Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
98.


__ADS_3

Setelah sekian banyak drama yang terjadi di hari pernikahan Jose dan Thasiko. Akhirnya Caroline berhasil dibujuk oleh Jefri, untuk kembali ke mansionnya, bersama dengan, Aurel, Zail dan Thasiko yang sedang pingsan. 


Caroline yang sedang berada di mansionnya merasa resah, memikirkan Jefri yang masih berada tepat pernikahn Jose. “Kenapa aku setuju dengan permintaan Jefri, ya? Ah, bodo!" umpat Caroline kesal. 


"Mami …," teriak Axel berlari ke arah Caroline yang berdiri di balkon. 


“Kenapa kau berlari, Sayang?” ucap Caroline sambil berjongkok di depan Axel. 


“Mami sendiri kenapa  diam di sini sendiri?” ucap Axel bertanya balik. 


“Mami, sedang mencari angin segar, Sayang.” Caroline berjalan sambil menggandeng tangan Axel dan bertaya, “owh, ya. Di mana Bibi Thasiko?” 


“Di kamar tamu, Ma antai 3,” Jawab Axel. 


“Ayo, kita lihat kondisi aunty dulu,” ucap Caroline dengan menggenggam pergelangan tangan Axel. 


“Eh … tunggu, Ma. Mami duluan saja, Axel ingin mengambil sesuatu di kamar,” ucap Axel. 


“Ok, jangan lama-lama,” ucap Caroline sembari berjalan meninggalkan Axel yang masih berdiri di tempat. 


“Ok!” seru Axel dengan menunjukan pola ‘ok’ pada tangannya. 


Setelah melihat punggung Caroline menghilang dari balik tembok, Axel mengeluarkan handphone miliknya dari saku celananya. [Beres, Yah ….] Ketik Axel pada keyboard handphonenya. 


[Makasih kesayangan, Papi ingat jaga Mamimu!] perintah Jefri, yang berbalas pesan dengan sang anak. 


[Siap, Pi] balas Axel, dengan mengirim stiker jempol pada Jefri.


***

__ADS_1


Di sisi lain, tepatnya di bawah tanah, sebuah mansion. Terlihat seorang wanita muda dengan raut wajah marah, dengan segerombolan lelaki yang berada di depannya yang sedang bersimpuh dengan kepala yang menunduk. Semua lelaki itu gemetar ketakutan di depan wanita muda yang terlihat marah. 


“Bagaimana, apa kalian berhasil?” tanya wanita itu pada sekelompok pria berbadan kekar yang baru saja datang. 


“Ma-maaf, Nona. Kita gagal dan ada satu kawan kita yang tertangkap oleh mereka.” Mendengar itu, membuat wajah wanita muda itu merah padam 


Pranngggg 


Wanita itu melemparkan vas bunga kaca ke hadapan para pria itu dan berkata, “Dasar pria tak berguna! Untuk apa aku memiliki anak buah seperti kalian yang tidak bisa membunuh seorang wanita saja.” 


“Maaf, Nona. Rupanya mereka terlalu kuat, walau hanya ada lima pria yang melawan kami tapi kekuatan kita dan persenjataan kita tidak sebanding dengan mereka,” jelas pria itu dengan kepala yang tertunduk. 


“Jika mereka bisa sekuat itu kenapa kalian tidak bisa? Apa kalian tidak bisa berlatih menjadi seperti mereka? Apa kalian ini sangat lemah?” bentak wanita itu yang tidak lain adalah Zikia tunangan Ronald. 


Suasana hening sesaat dan kemudian Zikia berkata, “Sekarang salah satu dari kalian pastikan kawan kalian ‘tu tidak memberitahu informasi apa pun!” 


“Baik, Nona.” 


***


“Heh, percuma kau menyiksaku karena cepat atau lambat istrimu itu pasti akan mati,” ucap pria itu dengan senyum mengejek. 


Brakkk 


Dengan kerasnya Jefri melempar pria itu hingga terantuk ke dinding. Banyak darah yang keluar dari luka-lukanya. “Ternyata kuat juga kesetiaanmu, tapi itu tidak akan membuat seorang Jefri gagal,” ucap Jefri tersenyum seram. 


“Miko,” ucap Jefri dan Miko pun berjalan mendekat ke arah Jefri dengan membawa tablet yang sedari tadi ia genggam. 


