
Rangga kini sudah mendekam dikantor polisi. mempertanggung jawabkan atas apa yang diperbuatnya.
Sedangkan Rehan sedang sibuk mengurus acara pemakaman ayah luna.
Luna yang sudah sadar dari pingsannya kini duduk disebelah jenazah ayahnya yang sudah terbujur kaku dan sudah siap diberangkatkan.
Bi inah yang selalu mendampingi Luna terus mengusap kepala Luna dengan lembut.
" Bi... " panggil Rehan
" ya... tuan" jawab Bi inah dan langsung menghampiri Rehan
" Luna.. bagaimana bi"
" Entahlah... kepergian ayahnya sepertinya membuat Luna sangat terpukul. apa lagi dengan semua yang baru dialami luna, dia bahkan tak menangis atau mengeluarkan suara sedikitpun. " ucap Bi inah menjelaskan semuanya
Rehan yang mendengar penjelasan bi inah, masih terus memperhatikan luna yang tetap duduk disamping jenazah ayahnya dengan tatapan kosong.
" luna... " ucap Rehan yang sudah berada didepan Luna berusaha menyadarkan Luna.
Luna yang melihat Tuan Rehan hanya melihat sekilas dan menggeser tubuh Rehan yang menutupi pandangannya untuk melihat ayahnya.
__ADS_1
Rehan yang digeser oleh Luna hanya bisa menyingkir dalam diam, membiarkan Luna terus memandang ayahnya untuk terakhir kalinya.
Setelah semua persiapan selesai akhrinya Ayah Luna diberangkatkan untuk dimakamkan.
" Ayah... ayah.. ayah... " Teriak Luna saat tubuh ayahnya siap dimasukkan keliang lahat.
Bi inah yang siap siaga disamping Luna tak kuasa menahan air matanya, dan tak bisa menahan tubuh Luna yang akhirnya duduk bersimpuh.
Rehan yang melihat Luna terus saja menangis dan memanggil ayahnya akhirnya mendekat pada Luna berusaha menenangkan nya.
" Tuan... ayahku sangat patuh padamu, tolong katakan padanya untuk bangun. " mohon Luna yang melihat Tuan Rehan tepat berada dihadapannya.
" Luna sadar lah... ayahmu sudah tiada" Bentak Rehan
Rehan yang tak siap pun akhirnya jatuh terduduk.
" Ini semua gara gara kau Tuan Rehan... dasar kau PEMBUNUH.. " Ucap Luna dengan air mata yang terus menetes
Rehan yang mendengar semua ucapan Luna hanya bisa menundukkan kepalanya,
" Belum puaskah tuan melihat keluarga ku menderita, sehingga kau renggut nyawa ayahku, kenapa kau tak sekalian ambil nyawaku juga" ucap Luna.
__ADS_1
" Luna... tenang lah" ucap bi inah yang ikut berjongkok menjajarkan tubuhnya dengan Luna.
Luna yang sudah lelah pun akhirnya kembali pingsan, sebelum acara pemakaman ayahnya selesai.
Rehan yang melihat Luna kembali pingsan akhirnya membawa Luna kembali pulang, dan menyerahkan urusan pemakaman pada bi inah.
Satu minggu sudah kepergian ayah Bayu, namun kondisi Luna semakin terpuruk. bahkan untuk makan harus bi inah yang menyuapi, itu pula harus dengan rayuan yang sangat panjang.
Rehan yang melihat Luna semakin hari semakin kurus akhirnya menyuruh dokter Gunawan memasang selang infus.
Rehan yang selalu disamping Luna, harus siap menerima pukulan demi pukulan saat Luna mengingat kejadian saat dirinya diculik rangga dan itu semua atas perintah tuan Rehan.
" Luna... bukan aku yang menyuruh rangga menculik kalian" ucap rehan yang berusaha menjelaskannya
" bukan tuan, tapi aku dengar sendiri rangga berkata kalau tuan yang menyuruhnya.. " ucap Luna yang tak mau mempercayai ucapan Rehan
" Aku harus bagai mana lagi Luna supaya kau bisa mempercayaiku, kalau kau tak percaya juga ayo kita kekantor polisi akan kusuruh -Rangga menjelaskan semuanya supaya kau percaya. " ucap Rehan dan langsung menarik tangan Luna.
Luna yang ditarik dengan paksa oleh Rehan, hanya meringis kesakitan saat jarum selang infus tercabut dari tangannya.
Rehan yang tak menyadari selang infus terlepas dari tangan Luna, terus saja menarik Luna keluar dari kamanya.
__ADS_1
Bersambung...