
dret...
dret...
dret...
telfon genggam Arman.. bergetar.. seketika... Arman mengangkat.. panggilan telfon dari bi inah...
" hallo bi...? "
" mas.. Arman.. kenapa baru diangkat..? " tanya bu inah
" maaf Bu.. aku sedang mengurus.. tuyul satu ini.. dia terlalu berat untuk dibawa.. " jelas Arman...
" tuan sedang apa.. kenapa telfonnya tak diangkat dari tadi..? "
" ih.. dia sedang menangis dan meringkuk seperti bayi.. bi.. "
" cepat bawa tuan kesini... . . nona Luna kritis.... dan para dokter sedang menanganinya "ucap bi inah panik dan menangis...
" apa... baik bi.. aku akan membawa orang brengs*k ini... secepatnya.. " jawab Arman
dan langsung menutup telfonnya..
" cepat berdiri... wanitamu sedang sakaratulmaut.. apa kau akan terus menangis disini.. " ucap Arman kasar.. karna sudah kehabisan cara untuk membujuk tuannya..
Rehan yang mendengar Luna sedang.. . kritis pun langsung berlari.. keluar rumah..
Arman yang menyadari akan kemana tuannya pergi pun ikut berlari dibelikan sang big bos..
" shyang.. shayang.. tunggu aku.. " Batin Rehan sambil menangis..
Rehan yang panik pun.. terus berlari meninggalkan mobilnya..
tin...
__ADS_1
tin....
tin...
suara klakson menghentiian.. langkah Rehan..
" bos.. kau akan pergi kerumah sakit.. dengan berlari.. sebelum bos sampai rumah sakit.. nona Luna.. sudah lewat.. " ucap Arman tanpa rasa bersalah.. dengan ucapannya..
Sedangkan Rehan hanya mendelik.. mendengar ucapan sang asisten tak percaya.. dia sekarang sudah berani berkata kasar terhadapnya
" sudah.. ga usah melotot.. kelamaan.. " ucap Arman menyadarkan lamunan sang big bos
Seketika Rehan langsung membuka pintu mobil.. dan duduk di sebelah Arman.. tangannya seketika langsung memukul kepala Arman keras keras.. membuat sang empunya meringis kesakitan
" Tuan... aku bisa gagar otak.. " protes Arman..
" cepat jalan.. ga pake lola.. "Perintah Rehan tak menggubris protes sang asisten.
Bagaikan Roket.. Arman melajukan mobilnya.. waktu tempuh yang seharusnya lama.. kini dipangkas Arman..
Rehan dengan langkah seribu menuju Ruangan istri kecilnya.. tampak bi inah yang tengah duduk diluar ruangan dengan menangis tersedu sedu...
Rehan dengan bergegas ingin menerobos masuk kedalam ruangan Luna.. tapi dihalang oleh dua suster..
" minggir.. minggir kalian.. aku ingin bertemu tengah istriku.. Luna... Luna... aku datang.. aku mohon bertahanlah.. demi aku dan anak kita.. aku sangat mencintaimu jadi aku mohon bertahanlah.. " Teriak Rehan yang terus berusaha masuk tapi dihalangi oleh suster..
Sedangkan bi inah semakin menagis melihat sang majikan.. berteriak.. dan menangis dihadapannya..
Tak lama kemudian.. pintu ruang rawat Luna terbuka.. dan suster dan dokter mendorong ranjang luna.. keluar dan akan memindahkannya..
" dok.. dok.. mau dibawa kemana istri kecilku.. ? " tanya Rehan panik
" istri bapak.. akan segera kami oprasi.. kami akan menyelamatkan bayi yang ada didalam kandungan nona luna.. karna.. kalau diteruskan akan berakibat fatal.. " jelas dokter
" tidak.. aku tidak setuju.. bawa kembali istri saya..kalau kalian tetap melakukan oprasi pada istri saya tanpa persetujuan saya..saya akan menuntut rumah sakit ini.." teriak Rehan
__ADS_1
" Baik.. kami akan membawa istri bapak kembali.. tapi resiko.. anda yang tanggung.. dan kami akan membuat surat perjanjian.. jika terjadi sesuatu dengan istri bapak kami tidak akan bertanggung jawab.. " jelas dokter..
tinnnnnn..... ( anggap saja suara monitor..pendeteksi jantung.. )
Dokter dan Rehan pun seketika terkejut..
Sudut mata Rehan sempat melihat Tangan luna yang jatuh dari ranjang.. terkulai lemas begitu saja.. membuat Rehan terdiam.. seketika.. mencerna semuanya..
Berbeda dengan sang dokter.. dengan cekatan Dokter segera melakukan pertolongan dan berusaha menyelamatkan sang pasien..
Sedangkan bi inah yang melihat keributan dan keadaan Luna yang semakin kritis.. terus saja menangis.. tubuhnya tak bisa ditopang lagi oleh kedua kaki rentan ya.. merosot begitu saja.. diatas lantai..
" tuan.. cepat berikan kami persetujuan.. atau kami tak bisa.. menyelamatkan keduanya.. " teriak.. Dokter yang terus saja melakukan pertolongan...
" bayi... " ucap Rehan lirih... dengan air mata yang jatuh begitu deras..
" bayi.. "teriak dokter yang menangani luna.. memberi kode kepada suster dan dokter yang lain..
Seketika.. Tubuh luna langsung dibawa ke ruang operasi oleh para suster..
" Aaaaa aa.. hiks... hiks. hikss" teriak Rehan frustasi.. hatinya begitu sakit.. begitu sakit.. harus merelakan istrinya pergi demi sang buah hati.. Rehan terus saja menangis dan berteriak.. dadanya yang terasa sesak.. dipukul nya dengan tangannya sendiri.. berusaha sesak didadanya pergi..
Sedangkan Arman yang melihat.. bos yang dingin kini tengah menangis tak berdaya pun ikut menangis.. hatinya juga terasa sakit..
" Arman.. arman.. aku mohon pukul aku..dadaku terasa sesak.. aku tak bisa bernafas... " mohon Rehan yang melihat sang asisten hanya diam..
" tuan... " ucap Arman..
" tidak.. tidak.. aku salah.. aku harus menyelamatkan istriku.. bayi.. aku tak ingin bayi.. aku bisa mengadopsi'nya jika luna menginginkan anak.. aku tak sanggup kehilangan luna.. " ucap Rehan.. yang mulai berubah fikiran...
.
.
.
__ADS_1
Bersambung... ðŸ˜ðŸ˜