Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
18. hamil


__ADS_3

Dokter yang melihat raut wajah kesedihan di wajah Caroline menaikan sebelah alisnya dan bertanya, “Ada apa Nyonya, kenapa raut wajah Anda terlihat buruk sekali?” 


Caroline melihat ke arah sang Dokter dengan mata yang sudah berkaca-kaca. “Anak ini adalah anak yang tidak diharapkan, Dok, anak ini ada karena seorang pria bajingan yang memperkosa saya, hiks …,” ucap Caroline dengan air mata yang sudah berjatuhan, Caroline sudah tidak bisa menahan air matanya. 


Rasa sakit di hatinya, karena di rahimnya tumbuh benih dari pria yang tidak ia cintai, pria yang sudah merebut kesuciannya secara paksa. 


“Saya ingin membunuh anak ini, Dok, saya tidak menginginkan anak ini berada di rahim saya, hiks …,” ucap Caroline ingin memukul perutnya tetapi gerakan tangan Caroline dihentikan oleh Dokter Corzel. 


Pria berwajah tampan dengan rambut pirang dan mata hitam itu menghentikan tangan Caroline dengan cepat dan memandang Caroline dari atas sampai bawah. sempat terbesit pikiran kotor dari pikiran Dokter Corzel, tetapi dengan cepat Dokter Corzel menepis pikiran kotor itu. 


“Apa Anda yakin ingin membunuh kedua bayi yang tidak bersalah ini? mereka tidak bersalah, yang bersalah adalah pria itu, sedangkan mereka tidak mengetahui apa-apa,” ucap Dokter Corzel. 


“Dua?” tanya Caroline.


“Iya, di dalam rahim Anda terdapat dua bayi, dan ini adalah hasil USG-nya.” Dokter memperlihatkan sebuah foto hasil USG rahim Caroline.


Caroline mengambil foto hasil USG itu dari tangan sang dokter. Dan kala melihat foto itu,  Caroline merasakan desiran halus di hatinya. 


Caroline merasakan ada sesuatu yang membuat hatinya tidak tega untuk membunuh dua malaikat kecil yang ada di dalam perutnya. 


Kasih sayang seorang ibu mengalahkan rasa bencinya terhadap pria yang dibencinya. kasih sayang seorang ibu mulai menyelimuti hati Caroline. 


“Apa Anda masih tetap ingin membunuh bayi yang tidak bersalah yang masih berada di dalam kandungan Anda in?” tanya dokter itu lagi.


Caroline mulai menggelengkan kepalanya secara perlahan dan berkata, “Tidak, saya tidak tega.”


Ucapan Caroline membuat sang dokter tersenyum, dan merasa senang mendengar jawaban Caroline. 


Deerrrttt


Derrrtttt


Deeerrrtttt


Handphone Caroline yang ada di samping ranjang atas nakas bergetar dan membuat suasana haru di dalam ruangan itu itu pecah. 

__ADS_1


Caroline mengambil Handphonenya dan menekan ikon berwarna hijau untuk menjawab panggilan. 


[“Hallo?”] ucap Caroline begitu panggilan tersambung. 


[“Hallo, apa ini dengan Nyonya Caroline?”] tanya si penelpon di seberang panggilan. 


[“Iya,”] jawab Caroline. 


[“Begini Nyonya, Saya pemilik dari toko yang Anda sewa, saya tidak jadi menyewakan toko saya kepada Anda dan uang DP yang sudah Anda berikan akan saya kembalikan ke rekening anda,”] ucap pemilik toko dari seberang panggilan. 


Caroline yang mendengar itu jelas saja kaget, mendengar secara tiba-tiba pemilik toko tidak jadi menyewakan tokonya kepada Caroline. Sedangkan uang miliknya sudah digunakan sebagian untuk membeli peralatan untuk membuka toko bunga. 


[“Tapi Kenapa Nyonya? saya ‘kan sudah membayar uang mukanya,”] ucap Caroline.


[“Iya Nyonya, saya juga minta maaf, tetapi di sini ada yang ingin menyewa toko saya dengan harga yang lebih besar jadi saya akan mengembalikan uang Anda,”] ucap sang pemilik toko.


Tutt


Belum juga Carline menjawab, tetapi pemilik toko itu sudah mematikan sambungan teleponnya. 


“Sekarang bagaimana ibu bisa menghidupi kalian, Nak,” gumam Caroline dengan suara yang kecil. tetapi dokter Corzel yang berada di dekatnya masih bisa mendengar gumaman Caroline. 


