
“Diam!” Jefri melotot ke arah Caroline.
Bukan Caroline namanya jika dia menuruti perkataan Jefri.
Caroline semakin memberontak di dalam mobil dan terus mencoba untuk membuka pintu mobil.
Jefri semakin marah kala melihat Caroline yang terus mencoba untuk membuka pintu mobil.
“Apa kau sebegitu tidak ingin aku berada di sisimu?!” bentak Jefri.
“Iya, aku tidak ingin kau berada di sisiku, aku tidak ingin kau mengganggu kehidupanku!” teriak Caroline.
Jefri semakin marah saat mendengar orang yang ia cintai tidak ingin hidup bersama dengannya.
Jefri mencengkram kedua pergelangan tangan Caroline, dan mencium Caroline dengan brutal.
Caroline memberontak atas perlakuan Jefri. Tetapi karena sudah terselimuti amarah Jefri tidak menghiraukan itu, Jefri semakin erat mencengkram pergelangan tangan Caroline sehingga tanpa sengaja membuat pergelangan tangan Caroline terluka.
“Tuan, kita sudah sampai di apartemen,” ucapan Kornel membuat kegiatan Jefri terhenti dan menggendong Caroline keluar dari mobil dan membawanya masuk ke dalam apartemen Jefri yang ukurannya 10 kali lipat lebih besar dari pada apartemen milik Caroline.
“Apa yang akan kau lakukan … turunkan aku, aku ingin pulang …,” teriak Caroline dengan kedua tangannya dan kakinya yang berusaha untuk lepas dari genggaman Jefri.
Tetapi semua itu sia-sia Caroline lakukan. Tenaga Jefri lebih kuat darinya sehingga membuatnya tidak bisa lepas dari gendongan Jefri.
Sesampainya di dalam apartemen, Jefri langsung membawa Caroline menuju lantai paling atas.
Jefri menggendong Caroline masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan begitu keras. Aura dingin menyebar di sekitar Caroline, walaupun Carolin merasakan takut. Tetapi sebisa mungkin Caroline untuk tidak memperlihatkan rasa takutnya kepada Jefri.
Tetapi semua itu sia-sia saja, karena Jefri yang sudah melihat gelagat Caroline. Jefri tersenyum miring, dan berkata dengan aura yang sangat menakutkan menyebar di sekitar Caroline. "Kau ingin kabur lagi dariku? Hmmm …."
__ADS_1
"Kau tidak akan pernah bisa kabur dariku! Walau sampai kiamat pun aku akan terus mencarimu aku tidak peduli aku hidup atau mati. Kau hidup atau mati, kau adalah milikku sampai kapan pun itu tidak akan berubah!" teriak Jefri, sampai membuat Caroline yang merasakan nafas Jefri yang menerpa wajahnya dan menutup matanya.
"Kau gila, kau tidak akan pernah memilikiku!" teriakan Caroline tak kalah kencang tetapi, hal itu tidak berarti apa-apa bagi Jefri.
rasanya sangat sakit saat seseorang yang sangat di sayangi menolak kita dengan mentah-mentah. entah itu apa, tapi rasanya hati Jefri teriris pisau saat mendengarnya.
'sebenci itu kah kau padaku? aku sangat mencintaimu. aku tau aku salah, apakah aku tidak akan termaafkan di dalam hatimu? apakah aku benar-benar harus mengurungmu kembali? tapi aku sungguh tidak tega terhadapmu. kau wanita yang satu-satunya bisa berada di hatiku. entah itu apa tapi aku tidak akan melepaskannya. walau akhirat menjemputku, aku tidak akan tinggal diam saat kau mulai bergerak menjauh dariku. aku akan membunuh siapa pun itu yang berani membantumu pergi dariku.'
Jefri langsung membungkam mulut Caroline dengan ciumannya dan mendorong Caroline menuju salah satu kamar yang ada di dalam apartemen Jefri.
apartemen yang sangat luas dengan warna tembok ya yang dominan berwarna putih. semua barang barangnya berlapiskan emas murni, yang mana jika di jual harganya akan mencapai triliunan.
bahkan seprai saja bisa mencapai lebih dari itu.
