
Malam hari tiba…
Bulan bersinar sangat terang, bentuknya yang bulat membuat semua orang tertarik untuk melihat.
Dan sekarang itulah yang sedang dilakukan Caroline di dalam kamar. duduk menghadap ke jendela dengan memandangi bulan yang terasa sangat cantik baginya.
Tapi saat sedang memandangi bulan yang indah. Tiba-tiba caroline teringat akan perkataan Jefri.
‘Aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku’ Kata-kata itu selalu terngiang di telinga Caroline.
Carzol yang melewati depan kamar Caroline, melihat Caroline melamun, dengan pandangannya yang tertuju ke luar jendela.
Melihat itu Carzol masuk ke dalam kamar Caroline secara perlahan, dan mengusap kepala Caroline dengan berkata, “Apa yang kau lamunkan? Kenapa wajahmu cemberut seperti itu?”
“Aku teringat dengan apa yang dikatakan Jefri saat aku berada di apartemennya,” ucapnya dengan suara kecil, tapi masih bisa terdengar oleh Carzol.
“Kau tidak perlu memikirkan hal itu. Percaya padaku, dia tidak akan bisa mencari informasi tentangmu dan lagi setelah aku menyelesaikan pekerjaanku di Singapura kita akn pindah ke negara lain, dan aku yakin dia tidak akan bisa melacak keberadaan kita.” Carzol tersenyum mengusap kepala Caroline dengan lembut seperti seorang kakak yang menenangkan adiknya.
“Hm … aku percaya hal itu, aku sudah menganggapmu sebagai kakakku.” Caroline menengadah melihat ke arah wajah Carzol.
“Baiklah … jadi kau tidak perlu khawatir. Aku tau, kau dulu memiliki kenangan buruk bersama dengan Jefri. Tapi sekarang kau lupakan itu sisanya aku akan menghadapinya.
“Iya, aku gak boleh lemah. aku gak boleh sampai ditahan lagi oleh Jefri. aku gak mau dijadikan budak lagi olehnya, sudah cukup aku menerima hal itu dulu. Tapi tidak dengan sekarang, aku harus lebih kuat untuk menjaga anak-anak.” Caroline mencoba menunjukan otot-otot yang di punya dengan kedua tangannya yg membentuk huruf ‘L’.
“Iya, kau harus kuat. Sudah jangan melamun lagi. Kau tidak boleh lagi menjadi tawanan Jefri seperti dulu, jangan sampai anak-anak melihatmu disiksa olehnya,” ucap Carzol panjang lebar.
Sedangkan tepat di samping pintu kamar Caroline, Alex mendengar apa yang dibicarakan oleh Caroline dan Carzol.
Alex merasa haus, dan membuatnya terbangun dari tidur nyenyaknya. Tetapi saat akan melewati kamar sang mama, Alex mendengar percakapan mamanya dengan Paman Carzol.
Mendengar jika mamanya pernah disiksa dan dijadikan budak oleh ayahnya, membuat nafas Alex tercekat. Amarah dalam dirinya tiba-tiba meningkat.
Bagaimana tidak? Seorang anak mana yang tidak marah saat mengetahui jika, seseorang yang sudah melahirkan, membesarkan dan merawat mereka hingga sebesar ini, disiksa dan dijadikan budak oleh ayah yang baru mereka jumpai.
Ada rasa sakit di dada Alex saat itu, Alex sudah menaruh harapan pada Jefri, untuk membuat keluarga mereka bersatu kembali, tetapi Alex malah mengetahui hal yang membuatnya sangat marah.
Alex mengepalkan tangannya, wajahnya merah karena menahan amarah. Tapi tiba-tiba saja Alex merasa penasaran kenapa papanya bisa melakukan hal itu kepada mamanya.
‘Bagaimana caranya aku bisa membuat mama menceritakan masa lalunya?’ Batin Alex dengan bola matanya yang melihat ke arah atas serta pikirannya yang bekerja.
“Baiklah, jika kau sudah tenang aku akan kembali ke kamarku dulu,” ucap Carzol dan membalik badannya melangkahkan kakinya ke luar dari kamar Caroline.
