya... " jawab Malik dengan berat
Ayah Malik, yang mengerti dengan kondisi anaknya, hanya memegang pundak anaknya, berharap anaknya bisa tegar memilih melepaskan Luna.
Dilain tempat Luna yang masih tertidur di ranjang rumah sakit, terbangun karna suster datang dan mengganti cairan infus yang habis.
" Nona... tadi ada orang yang menitip surat untuk nona. " ucap suster sambil memberikan surat pada Luna.
Tanpa banyak bertanya Luna langsung mengambilnya, karna penasaran dengan pengirimnya, Luna langsung membacanya.
Rehan yang melihat Luna mendapatkan surat, langsung mendekat, belum sampai disamping ranjang Luna, Rehan terkejut melihat Luna yang menangis, dan langsung melepas selang infus yang menancap ditangan kanannya, dan berlari keluar.
" Luna... Luna tunggu... " teriak Rehan yang melihat Luna berlari dan tak menghiraukan.
" Mas... mas Malik... " Bati Luna yang terus berlari,
setelah keluar dari rumah sakit Luna langsung masuk kedalam taksi yang baru saja menurunkan penumpang didepan rumah sakit.
" pak... jalan... cepat.. kita ke Bandara"
" Baik mba... " ucap Pak sopir patuh.
__ADS_1
Rehan yang kalah cepat, akhirnya memilih naik taksi yang lain.
" Pak... ikuti taksi yang didepan! "
" baik Pak" ucap pak sopir patuh
" ish... dasar Luna baru sadar dari ingatannta udah bikin rempong... kalau bukan istri tercinta udah aku hempas" ucap Rahan
Pak supir yang mendengar ucapan Rehan... tersenyum geli. dengan ucapan Penumpangnya.
Hampir 1 jam Luna berasa didalam taksi.
" Pak... tunggu disini jangan pergi " perintah Luna pada pak sopir. dan langsung berlari mencari Malik.
Rehan yang sampai langsung membayar taksinya.
" mau cari siapa si... ngeselin Banget " Batin Rehan
Luna yang terus berlari mecari Sahabatnya. tak menghiraukan Rehan yang terus memanggilnya.
Karna panggilan nya tak direspon, regan langsung menangkap Luna.
" Mas.. mas Malik.. pergi... " ucap Luna yang mulai menangis
" ishh... Bocah brengs*k itu" ucap Rehan kesal
" tuan... " ucap Luna yang tak Terima sahabatnya disebut bocah Brengs*k
" iya... iya Malik" jawab Rehan memperbaiki ucapannya.
" sudah.. jangan berlari kesana kemari... kau duduk saja.. aku akan menanyakan kebagian informasi... memang Bocah Brengs*k itu pergi kemana? " tanya Rehan
" tuan... bukan bocah Brengs*k" ucap Luna kembali membetulkan ucapan majikannya
" iya.. iya Malik" jawab Rehan
" china tuan"
" baik.. kau tunggu disini"
Setelah mendudukkan Luna disalah satu kursi kosong.
__ADS_1
Rehan langsung pergi ke pusat informasi, menanyakan keberangkatan menuju china.
" Maaf tuan... pesawat menuju china baru saja lepas landas " ucap petugas informasi
" Terima kasih mba" jawab Rehan sopan
Tanpa Rehan sadari Luna sudah berada dibelakangnya. dan menangis mendengar Sahabatnya telah pergi
" Masih disini bikin kesel.. pergi juga masih bikin kesel.. dasar Malik ...pergi tinggal pergi pake acara Kirim surat.. kaya anak 90'an" Batin Rehan kesal.
" Sudah jangan nangis terus... ayo pulang... " ucap Rehan.
Luna yang masih berjongkok dan menangis membuat Rehan menjadi bahan tontonan.
" Luna ayo kita pulang... selama apapun kau menangis, Malik bocah Brengs*k itu ga bakal ada" ucap Rehan berusaha menekan emosinya.
Karna ucapannya. tak mendapat respon.
Rehan akhirnya menggendong Luna di pundaknya.
" Tuan... turunkan saya.. saya malu.. " ucap Luna yang meronta ingin diturunkan
" diam... dari tadi kau tak malu. menangis di bandara yang banyak orang dan menjadi tontonan,
karna sudah terlanjur malu..lebih baik malu sekalian. " ucap Rehan yang terus saja menggendong Luna di pundaknya, menuju taksi yang menunggu sedari tadi.
.
.
.
Bersambung.... ☺☺☺
Jangan lupa like ...
komen...
vote....
Terimakasih sudah mampir...
__ADS_1