
Rehan yang mendengar penolakan Luna secara halus, akhirnya kembali kekamar dengan muka yang dilipat lipat.
Luna yang masih duduk di tepi ranjangnya, masih memikirkan perkataan tuan Rehan yang baginya hanya sebuah mimpi.
" apa, yang tadi aku dengar benar . . apa tuan tidak sedang membuat rencana jahat lagi" Batin Luna
Karna tak sanggup lagi menahan kantuk, akhirnya Luna pun tertidur dengan setumpum pertanyaan yang terlintas di dalam otaknya.
Dilain sisi...
Rehan yang tak bisa tidur karna mendapatkan penolakan secara halus dari Luna, harus merelakn dirinya begadang.
" apa yang harus aku lakukan" batin rehan
tok... tok... tok...
" masuk... " ucap Rehan
Bi inah yang sudah kepo tentang keadaan Luna, pagi pagi sekali sudah mengetuk pintu kamar majikan nya.
" bibi... ada apa datang pagi sekali? "
" Tuan hutang penjelasan dengan bibi" ucap bi inah yang langsung berdiri disamping Rehan menunggu.
" emmm" jawab Rehan bingung harus menceritakan darimana.
Karna melihat bi inah tak bergeming dari tempatnya akhirnya Rehan menceritakan semua yang diberitahukan oleh Dokter Gunawan.
Rehan menceritakan semuanya sambil mengacak acak rambutnya yang tak gatal.
" Tuan sebaiknya kita bawa Luna kerumah sakit yang bagus"
" Benar bi. aku akan konsultasi dengan dokter Gunawan tentang ini"
__ADS_1
" ya sudah... bibi mau memasak"
Rehan yang merasa frustasi dengan kondisi Luna.
ditambah Luna menolak untuk kembali bersama kembali.
Akhirnya memilih melanjutkan tidurnya.
Luna dan mbah yem yang sudah bangun dan membantu memasak.
Sedang bercanda hingga tawanya memenuhi seisi ruangan.
Rehan yang terbangun karna suara tawa akhirnya memilih turun dari kamar.
Saat sampai didapur Rehan terpana akan tawa renyah Luna yang tak pernah dilihatnya selama ini
" cantik" gumam Rehan tanpa mengalihkan pandangannya dari Luna.
"tuan Rehan" ucap mbah yem yang langsung menghentikan tawanya saat melihat tuan Rehan sudah bangun.
Luna yang masih gugup karna pembicaraannya yang terakhir kalinya. beranjak pergi namun ditahan oleh Rehan dan menyuruhnya duduk disamping kuenya.
Luna yang tak berani melawan hanya bisa menurut tapi kedua pipinya bersemu merah karna malu.
Bi inah dan mbah yem yang melihat semuanya tersenyum.
" semoga semuanya bisa diperbaiki" Batin bi inah
" mbah, bibi kenapa kalian hanya tersenyum. ayo cepat duduk kita makan, aku sudah lapar" ucap Rehan yang bingung karna melihat kedua wanita paruh baya itu hanya tersenyum dan berdiri bagaikan patung yang tak bergerak sama sekali.
Setelah menyelesaikan makanan nya Rehan kembali kekamar dan bersiao siap kekantor, tanpa berpamitan pada Luna.
Luna yang merasa tak enak hati telah menolak niat baik tuan Rehan hanya bisa melihat punggung tuan Rehan yang mulai menjauh.
__ADS_1
" apa dia marah karna aku menolaknya"
Luna akhirnya menyusul tuannya kedalam kamar.
Namun naas bagi luna, niat mau memberi penjelasan atas penolakannya, Rehan palah langsung pergi dan tak menghiraukan Luna yang sudah berdiri didalam kamar.
Tanpa sadar air mata Luna kini menetes tak bisa ditahan saat melihat tuannya rak mau melihatnya sama sekali.
" bodoh... kenapa harus menangis. bukannya itu bagus tuan Rehan tak lagi marah atau menyiksanya saat dia marah padaku, kenapa harus menangis" ucap Luna lirih sambil menyeka air matanya.
Rehan yang sudah sampai di kantor langsung mendudukkan bokongnya dikursi kebesaranny.
Rehan yang merasa pusing langsung memijat pelipisnya berusaha menghilangkan rasa sakit.
" tuan.. " panggil Arman yang langsung masuk
" hemm"
" ternyata malik adalah anak dari bapak hairun Gunawan dan ibu susanti"
" Bukannya bapak hairun Gunawan dan ibu susanti adalah salah satu dinatur dalam pembangunan rumah susun geratis"
" Betul tuan"
" lalu"
"sebenarnya beredar kabar bahwa tuan malik membawa pulang seorang perempuan untuk dinikahi, namun karna tuan malik mendapatkan penolakan dari kedua orang tuanya, tuan malik langsung marah dan entah kenapa saat itu non Luna bisa terjatuh dari tangga"
" Rehan yang mendengar ucapan Arman langsung geram mengepalkan tangannya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.. 😊😊