
'Apa ini terakhir kalinya aku melihatmu? Apa aku tidak memiliki kesempatan untuk melihat anak-anakku untuk terakhir kalinya?' Batin Carolin, memejamkan matanya di saat dirinya sedang kesusahan mengatur nafas di dalam air.
Dari bawah laut terlihat cahaya matahari yang menyinari lautan itu, dan semakin lama semakin redup.
Prangggg
"Alex ada apa? Kenapa kau melamun seperti itu?" tanya Carzol menghampiri Alex yang berdiri seperti patung di depan meja makan.
Tiba-tiba Alex memegang dadanya, ia merasakan sakit di dadanya. Entah itu karena apa, tapi ada sesuatu yang membuat hatinya tidak tenang.
Alex mendongakan kepalanya melihat ke arah Carzol dan berkata, "Paman, aku ingin menelepon Mama dan Papa."
Carzol yang melihat itu menaikan sebelah alisnya dan berkata, "Tidak biasanya kau seperti ini?"
"Aku ingin menelepon Mama dan papa." ucap Alex dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Hei, hei. Jangan menangis. Paman akan menelpon Mama okey?" Carzol kaget saat melihat Alex yang menangis.
Selama ini bocah yang berumur kurang lebih 7 tahun ini tidak pernah mengeluarkan air matanya.
Ia selalu berusaha untuk memperlihatkan sifatnya yang kuat. Ia tidak pernah menunjukan kesedihannya di depan semua orang.
Carzol segera menelpon, Caroline. Tetapi sudah hampir 15 menit Carzol mencoba menelponnya, tetapi tetap tidak mendapatkan jawaban.
"Kenapa Caroline tidak menjawab panggilanku?" Gumam Carzol, dengan menjauhkan handphonenya dari telinganya.
Carzol mencoba untuk menelepon Jefri, tetapi sudah tiga kali Carzol mencoba untuk menelepon ya tetapi sudah ada jawaban dari sang pemilik telepon.
Sampai akhirnya ada Arzan menjawab teleponnya dan membuat Carzol merasa sedikit lega.
Tetapi Carzol kembali di buat kaget saat mendengar jika yang mengangkat telepon nya bukankah Jefri.
__ADS_1
"Hallo tuan, apa ini dengan kerabat pemilik dari handphone ini?" tanya seorang polisi yang terdengar dari handphone Carzol.
Alex yang mendengar suara polisi terdengar membuatnya menjadi semakin tidak tenang.
"Iya, tuan, saya kakak iparnya apa ada sesuatu yang terjadi dengan ipar saya?" tanya Carzol yang merasa cemas saat mendengar polisi yang menjawab panggilannya.
"Maaf tuan, saya menemukan jika sepasang suami istri terjatuh dari tebing. Karena saya menemukan handphone ini di dekat tebing dan juga potongan baju yang sama seperti wanita yang ada di dalam handphone ini, di dekat tebing. Dan saya juga menemukan mobil Lamborghini yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian."
Deggg
Carzol dan Alex merasa jantungnya berdetak dengan cepat, terutama Alex yang air matanya sudah jatuh membasahi pipinya.
"Pak, bisa kirimkan saya lokasinya? Saya akan secepat mungkin sampai di lokasi." Carzol bergegas mengambil jasnya yang ada di dekat sofa dan berjalan keluar, dengan tangannya yang mematikan handphone miliknya.
"Paman … aku ingin ikut," ucap Alex menggenggam pergelangan tangan Carzol, dengan memperlihatkan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Alex, kau tinggal di sini dulu, ya? Paman ingin mencari mama dan papamu. Jika Alex ikut bagaimana paman akan mencari mereka … di sana sangat bahaya, sebaiknya Alex menemani Axel di mansion paman, Okay?" Carzol menyetarakan tingginya dengan Alex dan mengusap kepala Alex dengan penuh kasih sayang.
Alex menganggukan kepalanya dan Carzol tersenyum kemudian mencium kening Alex.
Carzol segera pergi menuju jepang di mana tempat pasutri itu berbulan madu.