Mendengar ucapan Carzol, Alex dengan cepat pergi dari samping pintu Caroline.
Di dalam kamar …
Alex mondar mandir di depan tempat tidurnya, masih memikirkan cara agar bisa membuat mamanya untuk menceritakan masa lalunya.
Tetapi karena tidak mendapatkan ide akhirnya Alex tertidur di atas ranjang.
__ADS_1
Ke esokan paginya, Caroline tidak lagi datang ke perusahaan Al Zero karena dirinya sudah memberikan surat pengunduran dirinya.
Hari ini Caroline hanya fokus mengurus kedua putranya dan sesudah mengantar mereka ke sekolah, Caroline mencari lowongan pekerjaan yang ada di luar negara tempatnya tinggal melalui halaman web.
Sampai siang harinya Caroline masih mencari lowongan pekerjaan itu.
Sedangkan di sisi lain, Alex dan Axel mereka naik ke dalam mobil Carzol. Itu sudah menjadi rutinitas Carzol, Karena biasanya Caroline siang hari masih sibuk dengan urusan kantornya maka dari itu Carzollah yang menjemput Alex dan Axel.
Tetapi jika carzol sedan sibuk mau tak mau Caroline harus izin kepada seniornya untuk menjemput Alex dan Axel.
“Uncle, Axel lapar bisakah Axel minta burger dan pizza?” tanya Axel dengan penuh harap.
“Baiklah …,” ucapnya tersenyum dengan mengusap kepala Axel yang duduk di kursi samping pengemudi.
Saat Carzol sampai di toko langganan mereka. Carzol melupakan Handphonenya dan Alex melihat itu.
Alex tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan mengambil handphone Carzol, yang mana akan Alex gunakan untuk bisa mengetahui apa yang terjadi pada mama dan papanya.
Axel yang melihat kakaknya mengambil handphone Carzol berkata, “Untuk apa Kakak mengambil handphone paman? Bukankah Mama sudah mengatakan untuk tidak boleh mengambil barang yang bukan milik kita!”
“Aku hanya meminjamnya untuk chat mama,” ucap Alex beralasan.
Dan Axel langsung diam duduk kembali dengan manis.
[Caroline, aku ingin tau tentang cerita yang kau alami saat bersama Jefri!] Alex menggunakan nama Carzol untuk mengirim pesan kepada mamanya.
Ting …
[Bukankah kau sudah mengetahuinya, aku sudah pernah menceritakannya kepadamu]
Membaca pesan dari mamanya, membuat Alex berusaha kembali untuk memikirkan alasan yang dapat dipercaya oleh Caroline.
[Aku membutuhkan detailnya, Cerita yang lebih detail untuk bisa menjagamu dan juga Alex dan Axel]
[Baiklah … sampai apartemen aku akan menceritakan detailnya kepadamu.] Balas Caroline.
[Tidak ceritakan sekarang aku membutuhkannya, untuk menghalau Jefri.] Balas Alex sebisa mungkin. walau saat ini ia sangat khawatir jika mamanya mencurigai pesan yang ia kirim.
Tetapi tak butuh waktu lama,sebuah pesan Kembali masuk ke handphone Carzol dan ternyata Caroline menceritakan kembali apa yang terjadi kepada dirinya dan Jefri.
Alex yang membaca pesan dari mamanya, menjadi sangat marah mengetahui sang mama mengalami hal yang sangat menyakitkan saat bersama dengan papanya.
Marah yang kemarin sempat meredam sekarang kembali bangkit dalam dirinya. Tangan Alex mengepal erat tangannya, rasanya Alex sangat ingin memberi alahnya pelajaran.
Saat sedang marah-marahnya Alex melihat Carzol sedang berjalan ke arah mobil dan dengan cepat Alex menghapus semua pesan yang ia kirim kepada mamanya dan menaruh kembali Handphone Carzol pada tempat semula.
Sesampainya di rumah. Alex langsung masuk ke dalam kamar tanpa menyapa sang mama. Tetapi Alex kembali keluar karena Caroline yang memanggilnya untuk makan.