Jefri mendorong Caroline ke ranjang dan mengurungnya di bawah Jefri, dengan ganas Jefri ******* habis bibir Caroline.
mendapatkan penolakan itu sungguh sakit hati Jefri. seakan teriris sesuatu yang tidak bisa di hadapi. yang akan membuat hatinya hancur lebur. sesuatu yang akan membuatnya tak bernafas jika dia menghilang.
Jefri menggigit bibir bawah dari mulut Caroline dan Caroline membuka mulutnya. Jefri tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan cepat lidah Jefri bergerak masuk ke dalam mulut Caroline dan ********** sampai Jefri merasa puas dan secara perlahan membuat Caroline menjadi pasrah.
mata jefri menyipit melihat, caroline yang merasa enggan untuk di sentuh.
Caroline yang mulai hilang kendali yang sudah Caroline tertahan sedari tadi, akhirnya lolos juga dari mulutnya.
Dengan cepat Caroline menggigit bibir Jefri sampai cairan berwarna merah, mengalir dari sudut bibir Jefri.
Jefri langsung melepaskan bibirnya dari bibir Caroline, dan menatap Caroline tajam.
"Beraninya kau!"
__ADS_1
Tetapi saat Caroline mendorong Jefri dengan keras, segera Jefri tersadar dan dengan cepat menangkap tangan Caroline mengunci pergelangan tangan Caroline dengan tangannya yang besar.
Perlahan tapi pasti, Caroline mulai pasrah dan membiarkan Jefri melakukan apa pun.
Jefri merasa senang saat melihat jika Caroline hanya menerima dan tidak berontak membuat senyuman terbit di bibirnya.
Dan dengan perlahan Jefri mendekatkan bibirnya ke bibir Caroline lalu ******* bibir Caroline dengan rakus.
"Caroline," panggil Jefri
Jefri melepaskan tautan bibirnya dan berkata, "AKU, JEFRI AL ZERO TIDAK AKAN PERNAH MEMBIARKANMU KABUR DARIKU!!" dengan dengan keringat yang membasahi tubuhnya
"Sampai kapan pun itu, kau hanya akan menjadi milikku. Dengan kau yang hamil, maka kau tidak akan memiliki alasan lain selain menikah denganku!" Lanjutnya lagi.
Sedangkan Caroline yang mendengar itu hanya bisa diam, tidak merespon apa pun. Dirinya hanya pasrah di bawah kukungan Jefri, walau pikiranya tidak ingin mengiyakan perkataan Jefri.
Air mata Caroline mengalir secara perlahan dari sudut matanya, ada rasa takut dalam hatinya saat mendengar perkataan Jefri.
Caroline tidak ingin terikat dengan Jefri lagi. Dan juga, Caroline semakin takut dengan keselamatan anak-anaknya.
Caroline sangat tau bagaimana kejamnya Jefri, ia tidak ingin anak-anak mengalami hal yang sama dengan dirinya.
Melihat darah dan kekejaman ayah kandungnya sendiri, bisa Caroline bayangkan jika hati anak-anak akan hancur.
Caroline menyesali semua yang ia lakukan dulu, di saat ia memilih untuk bertahan diam di mansion Jefri tanpa mengeluh. mengingat masa-masa itu membuat hatinya sakit. Cambukan, tangisan dan darah. semua itu masih teringsst di kepala caroline. Jika saja caroline bukan orang yang memiliki hati, bisa di pastikan alex dan axel tidak akan ada di dunia ini. tetapi caroline tidak pernah menyesal membesarkan mereka. malah hal itu membuat caroline sangat bersyukur.
'aku tak bisa melihat hati anak-anakku yang suci, bersih dan masih kanak-kanak terluka atau teracuni dengan perbuatan ayah mereka. Anak-anakku adalah nyawaku, mereka semangat hidupku, aku tidak akan membiarkan mereka melihat kekejaman di umur mereka yang masih kecil. Aku ingin mereka hidup dengan baik, aku akan berusaha untuk menjauh dari Jefri supaya anak-anakku tidak terpengaruh olehnya'
Lama mereka bergerumul sampai akhirnya jam 12 malam mereka selesai dan tidur.
__ADS_1