Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
101


__ADS_3

“Siapkan 5 orang orang bertarung terbaik dan tempatkan di setiap tempat yang ada anggota Ronald, jangan lupa panggil Miko, kalian berdua akan ikut denganku!” perintah Jefri. 


“Tapi, Tuan. orang-orang mereka sangat banyak,” ucap Jose. 


“Ikuti saja perintahku.” 


***


Di sisi lain, makan sudah diantarkan ke dalam ruangan VVIP Ronald dan semua hidangan itu adalah makanan kesukaan Caroline. “Silahkan dimakan, Cantik,” ucap Ronald.


“Apa aku harus memakannya? Tapi jika aku tidak memakannya, dia akan curiga,” batin Caroline. 


“Kenapa kau terdiam Caroline? apa kau tidak suka?” tanya Ronald yang mulai merasa curiga dengan Caroline. 


“Ah … bukan-bukan, aku hanya bingung harus mulai memakan dari yang mana karena semua ini adalah makanan favoritku.” Caroline memperlihatkan senyumnya yang terlihat tulus kepada Ronald agar Ronald tidak curiga. 


 “Jika kau bingung, aku akan menyuapimu.” Ronald mulai menyendok makan yang ada di atas meja dan membatin, “Heheh … Sayang, sebaiknya kau cepat makan karena setelah itu kau akan menjadi milikku seutuhnya.”


FLASHBACK ON 


Di dalam ruangan yang sangat gelap terlihat dua orang pria sedang berinteraksi. Kedua pia itu tidak lain adalah Ronald dan Zaki. “Ada apa kau mencariku malam-malam begini di tempat seperti ini?” tanya Ronald dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya.  


“Apa kau sudah lupa dengan kesepakatan kita hari itu?” Zaki melipat tangannya di depan dadanya dan menaikan salah satu alisnya.  


“Aku ingat, tapi kita bisa membicarakannya di tempat terang bukan tempat seperti ini,” ucap Ronald dengan nada yang sedikit meninggi. Bahkan Ronald sendiri tidak tahu di mana dirinya berada saat ini karena saat ia ke sini ia disekap oleh anak buah Zaki.


“Sudah tak perlu banyak bicara, sekarang kau ambil botol ini, kau bisa campurkan cairan ini dua tetes ke dalam makanan Caroline.” Ronald mengambil botol berukuran kecil itu dan berkata, “apa ini? Jangan katakan ini racun?” 


“Bukan, itu adalah cairan yang akan membuat orang melupakan masa lalunya. Di saat Caroline melupakan masa lalunya kau bisa menculiknya dan kau pasti tau apa yang harus kau lakukan setelahnya,”  terang Zaki dengan senyum licik di bibirnya. 


Mendengar itu Ronald pun tersenyum licik dan berkata, “Baiklah … kau ingin aku melakukan apa?” 


“Aku hanya ingin kau membawa anak Jefri kepadaku saat ia lahir,” ucap Zaki dan berjalan meninggalkan Ronald begitu saja. 

__ADS_1


“Heyyy … kenapa kau tinggalkan aku, anntar aku pulang dulu …,” teriak Ronald, tetapi Zaki tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Ronald. 


FLASHBACK OFF


“Gawat jika aku makan sekarang, apakah aman?” batin Caroline. 


“Kenapa  kau tidak membuaka mulutmu?” tanya Ronald. 


Dorrrr 


Belum sempat Caroline menjawab, suara tembakan pistol yang sangat keras terdengar di telinga Ronald dan Carolline. Sontak saja mereka melihat ke arah asal suara, Ronald kaget melihat banyak semua anak buahnya sudah tumbang. Tak lama kemudian Jefri, Jose dan Miko mendobrak pintu ruangan Ronald. 


Jefri dengan cepat menarik Caroline dan berkata, “Sayang apa kau baik-baik saja?” Jefri terlihat sangat khawatir dengan Caroline dan Caroline tidak menjawab ia menganggukan kepalanya. 


“Sayang, kau ikut dengan Jose dan Miko dulu, ya,” ucap Jefri dengan mengusap rambut Caroline dan mencium keningnya. 


“Tidak, aku akan di sini,” ucap Caroline dengan mengerutkan dahinya. 


“Aku tidak bercanda, aku tidak bisa membiarkanmu dalam bahaya. Kau mengatakan kau mencintaiku, tapi kau tidak mau menghadapi bahaya itu bersama, kau malah menghadapinya seorang diri. Apa itu yang kau katakan cinta?” ucap Caroline dengan mata yang berkaca-kaca. 


“Tapi-” 


Jefri menghentikan ucapannya karena sudah tidak tau akan mengatakan apa lagi kepada istrinya yang keras kepala ini. “Baiklah, tapi kau harus menuruti apa kataku,” ucap Jefri tegas. 


“Ok.” Caroline tersenyum manis dan mencium pipi Jefri. 


“Jose, Miko. Kalian Lindungi Caroline,” ucap Jefri dengan tatapan matanya yang tajam. Jose dan Miko pun menganggukan kepala mereka kompak. 


