
Rehan yang berjalan dengan senyum diwajahnya membuat Arman menatap dengan bingung, hal apa yang membuat tuannya tersenyum senang.
" Arman cepat kau antar aku pulang.. " perintah Rehan
Arman yang bingung dengan majikannya itu, hanya bisa menuruti keinginan nya.
Sepanjang perjalanan pulang Arman sesekali melihat majikannya dari sepion mobil. terlihat tuan Rehan tersenyum mempertontonkan giginya, namun sesekali arman melihat majikannya mengusap air mata yang keluar dari ujung matanya, membuat Arman semakin bingung.
Sesampainya dirumah, Rehan langsung masuk dan mencari bi inah.
Bi inah yang sedang memasak menatap bingung tuannya yang langsung memeluknya.
Bi inah yang memandang Arman, untuk mencari penjelasan hanya menerima celengan kepala dari Arman, menandakan Arman sendiri tak tahu apa yang terjadi dengan majikannya.
" Tuan... apa yang sebenarnya terjadi? " tanya Bi inah
" Bi... bibi... aku... aku" Ucap Rehan menggantung kalimatnya membuat Bi inah dan Arman semakin Bingung
" Iyaa... kenal Tuan" Jawab Arman yang tak sabar
Rehan yang mendengar ucapan Arman langsung melotot padanya.
Arman yang melihat kedua mata majikannya hampir copot oleh kalimatnya, langsung menundukkan kepalanya.
" Iya tuan... cepat katakan jangan membuat aku semakin bingung" ucap bi inah yang tak bisa menahan rasa penasaran nya.
" Aku menemukan luna bi. " ucap Rehan dengan sumringah
" Apa... " jawab bi inah dan Arman bersamaan
__ADS_1
" iya bi.. luna.. luna sudah ku temukan"
" Dimana " jawab bi inah semakin antusias
" Dipinggiran kota, dekat proyek rumah susun geratis yang akan aku didirikan" jawab Rehan tak kalah antusias menceritakan pada Bi inah
Arman yang penasaran dengan cerita Rehan tanpa sadar melangkah mendekat pada tuannya.
" kenapa tuan tak langsung membawanya pulang" ucap Arman
" kau benar Arman" setuju bi inah dengan ucapan Arman
" Ingin sekali aku membawanya pulang Bi, tapi saat aku melihat senyuman luna, tanpa beban, aku takut saat dia melihatku, luna akan kabur lagi"
" Bukannya Luna punya usaha lestoran di China, kenapa tiba tiba luna jualan di warteg, dipinggiran kota lagi" jawab Arman
" iss... kalian ini pasti lah luna takut tertangkap oleh mu Tuan"
" oh.... " ucap Rehan dan Arman berbarengan dengan menganggukan kepala dan saling memandang satu sama lain.
Bi inah yang melihat tingkah dua laki laki di hadapannya merasa heran, kenapa orang berpendidikan bisa mempunyai otak yang tumpul saat menghadapi luna.
" Tuan sebaiknya kau dekati luna dengan perlahan. jangan asal bawa, seperti dulu"
" Baik bi" jawab Rehan Dengan semangat yang ber api api
" Tuan.. karna luna sudah ditemukan bagaimana dengan penyelidikan tentang malik, apa harus dihentikan"
" Lanjutkan.. " ucap Rehan tegas
__ADS_1
" Baik"
Bi inah yang menyiapkan makanan untuk majikannya, dan tetap memasang kedua telinganya, supaya tak tertinggal tentang info Luna
" Sudah bicarakan nanti lagi, sebaiknya makan dulu" ucap Bi inah menghentikan obrolan Rehan dan Arman
" Baik bi" ucap Rejan dan Arman
matahari kini telah mengistirahatkan cahayanya, namun Rehan tak bisa memejamkan matanya, Rehan masih saja terbayang dengan sosok Luna.
Bahkan Rehan selalu melihat jam dinding, berdoa supaya pagi cepat datang, Rehan sudah tak sabar untuk melihat Luna kembali.
Waktu kini menunjukan jam 4 pagi, rehan yang tak bisa tertidur, terus saja mondar mandir di tepi ranjang, berharap pagi cepat datang.
Karna kakinya sudah pegal, akhirnya Rehan membaringkan tubuhnya dikasur yang empuk bagaikan awan itu..
Naas bagi Rehan, karna semalaman berjaga menunggu pagi, tanpa disadari kedua bola mata rehan Akhirnya memejamkan matanya karna tak sanggup lagi bergadang.
kring........
jam alarm ⏰ terus berbunyi namun Rehan tetap tertidur lelap.
Bi inah yang mendengar alarm dari kamar Rehan akhinya masuk, dan melihat majikannya itu tertidur pulas, walau bunyi alarm terus berbunyi.
Bi inah yang tak tega membangunkan Rehan, akhirnya memilih meninggalkan rehan.
membiarkan Rehan berada di alam mimpinya.
Bersambung....
__ADS_1