Takdir Luna

Takdir Luna
Gara gara air pel...


__ADS_3

Di kediaman Rehan....


Luna yang sedang duduk, terus saja memikirkan penyebab kematian ayahnya...


dengan terus mengacak acak rambut nya sendiri, luna terus mencoba mengingatnya, namun semua usahanya dia dia, karna tak ada satupun ingatannya yanga muncul


" bi... bibi" panggil luna yang melihat bi inah yang kebetulan lewat


" iya non" jawab bi inah sambil menghampiri luna


" bibi jangan panggil aku seperti itu, telingaku risih mendengarnya" perintah luna dengan bibir yang cemberut


Bi inah yang melihat tingkah luna hanya tersenyum.


" bi... saya mau tanya, penyebab kematian ayah saya, ? "


" maaf... non bibi tak bisa menjawab pertanyaan nona, sebaiknya nona tanyakan langsung pada tuan Rehan" jawab bi inah hati hati.


" bibi... " protes luna


Bi inah yang tak mau mendapat pertanyaan lebih jauh, memilih meninggalkan luna sendiri.


luna yang tak mendapat jawaban lebih memilih membersihkan rumah, menghilangkan pertanyaan demi pertanyaan yang selalu berjalan kesana kemari didalam fikirannya.


Dari mengelap tangga, menyapu hingga akhirnya luna mengepel ruangan tamu..


karna terus berfikir, tanpa sadar luna mengepel lantai tanpa memeras kain pel, sehingga air pel ada dimana-mana.


Dilain sisi Rehan yang terus tersenyum karna rencananya, terhadap malik berhasil.


melangkah masuk rumah tanpa rasa curiga,


saking senangnya Rehan, masuk tanpa mengetuk pintu.

__ADS_1


Brukkkk.... aaaawww ...


Teriak Rehan yang sudah jatuh, dengan tangan yang memegang bokongnya yang terasa sakit.


Luna yang melihat Tuannya jatuh tersuduk langsung menghamoiri tuannya dengan panik, dan juga takut, tuannya akan menghukumnya.


" tuan... maaaf tuan, ... tuan tak apa? " tanya luna yang sudah mendekat dan bersiap menolong Rehan


"kau.... b*doh atau apa?, kenapa kau mengepel tapi semua air bisa ada dimana-mana ha? " omel Rehan yang masih terduduk


" maaf tuan" ucap luna yang semakin takut mendengar omelan Rehan, tanpa sadar Tubuh luna kini bergetar, karna membayangkan hal apa yang akan terjadi pada dirinya


Rehan yang melihat Luna ketakutan akhirnya, berusaha meredakan amarahnya sendiri.


" Untung aku mencintaimu... kalau tak sudah habis kau " Batin Rehan.


Rehan yang sudah bisa berdiri memilih pergi meninggalkan Luna yang ketakutan, dengan tangan masih mengusap usap bokongnya yang masih terasa sakit.


mbah yem yang mendengar keributan akhirnya menghampiri asal suara.


saat sampai diruang tamu... mbah yem langsung menghampiri Luna yang sedang menangis, namun naas karna lantai licin, mbah yem hampir terjatuh, untung disampingnya ada meja, membuat mbah yem bisa berpegangan, dan kembali menghampiri Luna dengan berjalan perlahan.


" nak... Luna kenapa? " tanyabah yem


" mbah... aku takut"


" tak apa nak. semuanya akan baik baik saja " ucap mbah yem berusaha menenangkan Luna


" mbah ayo kita pulang" rengek Luna sambil menangis


" tidak.... awas sampai kau berani pulang" ucap Rehan yang sudah ada dibelakang mbah yem dengan suara yang mengeras


Luna yang mendengar ucapan Rehan sempat melihat asal suara, tapi langsung kembali memeluk lututnya.

__ADS_1


mbah yem yang tak mengerti hanya bisa memeluk Luna berusaha menenangkan nya.


bi inah yang dari belakang mendengar tuannya maraharah langsung menghampiri asal suara.


sesampainya diruang tamu Bi inah melihat Rehan yang marah terhadap luna, sedangkan luna masih saja menangis dengan mbah yem yang masih Memeluknya.


" tuan... " ucap bi inah sambil memegang pundak Rehan


Rehan yang mendengar suara bi inah langsung menoleh kebelakang dengan muka yang masih merah karna marah.


" tuan... tenang... ingat kondisi luna" icao bi inah mengingatkan tuannya


Seketika Rehan langsung tersadar dengan sikapnya, dan mengacak acak rambutnya karna menyadari kebodohannya.


Luna yang masih dipeluk oleh mbah yem akhirnya jatuh pingsan karna terlalu takut, akan mendapatkan hukuman dari tuannya.


Rehan yang melihat luna pingsan.. langsung menghampiri luna dengan panik, tapi karna lantai masih licin Rehan kembali jatuh terduduk untuk yang kedua kalinya.


" haaaaa...... " tawa lepas bi inah yang melihat tuannya jatuh terduduk


" bibi... " protes Rehan yang melihat bi inah tertawa terpingkal pingkal.


" sudah... sudah jangan marah maramarah sini bibi bantu" ucap bi inah yang berjalan pelan pelan dan membantu Rehan berdiri.


setelah berhasil berdiri, Rehan menggendong luna yang pingsan kedalam kamarnya, dengan jalan yang lebih berhati hati, karna bagi Rehan tak lucu baginya untuk jatuh yang ketiga kalinya....


.


.


.


Bersambung ☺☺

__ADS_1


__ADS_2