Takdir Luna

Takdir Luna
MELIHAT LUNA TANPA SENGAJA...


__ADS_3

Rehan sedang duduk di ruangan nya memandang langit yang cerah, dengan tangan menggenggam foto luna, perasaan rindu pada istri kecilnya membuat Rehan mulai meneteskan air matanya,


Penyesalan, kecewa, semuanya menjadi satu, perasaan gembira saat sebentar lagi bertemu dengan istri kecilnya kini kembali sirna, bahkan kabar keberadaan luna kini tak bisa didapatkan lagi.


" Kemana lagi aku harus mencarimu. " Batin rehan


Lamunan Rehan terpecahkan saat arman mengagetkan nya dengan setumpuk laporan ditangannya.


" Arman apa tak mendapat kabar dari suruhanmu tentang keberadaan luna di Indonesia. "


" Maaf tuan. "


" sudahlah sepertinya aku harus menunggu lagi"


" Tuan ini laporan tentang rencana pembangunan rumah susun geratis bagi warga tak mampu" Arman berusaha mengalihkan topik supaya Rehan tak terlalu larut dalam fikirannya.


" Bagaimana lokasinya, apa uang ganti rugi lahan sudah beres "


" sudah tuan, bahkan para warga menyambutnya dengan antusias. berharap rumah susun cepat dikerjakan"


" Kalau begitu aku ingin melihatnya langsung"

__ADS_1


" baik"


Rehan memasuki mobilnya dengan arman sebagai sopir, dengan patuh menjalankan mobilnya dengan hati hati.


Arman yang sesekali melihat bosnya hanya terdiam, mengerti akan apa yang dirasakan bosnya saat ini.


Cukup lama arman dan Rehan sampai dilokasi, Rehan yang disambut oleh warga tersenyum saat melihat sekumpulan warga yang ramah.


Bahkan ada sesosok anak kecil memberinya setangkai bunga mawar, walau tak seindah mawar yang ada ditoko, tapi Rehan menerimanya dengan senang hati.


lama Rehan melihat dan menyaksikan sendiri proses pembangunan rumah susun geratis nya, walau tak melakukan apa apa, dan hanya duduk mengintai aktifitas para pekerja.


karna semakin bosan akhirnya Rehan berinisiatif jalan jalan dipinggiran kota, saat melewati sebuah warteg yang tak terlalu besar, namun membuat Rehan penasaran, dikarenakan warteg sangat ramai, bahkan pelanggan tak henti hentinya datang.


" mbah saya pesan nasi sayur tempe, dan telor balado nya satu mbah, dibungkus" ucap salah satu pelanggan


" Baik... " jawab luna yang sedang berjongkok dibawah etalasi mencari kertas minyak


Rehan yang mengenal suara yang vamiliar langsung tertegun, bahkan waktu yang selama ini memisahkan dirinya dengan istri kecilnya tak mampu membuatnya melupakan suara istrinya.


Rehan yang menunggu asal suara tersebut, sangat terkejut bahkan sekujur tubuhnya terasa tak memiliki tulang saat kedua bola matanya. melihat dengan jelas luna yang sedang berusaha berdiri, dengan tangan membawa sebungkus kertas minyak.

__ADS_1


Luna yang tak menyadari kehadiran Rehan masih saja sibuk dengan aktifitasnya membungkus setiap pesanan para pelanggan.


" Cantik sekali gadis ini, dari mana asalnya bahkan aku rela mampir kesini setiap hari hanya untuk memandangnya" ucap salah satu pelanggan kepada temannya.


Rehan yang mundur secara perlahan, dan duduk disalah satu kursi yang kosong terus saja menatap setiap gerak gerik luna, bahkan air matanya tak terasa meneteskan air matanya.


"dreeeet dreeeet... "


tatapan Rehan terhenti mendengar hpnya berbunyi, karna terlalu bising akhirnya Rehan memilih keluar dan mengangkat telfonnya.


Setelah menyelesaikan sambungan telfonnya, Rehan kembali melihat luna dari kejauhan.


Luna yang tak menyadari kehadiran Rehan terus saja melayani pelanggan dengan senyum ramahnya, membuat pelanggan laki laki semakin betah melihat paras Luna.


" Begitu bencinya kah kau pada ku , sehingga kau tak mau kembali lagi kerumah" Batin Rehan dan kemudian pergi meninggalkan warteg.


Luna yang tak sengaja melihat keluar, tanpa sengaja melihat punggung seseorang yang sangat mirip dengan Rehan, namun sekian detik perasaannya langsung ditepis nya, karna bagi luna tidak mungkin sesosok Rehan akan berada di pinggiran kota yang lumayan kumuh ini.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung......


__ADS_2