Dan saat selesai makan siang dengan Burger dan Pizza yang Carzol beli tadi. Alex kembali masuk ke dalam kamarnya, Axel yang merasa ada hal yang berbeda dengan kakaknya langsung menyusul masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
“Kakak kenapa?” tanya Axel begitu ia berada di dalam kamar.
“Tidak, aku hanya merasa sedikit pusing saja. aku ingin tidur dulu.” Alex membalik badannya tidur dengan memunggungi Axel.
“Apa perlu memberi tahu mama?” tanya Axel.
“Tidak.”
“Baiklah, jika begitu aku keluar dulu.” Axel berjalan keluar dengan perlahan agar tidak mengganggu kakaknya.
Malam hari pun tiba …
Alex sudah tidak tahan ingin melampiaskan kemarahannya. Sedari saat siang tadi Alex hanya diam membisu. Tidak banyak dari keluarganya menanyakan apa yang terjadi pada dirinya. Tetapi Alex selalu menjawab dengan berbagai alasan, untuk menyembunyikan apa apa yang sebenarnya ada di dalam benaknya.
Alex berjalan ke luar dari apartemen Carzol, di saat semua orang pada tidur, Alex memesan taksi melalui aplikasi online menggunakan tab miliknya.
Tak lama kemudian Alex sampai di apartemen Jefri. Alex mengetahui apartemen Jefri melalui google. Dikarenakan Jefri adalah orang yang sangat terkenal membuat Alex mudah mencari informasi tentang Jefri.
Alex berjalan dengan membawa barang yang pernah Jefri berikan kepada Alex dan Axel saat berada di sekolah.
Ya, Jefri selalu datang ke sekolah Alex dan Axel saat jam pulang. Jefri selalu ingin mengantarkan ke dua putranya pulang tetapi Alex dan Axel, selalu menolak, karena dirinya belum bisa membuat Caroline menerimanya.
Alhasil Jefri hanya bisa memberikan mainan dan kebutuhan kedua putranya dan setelah itu Jefri akan pergi sebelum Caroline ataupun Carzol menjemput Alex dan Axel.
Alex dengan marah masuk ke dalam lift, tak lupa dengan kantong kresek yang dibawa Alex, yang mana berisikan barang pemberian Jefri.
Ting
Alex sampai di lantai 29. Alex melangkah menuju ruangan Jefri, tanpa mengetuk pintu Alex langsung membuka pintu.
yang mana hal itu membuat Jefri yang sedang terfokus pada laptopnya, langsung menoleh ke arah pintu.
“Alex … kenapa kau ke mari sendirian malam-malam begini.” Jefri langsung menghampiri Alex begitu melihat yang membuka pintu adalah Alex.
“Aku hanya ingin mengembalikan ini kepadamu Tuan Jefri, dan juga mulai Sekarang jangan pernah temui Aku dan adikku lagi!” ucap Alex dingin.
Jefri kaget mendengar ucapan Alex. “Tapi kenapa sayang … apa papa melakukan kesalahan kepada kalian?”
Jefri mensejajarkan tinggi badanya dengan Alex dan juga mencoba menggenggam tangan Alex.
Tetapi Alex dengan cepat menepis tangan Jefri dan berkata, “Kau ingin tau di mana kesalahanmu?”
Alex tersenyum miring dan berkata, “Kesalahanmu adalah sudah membuat mamaku menjadi budak! Kau sudah menyakiti mamaku! Kau membuat mamaku tersiksa! Kau memenjarakan mamaku!”
Alex mengeluarkan semua amarahnya dengan berteriak kepada Jefri. Sebenarnya Alex sangat ingin untuk menghajar Jefri, tetapi otaknya masih berfungsi dengan baik.
Alex masih terlalu kecil, pukulan dan tendangannya tidak akan membuat Jefri kesakitan.
Jefri sangat kaget, Alex mengetahui kesalahan yang dulu pernah ia perbuat kepada Caroline. Jantungnya berpacu lebih cepat, tenggorokannya terasa tercekat Jefri tidak bisa berkata apa-apa karena itu memang benar adanya.
__ADS_1
“Dan mulai sekarang, kau bukan ayahku! aku tidak ,memiliki ayah sepertimu!”