“Heh, tidak ada gunanya kau memainkan benda pipih itu. Kau tidak akan bisa mengetahui siapa bosku,” ucap pria itu meremehkan kemampuan Jefri. 

__ADS_1


Jefri sendiri tidak menanggapi omong kosong yang dikatakan oleh pria itu. Akan tetapi tak sampai satu menit pria itu selesai mengatakan omong kosongnya, dengan senyum liciknya Jefri pun berkata, “ Ya, benda ini memang tidak berguna. Akan tetapi, apa yang ada di dalamnya berguna.” 


Jefri memperlihatkan sebuah video yang mana didalamnya berisi seorang wanita dan dua orang anak kecil yang sedang digantung. Akan tetapi semua di antara mereka masih bernafas hanya saja wanita itu terluka cukup parah. “Bagaimana? Bukankah benda ini berguna sekarang?” 


Pria itu masih diam membatu melihat keluarganya yang sedang dalam bahaya. Dilema pun menghantui pria itu, antara keluarga dan pekerjaan, sampai saat pria itu akan membuka mulutnya. Sebuah benda yang dilemparkan dari arah jendela pun masuk ke dalam mulut pria itu. 


Dalam hitungan Detik mulut pria itu berbusa dan mati di tempat. Jefri dan yang lainnya kaget melihat hal itu, Jose dan Miko, tanpa perlu Jefri mengeluarkan perintah langsung mencari pelakunya. Lima belas menit sudah mereka mencari, tetapi tetap tidak menemukan sesiapa pun di gedung itu selain hanya bodyguard mereka. 


“Kalian telusuri masalah ini sampai mendapatkan titik terang!” perintah Jefri.


“Ok,” jawab Miko dengan santai. 


“Haisss … baru saja aku menikah, sudah harus lebur, tidak dapatlah aku berduaan,” batin Jose. 


Saat Jefri masuk ke dalam kamar mandi miliknya yang berada di markas, Jefri mendapati sesuatu yang janggal. Dari jendela kamar mandi Jefri melihat adanya tanaman Timi yang sangat lebat di pekarangan markas Black Dragon. Karena seingatnya, ia tidak pernah meminta siapa pun untuk menanam tanaman Timi, tanaman yang paling ia benci.


Dengan gerakan cepat Jefri mengambil pistol miliknya dan menembak tanaman itu. Miko dan Jose yang berada di sebelah ruangan Jefri pun mendengar suara tembakan itu. Dengan cepat mereka berlari ke dalam ruangan Jefri. 


“Jef, apa kau baik-baik saja? Aku mendengar suara tembakan dari ruanganmu,” teriak Miko dengan menggedor pintu kamar mandi Jefri. 


Namun, mereka tidak mendapat jawaban dari Jefri, yang mana membuat mereka mendobrak pintu kamar mandi Jefri.  Alangkah kagetnya mereka saat melihat kamar mandi Jefri yang kosong. Namun, saat Jose melihat ke luar Jendela, Jose kaget karena melihat Jefri yang sudah berada di pekarangan Markas dengan menggunakan kimono handuk. 


Jose pun menarik tangan Miko yang masih mencari-cari keberadaan Jefri. “Kua membawaku ke mana?” tanya Miko. Namun, Jose tidak menjawabnya. 


Sampai mereka di pekarangan markas, Miko justri melontarkan pertanyaan yang membuat Jefri darah tinggi. “Jef, apa kau ingin mencari pengganti kakak ipar?” ucap Miko, saat melihat Jefri mengenakan handuk kimono dengan bagian depan yang terbuka. 


Jefri pun langsung melayangkan vas bunga ke arah Miko dan untungnya Miko dengan cepat menghindari lemparan itu. “Sekali lagi kau mengatakan hal itu, bukan vas bunga lagi yang aku lempar. Akan tetapi tubuhmu itu yang aku lempar ke kandang Mexsi (Hiu peliharaan Jefri)”


Mendengar itu membuat Miko menelan ludahnya kasar dan berkata, “Ok, ok. Aku bercanda ….” 

__ADS_1


Namun, saat Jefri menyingkir dari tempatnya berdiri mata Miko terbelalak saat melihat seorang wanita cantik bercucuran darah. 


  


__ADS_2