Carzol langsung menuju lokasi kejadian, yang mana di sana sudah ramai dengan orang-orang yang kepo dengan apa yang terjadi.
Carzol memecah keramaian itu dan berhasil masuk menemui polisi. "Pak, bagaimana apa Anda menemukan kakak dan kakak ipar saya?" tanya Carzol begitu ia berada di hadapan pak polisi.
"Belum, Tuan. Sepertinya mereka terjatuh ke tebing itu." Polisi itu menunjuk ke arah tebing yang sangat tinggi dengan di bawahnya yang terlihat lautan dalam.
Carzol melalui handphonenya memerintahkan anak buah Jefri untuk mencari di sekitar laut.
Tak lama kemudian Jose dan Miko datang dengan nafas yang tersengal-sengal. "Bagaimana? Kenapa pasutri itu bisa jatuh ke laut?" ucap Miko begitu nafasnya kembali normal.
__ADS_1
"Aku juga tidak tau, sekarang lebih baik kerahkan kemampuan dan semua koneksi Jefri untuk mencari mereka!" ucap Carzol terlihat sangat cemas.
Miko dan Jose menganggukan kepala mereka. Pencarian di bagi menjadi 3 pasukan Jose, mencari di daerah laut. Sedangkan Miko mencari di sekitar semak. Sedangkan Carzol akan melihat melalui udara.
Mereka sangat pokus dengan pencarian Jefri dan Caroline tetapi diantara mereka tidak ada yang memikirkan siapa yang melaporkan bahwa Jefri dan Caroline jatuh dari tebing.
Tempat itu adalah tempat terpencil dan berada di dekat hutan. Tidak mungkin ada seseorang yang secara tiba-tiba menemukan mobil Jefri di semak semak dan hanya menduga mereka jatuh dari tebing.
Dan jika di reply dari awal, pakai Caroline tidak ada yang tersangkut di pinggiran tebing.
Mereka mulai mencari dengan mengikuti pembagian tugas masing-masing. Tetapi di saat mereka bertiga sudah pergi mencari keberadaan Caroline dan Jefri. Zail dan Aurel datang, dengan Aurel yang sedang menangis sesegukan.
Aurel sempat bertanya bagaimana kejadiannya kepada polisi tetapi tidak akan yang membuatnya jelas.
Axel terbangun dari tidurnya. Ia berjalan menuju taman belakang, tidak sengaja Axel melihat Alex yang sedang menangis sesegukan di taman belakang.
"Wao … ini momen yang sangat langka." Axel mengeluarkan handphone miliknya dan merekam Alex yang sedang menangis sesegukan di taman belakang.
"Hihihi … si raja dingin seperti es itu bisa menangis juga," gumam Axel tertawa kecil melihat kembarannya yang menunjukan sikap lemahnya.
Tetapi secara tidak sengaja Axel mendengar kata-kata yang membuatnya seperti di sambar petir.
"Mama, Papa. Axel mohon, Alex mohon agar mama dan papa selamat. Alex tidak bisa membiarkan terjadi sesuatu kepada Mama dan Papa. Papa pernah berjanji akan menjaga Mama, tetapi bukan berarti Lala juga harus terluka karena menyelamatkan mama saat terjatuh dari tebing." ucap Alex menangis sesegukan.
Brakkk
Handphone yang ada di tangan Axel terjatuh dan membuat Alex menoleh ke arah asal suara. Di lihatnya Axel berdiri di sana dengan ekspresi kaget.
"Apa yang terjadi dengan Mama dan Papa, Kak?" Axel segera berlari menghampiri Alex dan mengguncang bahu Alex, "Bukankah mereka sedang berbulan madu dan ingin membiarkan seorang adik perempuan untuk kita? Tapi kenapa kakak mengatakan Mama dan Lala jatuh dari tebing?! Apa yang terjadi? Jelaskan kepadaku, Kak!"
Axel berucap tanpa membiarkan jeda untuk dirinya bernafas. Sedangkan Alex tidak tahu harus mengatakan apa kepada sang adik.
__ADS_1
"Tenang dulu, Xel. Biarkan aku menjelaskannya dulu." Alex mengelus-elus punggung Axel untuk membuat Axel tenang.