
Luna yang melihat... seorang gadis dengan berpakaian rapih... pun terdiam...
" nona Luna... "ucap Ratih yang sudah mendekat...
" Nona... haaa.. jangan panggil aku. nona... panggil aku Luna... " ucap Luna yang berfikir kalau gadis dihadapannya adalah salah satu pegawai suaminya
" Nona... ayo.. ikut... aku sekarang... ibu nona sedang kritis... " ucap Ratih yang langsung keinti permasalahnnya dengan bola mata yang mulai berkaca kaca...
Deg...
Luna terdiam mendengar kata ibu... karna setau Luna... ibunya telah tiada...
" ayo nona... ikut saya.. " ucap Ratih... yang menarik tangan Luna
Luna yang tersadar dari lamunannya... langsung menepis tangan Ratih...
" Maaf... saya tidak kenal anda.. dan ibu saya sudah tiada... anda salah orang... " ucap Luna dingin
" Tidak.. nona... ibu anda masih.. hidup, dan.. dan sekarang sedang kritis... " ucap Ratih yang mulai menangis
" Maaf tapi saya tak mengenal anda... " ucap Luna kekeh
" aku.. aku Ratih... asisten ibu anda... Wulan" jelas Ratih
Luna yang mendengar kata Wulan, sayup sayup mengingat kembali.. nama Wulan... karna terasa tidak asing dengan nama Wulan...
__ADS_1
" ayo.. nona.. waktu kita tidak banyak... "ucap Ratih yang kembali menggandeng tangan Luna..
Lagi lagi Luna menepis... tangan Ratih... karna fikirannya kacau.. Luna lebih memilih meninggalkan Ratih... masuk kedalam kampus.
" aku akan menunggu nona... sampai nona pulang.. " teriak Ratih yang melihat Luna pergi meninggalkannya.
Sesampainya didalam kelas... Luna melihat sisil yang tak seperti biasanya... raut mukanya terlihat putih pucat...
" sisil... kau kenapa?, kau sakit? " tanya Luna
Sisil yang mulai menangis pun tampak ragu ragu... memperlihatkan sesuatu benda kecil, dan saat Luna melihatnya... Luna benar benar terkejut dengan apa yang dilihatnya...
" sisil... kau.., kau" ucap Luna dengan sedikit keras, membuat teman sekelasnya menatap kearah Luna dan sisil
" kecilkan suaramu... " perintah sisil
" waktu itu aku ditolong oleh laki.. laki tapi, tapi... dia dengan paksa merenggut kesucian ku... " cerita sisil... dengan air mata yang terus mengalir
Luna yang mendengar cerita sisil pun memeluk sisil, berusaha menguatkannya.
" kau harus meminta pertanggung jawaban pada laki laki itu.. " perintah sisil dengan raut wajahnya kesal. .
" aku sudah berusaha.. mencari alamat rumahnya.. tapi belum berhasil.. " ucap sisil
" tenang... jangan berkecil.. hati.. terus mencari... jangan biarkan laki laki tak punya ahlak itu... bersenang senang diatas penderitaanmu, aku akan selalu mendukungmu.. apapun yang terjadi... " ucap Luna...
__ADS_1
" Terimakasih... Luna.. " ucap Sisil yang langsung memeluk tubuh kecil Luna
Saat.. mata pelajaran dimulai... Luna tak bisa fokus dalam pelajaran... sesekali Luna melirik Sisil, yang tampak pucat...., disisi lain Luna berfikir tentang Ratih... yang mengatasnamakan asisten ibunya....
Luna yang merasa bingung pun, memilih memijit pelipisnya. Hingga jam pelajaran usai... Luna masih enggan bangkit dari duduknya
" Luna... aku pergi dulu... aku mau mencari laki brengs*k itu " ucap Sisil yang beranjak pergi
" hati.. hati dan semoga berhasil... " jawab Luna menyemangati sahabatnya....
Luna yang mengingat... Rehan akan ada rapat... memilih pulang sendiri...
Namun baru sampai didepan kampus, Luna langsung ditarik masuk kedalam mobil... oleh Ratih..
" hey... kau.. mau menculik ku? " ucap Luna yang terus meronta ronta ingin keluar...
Namun dengan cekatan Ratih mengunci pintu mobil.. dan melakukan mobilnya menuju rumah sakit...
" Maaf.. nona... atas kelancanganku.. tapi ibu kandung nona dalam keadaan kritis... hanya sekali ini saja... aku mohon temui dia... " ucap Ratih yang tetap fokus mengendarai mobilnya...
" ibu.. ibu... akh tak punya ibu.., ibuku sudah lama mati.. , kau salah orang... " Teriak... Luna...
.
.
__ADS_1
.
Bersambung🤔🤔🤔