Takdir Luna

Takdir Luna
MENANGIS...


__ADS_3

Sesampainya dirumah.. Rehan meng gandeng luna masuk, di barengi mbah yem yang mengekor dibelakang.


Bi inah yang membuka pintu, begitu terpana dengan apa yang dilihatnya, bahkan harus beberapa kali mengucek kedua bola matanya.


Berusaha memastikan dia tak salah lihat.


" luna... " ucap bi inah yang langsung memeluk tubuh luna.


Karna luna tidak membalas pelukannya, bi inah akhirnya melepaskan pelukan nya.


Melihat seluruh tubuh luna dari ujung kaki hingga rambut.


" Luna... luna" panggil bi inah dengan menggoyangkan tubuh Luna.


Bi inah semakin bingung melihat Luna yang tak menjawab panggilannya.


Luna yang tak bisa menerima kenyataan kalau ayahnya sudah tiada. akhirnya menangis sekeras kerasnya.


Mbah yem yang melihat Luna menangis meraung raung akhirnya, memeluk Luna dan mengusap lembut kepalanya.


" ayah... ayah... ” tangis Luna, sambil menangis sejadi jadinya, dipelukan mbah yem


Bi inah yang melihat Luna menagis, akhirnya menatap Rehan dengan penuh selidik.


" Nanti aku jelaskan" Bisik rehan ditelinga bi inah


" Luna duduk dulu " ucap bi inah.

__ADS_1


Mbah yem yang mendengar ucapan wanita paruh baya itu, akhirnya melepas pelukannya.


setelah mbah yem dan Luna duduk.


bi inah menyajikan teh hangat untuk kedua tamunya.


Tapi lagi lagi bi inah melihat. pandangan Luna kosong, entah sedang memikirkan ap.


" Tuan bawa Luna kekamar dulu"


Tanpa menunggu lama lagi Rehan akhirnya membawa Luna kekamar.


Setelah membawa Luna kekamar. Rehan kembali duduk bersama bi inah.


" Sebenarnya apa yang terjadi dengan Luna mbah?" tanya bi inah pada mbah yem


" Apa " jawab Rehan dan bi inah berbarengan


" Saat itu keadaan Luna hampir mirip dengan sekarang, tatapannya seperti menerawang entah kemana. tapi saat itu mbah, ingat kalau Luna memohon maaf, dan memohon ampun pada tuannya"


Rehan yang mendengar Luna begitu menderita bahkan didalam keadaan pingsan pun dia tetap meminta ampun, tanpa terasa dadanya begitu terasa sesak.


" Tapi saat itu Luna tak membawa barang sama sekali bahkan kartu Identitas pun tak ada. hanya baju pasien dari rumah sakit xxxx yang melekat ditubuhnya"


" Rumah sakit xxxxx? " ucap bi inah


" iya.. saat mbah tanya katanya Luna kabur, karna tak mampu membayar rumah sakit, jadi mbah mengiyinkan dia tinggal bersama mbah, hitung hitung menemani mbah "

__ADS_1


" Rumah sakit xxxx, bukannya rumah sakit dimana dokter gunawan bekerja" ucap bi inah


" Benar... aku akan menanyakan hal ini pada dokter gunawan"


" mbah istirahatlah dikamar, ayo ikut dengan ku" ucap bi inah, di iringi anggukan oleh mbah yem


Rehan yang kembali melihat keadaan Luna kini duduk di samping Luna,


" Maafkan aku Luna... maaf" ucap Rehan dengan tangan yang mengusap pipi Luna dengan lembut..


karna tubuh yang lelah akhirnya Rehan memilih merebahkan tubuhnya diatas sofa.


Rehan yang terus mengingat kejadian demi kejadian bagaimana Luna meminta bertemu dengan ayahnya. dan menagis meraung meraung dengan kepergian ayahnya yang sudah lima tahun. membuat Rehan semakin bingung.


"sebenarnya apa yang telah terjadi, bukannya selama ini kau bersama malik dan membuka restoran dicina, kenapa kau bisa seperti ini. " Batin Rehan yang terus menatap ke awang awang


" Malik... orang seperti apa dia, berani sekali dia membawa istri kecilku. " ucap Rehan


Tengah malam akhirnya Rehan bisa tertidur, walau batinnya ingin sekali memeluk istri kecilnya dan melepas rindu yang terpendam, akhirnya dia urungkan niatnya yang melihat kondisi Luna.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2