“Ternyata kau sudah menduganya dari awal,” ucap Ronald dengan tersenyum sinis. 


“Ronald sebaiknya kau sadar, aku sudah memiliki suami dan anak. untuk apa kau bertindak sampai sejauh ini?” ucap Caroline. 


“Aku tidak peduli, yang aku mau hanya kau. Hanya kau, Sayang Uhhh … buahmu itu sangat terlihat segar, apa lagi-” 

__ADS_1


Dorrr 


Peluru pistol Jefri meluncur dengan cepat mengenai tangan Ronald. “Berani lagi kau membayangkan tubuh istriku, aku tidak akan segan untuk membunuhmu!” bentak Jefri. 


“Ughhh … kau tidak akan bisa menghentikanku.” Ronald mengeluarkan benda sejenis remot dari sakunya  dan menekan tombol berwarna merah di remot itu. 


Tak lama kemudian segerombolan orang berpakaian hitam dengan kulit hitam pun memasuki ruangan itu. “Hahaha … setelah ini kalian akan habis.” Tawa Ronald menggema di dalam ruangan itu. 


Melihat itu Jefri cukup kaget dan mendekat ke arah Jose dan Miko, lalu berbisik, “Kalian cari celah untuk membawa Caroline pergi dari sini, jangan sampai dia terluka!”


“Ok, tapi bagaimana dengan kau? yang ada di depan kita saat ini sepertinya bukan manusia apa yang akan kau lakukan?” tanya Miko dengan berbisik. 


“Tidak usah banyak tanya, kalian harus menjaga Caroline,” ucap Jefri tegas. 


Ronald tersenyum dan menekan tombol remot yang ada di tangannya. Tak lama kemudian semua orang berpakaian hitam itu menembakan pistol ke arah Jefri, Jose dan Miko. “Bawa Caroline keluar!” teriak Jefri 


Jose yang melihat ada celah untuk ia keluar dari ruangan itu pun dengan cepat ia menggendong Caroline keluar. “Tidak … aku tidak ingin keluar, Suamiku dalam bahaya, apa yang kalian lakukan, turunkan aku!” teriak Caroline. 


Akan tetapi Jose tidak menghiraukan teriakan Caroline dan terus berlari keluar ruangan. Setelah melihat Caroline pergi, Jefri segera berlari ke arah meja makan. Ia menjatuhkan semua makanan yang ada di atasnya, membalik meja itu hingga meja dengan bahan kaca yang dilapisi baja yang cukup tebal itu mampu menahan serangan peluru yang diarahkan kepada mereka. 


"Untuk apa kau masih di sini? keluar!" bentak Jefri kepada Miko.


"Tidak mungkin 'kan aku tinggalkan kawanku ini sendiri, aku akan menggantikan kakak ipar menemanimu menghadapi bahaya," ucap Miko dengan santai. 


“Jangan banyak bicara. Sekarang hidup dan mati tergantung berada di tangan kita,” ucap Jefri terjeda. Tak lama kemudian ia kembali berkata, “Sekarang kau ambil remot kontrol yang ada di belakang sakuku. Setelah kau menekan tombol itu kita lompat dari jendela.” 


Setelah Jefri berkata demikian, Jefri dan Miko, dengan perlahan menggiring meja itu untuk mendekat ke arah Jendela. Ronald yang melihat itu Hanya tertawa dan menganggap jika itu tidak ada gunanya dan berkata, “Tidak ada gunanya kau menyusun rencana lagi. Sebaiknya kau menyerah saja dan serahkan Caroline padaku.”


Jefri dan Miko tidak menanggapi apa yang Ronald katakan. Mereka berusaha untuk menggiring meja bundar itu ke arah jendela untuk menjadi tamengnya. Akan tetapi, saking fokusnya mereka, mereka tidak menyadari jika Ronald mengarahkan pistolnya ke arah Caroline yang  baru saja keluar dari restoran, melalui Jendela dengan arah yang berlawanan dari Jendela yang dituju Jefri. Dengan posisi Ronald yang berada di lantai 3 membuatnya dengan mudah mengarahkan pistol itu menuju Sasaran. 


Saat ini Jefri dan Miko sudah berhasil berada di dekat Jendela dan saat Miko akan menekan tombol pada remot kontrol yang ia ambil dari kantong belakang Jefri. Jefri tanpa sadar menoleh ke arah Ronald dan melihat Ronald yang mengarahkan pistolnya keluar jendela. Melihat itu Jefri langsung berasumsi jika target Ronald adalah Caroline. 


Saat itu juga Jefri keluar dari Meja itu dan berlari menuju Ronald, bahkan Jefri sampai terkena tembak. Saat yang bersamaan pula Miko menekan tombol pada remot itu dan ledakan besar pun terjadi. Akan tetapi saat Miko akan melompat ke jendela, ia masih sempat menarik kerah baju Jefri. Bersamaan dengan itu Roland pun melepaskan tembakannya ke arah Caroline dan Ronald juga terkena ledakan bom yang dipasang Jefri. 

__ADS_1


__ADS_2