Dokter Corzel yang mendengar itu menjadi merasa iba pada Caroline, Dokter Corzel membuang nafasnya dan berkata, “Tenang saja, saya akan membantu Anda, Saya akan membantu Anda menunjang biaya kehidupan Anda sampai Anda melahirkan.” 


“Tapi, Tuan, saya bukan siapa-siapa Anda dan saya juga tidak enak merepotkan Anda,” ucap Caroline dengan menatap ke arah Dokter Corzel. 


“Tidak apa-apa Nyonya, saya ikhlas membantu Anda. Lagian di saat kondisi Anda yang sedang hamil seperti ini Anda tidak bisa  bekerja, jadi sebaiknya biarkan Saya membantu Anda, Nyonya,” ucap sang Dokter. 


Caroline terlihat seperti sedang mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh Dokter Corzel. 


‘Benar juga apa yang dikatakan dokter ini, saat sedang hamil begini bagaimana bisa aku bekerja, kasihan anak-anak yang ada di dalam kandunganku, mereka juga akan merasa capek jika aku terlalu bekerja keras. tetapi jika aku menerimanya aku akan merasa tidak enak, aku sama sekali tidak mengenalnya, tetapi dia mau membantuku.’ Batin Caroline bimbang. 


“Baiklah, Dok, saya akan menerima bantuan Anda, tetapi setelah saya melahirkan saya akan bekerja dan mengganti semua uang yang Anda keluarkan untuk saya,” ucap Caroline. 


Dokter Corzel tersenyum dan berkata, “Baiklah terserah Anda saja Nyonya,” ucap sang dokter. 

__ADS_1


Sedangkan di sisi lain, di rumah sakit. Jefri muntah-muntah. Semenjak Jefri sampai di rumah sakit tempat aurel dirawat, Jefri tidak berhenti memuntahkan isi perutnya sedari tadi, bahkan Jefri belum beranjak dari toilet rumah sakit dari semenjak Jefri sampai di rumah sakit. 


Tak berapa lama Zail masuk kedalam Toilet rumah sakit khusus Jefri, dan melihat Jefri yang terkulai lemas di dekat toilet. 


“Apa yang terjadi padanya? kenapa Jefri bisa seperti ini Mik?” tanya Zail yang melihat Jefri dengan keadaan yang menyedihkan. 


“Kau sendiri dokter, kau malah bertanya kepadaku, ya mana aku taulah,” jawab Miko. 


“Sedari saat kita sampai di rumah sakit setengah jam lalu Jefri sudah langsung berlari ke dalam toilet dan setelah itu Jefri sama sekali tidak beranjak dari sini, dia terus memuntahkan isi perutnya,” jelas Miko. 


Zail menganggukan kepalanya mendengar penjelasan Miko dan berkata, “Bantu aku mengangkat Jefri ke ranjang.”


Miko menganggukan kepalanya dan membantu Zail untuk mengangkat Jefri ke ranjang rumah sakit.


Setelah merebahkan jefri ke ranjang, Zail mulai mengeluarkan peralatan medisnya. Zail mengeluarkan Stetoskopnya dan menaruhnya di sekitar dada dan memeriksa denyut nadi Jefri. 


Tetapi Zail tidak menemukan apa-apa, dia tidak menemukan penyebab dari Jefri yang selalu memuntahkan isi perutnya.


“Aneh, aku tidak menemukan penyebab kenapa kau bisa sampai muntah-muntah seperti itu,” ucap Zail setelah selesai melakukan pemeriksaan terhadap Jefri. 


Jefri sudah lemas, ia tidak memiliki tenaga untuk berbicara. Jefri hanya bisa mendengarkan saja apa yang Zail katakan.


“Lalu kenapa Jefri bisa muntah-muntah seperti itu?” tanya Miko. 


“aku juga tidak tau,” jawab Zail dengan mengangkat kedua bahunya. 


“Apa kau pernah menghamili perempuan, Jef?” Tanya Zail kepada Jefri yang masih merasa lemas. 


Jefri berfikir sejenak, ia merasa tidak pernah menghamili siapa pun, namun sedetik kemudian matanya melotot dan berkata, “Caroline!” 


“Apa? kau sudah dapat meniduri tawanan dengan tubuhnya yang aduhai itu?!” tanya Jefri kaget.  


Jefri tidak menjawab ia memasang wajahnya yang terlihat sendu. 


“Heh, kau mengatakan tidak mau, tdak menyukainya, tapi nyatanya di belakangku kau menikungku,” ucap Miko dengan senyum tipis di wajahnya. 

__ADS_1


Setelah Miko mengatakan itu, sedetik kemudian Jefri pingsan. 


__ADS_2