Takdir Luna

Takdir Luna
KENYATAAN.. YANG MENYAKITKAN


__ADS_3

" Cepat.. selesai kan makanmu.... " perintah Rehan yang melihat luna belum selesai menghabiskan Nasi yang ada di piringnya.


" Memangnya kenapa tuan? "


" Apa kau sudah pikun... " cibir Rehan yang melihat Luna tetap diam...


" Aku kan sudah mengatakannya tadi malam... Aku akan membuktikan padamu kalau aku bukan pembunuh ayahmu...! "


Luna yang ingat akan janji tuannya langsung menghabiskan nasi yang ada di piringnya...


" Arman... cepat kau... kantor... polisi.. Kita akan menemui bocah penghianat*t " ucap Rehan dengan benda pipih setia didekat daun telinganya.


Luna yang mendengar ucapan tuannya hanya terdiam... karna tak mengerti dari setiap ucapan yang terlontar dari mulut tuannya.


Setelah... mengakhiri... sambungan telfonnya... Rehan dan Luna langsung menuju kantor polisi...


Luna yang tak mengerti kenapa dia dibawa kekantor polisi... memilih duduk dengan tenang.


Setelah.. berkutat dengan suasana kota jakarta yang macet Angudubilah.. akhirnya Rehan... memarkirkan mobilnya diparkiran.


Tanpa babibu... Rehan langsung membawa Luna masuk...


" tuan... " sapa Arman yang sudah datang lebih dahulu


" ya... " Jawab singkat Rehan...


Setelah Arman berbicara pada petugas... Rehan, Luna dan Malik langsung duduk di salah satu ruangan.. membuat Luna bingung..


Setelah menunggu beberapa menit... Kedua bola mata Luna langsung terbuka lebar.. tak percaya apa yang baru saja dia lihat

__ADS_1


" Tuan... Rangga... " ucap Luna lirih yang tak menyanggka tuan rangga yang dulu tangan kanan Tuan Rehan.. kini telah memakai baju tahanan.


" Jelaskan... apa yang sebenarnya yang terjadi"


perintah Rehan yang tak mau berbasa basi.


" Maaf... " ucap Rangga dengan muka yang tertuduk


" cih... maaf kau bilang..." ucap Rehan ketus


" Maaf Luna... karna kesalah pahaman ku...dan perceraian kedua orang tuaku... membuatku melakukan hal yang sangat tak manusiawi. Bahkan karna ku. kedua orang tua tuan Rehan yang tak bersalah menjadi korban... " ucap Rehan yang masih tertunduk


"aahhh... " ucap Luna yang belum sepenuhnya mengerti


" Begini... mba Luna... saya bisa bersaksi... karna saat kejadian mba Luna diculik oleh Rangga, saya lah satu satunya saksi... dan dengan kedua mata saya sendiri Rangga lah yang menusuk ayah Bayu... " ucap Arman yang ikut menjelaskan


Luna yang mendengar semuanya.. hanya bisa menangis.. tak percaya atas apa yang Luna dengar.


" Nona sasa... yang ikut menculik Mba Luna.. juga sudah mendapat balasannya dengan mendekam dipenjara. " ucap Arman kembali menjelaskan semuanya


"Sudah... dengar semuanya... mulai saat ini jangan pernah kau bilang Aku PEMBUNUH... " ucap Rehan dengan senyum dibibirnya


Terbanding terbalik dengan Luna yang terus menangis...


" Kau jahat Tuan Rangga... " ucap Luna yang berlari keluar ruangan


" tunggu... " ucap Rangga menghentikan Langkah Luna


" aku.. tau siapa ibu kandung nona Luna, apakah.. nona Luna tak ingin mengetahui nya" ucap Rangga

__ADS_1


" Ibu... maaf tuan Rangga... aku tak memiliki ibu.. aku hanya mempunyai ayah.. yang sudah kau bunuh dengan keji, dan tak berperasaan, kau memukulnya tanpa ampun, kau tak melihat betapa rentannya tubuh ayahku yang sudah tua"


" maaf... " ucap Rangga penuh penyesalan


" Kalau tuan Rangga bertemu ibu kandung yang tuan bicarakan... tolong katakan padanya... jangan pernah mencariku... anggap saja aku tak pernah lahir.. " ucap Luna dan langsung pergi meninggalkan Ruangan yang sedari tadi membuat dadanya terasa sesak


Rehan yang melihat istri kecilnya keluar langsung mengekor dibelakang tanpa bersuara, terus mengikuti kemana Istri nya berjalan.


" hiks.... hiks... hiks... ayah.. ayah... " tangis Luna kini pecah, Luna yang tak lagi berjalan... kini terduduk sambil memegang dadanya yang terasa sesak.


" Ayah.... ayah... ayah.... " ucap Luna dengan air mata terus mengalir dari kedua matanya


Rehan yang melihat istri kecilnya terduduk ditepi jalan dan menangis... langsung mendekat... langkahnya terhenti tepat dibelakang Istri nya.


Tanpa menunggu lama... Rehan langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.


Bukan berhenti menangis, tapi Luna yang mendapat pelukan dari majikannya semakin keras menangis...


Tatapan dari para pejalan kaki tak mampu membuat Luna berhenti menangis, ataupun Rehan yang melepaskan pelukannya dari tubuh istrinya.


Tak jauh dari Rehan dan Luna... Arman yang mengekor dari belakang menggunakan mobilnya... kembali menjadi saksi... hidup... Bagaimana Takdir mempermainkan perasaan Luna...


.


.


.


Bersambung... ☺☺

__ADS_1


__ADS_2