Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
44. Alex sadar


__ADS_3

Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar jelas ditelinga Jefri dan Carzol. Ya, semalam mereka tidak bisa tidur, bahkan di bawah mata mereka terlihat jelas warna hitam seperti panda. 


Cklek


Suara pintu terbuka, yang mana memperlihatkan Miko yang masuk dengan membawa buah-buahan di tangannya. 


“Miko, lepaskan ikatan ini!” teriak Jefri dan Carzol begitu Miko menutup pintu. 


Miko terperanjat kaget dan melihat ke asal suara. Miko berusaha menahan tawa saat melihat Jefri dan Carzol yang terikat menjadi satu. 


“BWAHAAH ….” Miko memegang perutnya karena tidak tahan untuk menahan tawanya. 


Bahkan tawa Miko membangunkan Caroline dan Axel. 


“Jika kau berani tertawa lagi aku tidak akan segan untuk memecatmu!” Mendengar ancaman Jefri memuat tawa Miko seketika itu terhenti. 


“Paman, kenapa wajahmu jelek sekali. seperti panda,” ucap Axel dengan tangannya yang mengucek matanya. 


“Hhahahah … dia lebih parah, panda.” tawa Jefri dan Carzol yang sangat nyaring di dalam ruangan itu, hingga membuat singa betina marah dan melemparkan bantal ke arah Jefri dan Carzol. 


“Bisakah kalian tidak ribut pagi-pagi begini!” ucap Caroline memasang wajah garangnya dan membuat Jefri  dan Carzol terdiam. 


Miko yang melihat bosnya bisa di taklukan oleh Caroline hanya dengan sebuah bantal membuatnya menahan tawa.


Moki berjalan ke arah ranjang Carzol dan Jefri dan melepaskan ikatan tali yang ada pada bagian punggung Jefri. Setelah ikatan itu terlepas miko berjalan ke arah nakas dan menaruh buah tangan yang ia bawa di atas nakas. 


Sedangkan Jefri dan Carzol cepat-cepat mereka berjauhan dan menepuk-nepuk badan mereka yang terasa kotor. 


“Arzan, harus aku apakan wanita itu? Aku tidak kuat membiarkannya dikurung lebih lama, dia sama sekali tidak ada lelahnya berteriak, kau lihat mataku ini tidak dapat tidur karena teriakannya.” Miko menunjuk ke bagian bawah matanya memperlihatkan warna hitam panda yang ada di sekitar matanya. 


Jefri mengangkat sebelah alisnya dan bertanya, “Ke mana Jose? bukankah seharusnya dia yang menjaga markas?” 


“Jose sedang menangani kelompok Vallensa di Amerika selatan,” ucap Miko. 


“Setelah ini aku akan ke sana,” ucap Jefri dan segera berjalan ke arah kamar mandi.


“Aku akan ikut denganmu.” Suara Caroline membuat langah Jefri terhenti dan membalikan badannya. 


“Tidak,” ucap Jefri yang terdengar sangat tegas. 

__ADS_1


“Tapi-”


“Sekali tidak, ya tidak! tempat itu akan membuatmu takut, Aku tidak ingin kau terlibat dalam dunia bawah!” ucap Jefri dengan matanya yang menatap Caroline dengan tatapan tajam. 


“Benar apa yang dikatakan Jefri, tidak seharusnya kau mengetahui urusan dunia bawah, itu aka berbahaya untukmu. Nyawamu yang akan menjadi taruhannya,” ucap Carzol menimpali. 


Yang mana membuat Caroline menundukan kepalanya. 


Jefri yang melihat istri tercintanya bersedih tidak bisa berkutik, dan menghembuskan nafasnya kasar. Jefri berjalanke arah Caroline dan memeluk Carolin dengan rasa hangat yang bisa membuat Caroline menjadi tenang. 


“Aku janji, akan membuat dia merasakan apa yang sudah diperbuat kepadamu dan juga Alex. Aku tidak akan membuat dia mati dengan begitu mudahnya. Aku tau apa yang kau rasakan saat ini, tapi percayalh padaku, Okey?” Jefri mengusap puncak kepala Caroline dengan lembut, dan Caroline mendongakan kepalanya keatas melihat wajah Jefri yang mampu membuatnya tenang. 


Setelah melihat wajah Jefri, Caroline tanpa ragu lagi menganggukan kepalanya. Jefri mengecup puncak kepala Caroline dan berkata, “Pintar,” 


“UWEEKKKK ….” ucap Miko dan Carol yang melihat perlakuan Jefri dengan CAroline.


“Paman kenapa? Apa paman ingin hamil?” pertanyan Axel yang polos membuat Caroline dan Jefri tertawa terbahak-bahak. 


Berbeda dengan Miko dan Carzol yang menganga mendengar pertanyan Axel. 


“Kau bodoh, yang hamil itu wanita buka pria.” tidak ada salah satu dari mereka yang berbicara, semua yang ada di sana membali badannya dan melihat ke arah Alex. 


“Alex ….” semuanya berhamburan berlari menuju ranjang Alex. 


“Tidak, Ma … Alex baik-baik saja,” ucap Alex dengan senyum di wajahnya. 


“Papa bangga denganmu Lex, kau bisa menjaga mama dengan sangat baik, suatu Saat nanti kau pasti akan menjadi orang hebat.” Jefri mengacungkan Jempol ke arah Alex. 


“Kakak … jangan tinggalkan aku.” ucap Axel yang merangkak naik ke atas ranjang. 


Alex tersenyum dan berkata, “Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu sebelum kau menjadi pintar!”


“Auuu … bisakah kau lembut sedikit, mau sakit maupun sehat sikapmu sama saja.” ucap Axel memajukan bibirnya. 


“Itu untuk membenarkan otakmu yang oon itu,” ucap Alex. 


“Sudah … jangan bertengkar lagi,” ucap Caroline melerai kedua putranya. 


“Sayang, Papa dan paman Miko keluar sebentar, ya.” Jefri mencium kening Alex dan Axel begitu juga dengan Caroline. 


Setelah Jefri selesai mandi, dengan segera ia pergi menuju markas Dragon Black. 

__ADS_1


Markas Dragon Black 


“Di mana wanita itu?” tanya Jefri dengan Aura dingin yang mulai menyebar. 


“Mari, Tuan,” ucap salah satu anak buah Jefri dan menunjukan jalan di mana Martha berada. 


Tidak lama kemudian Jefri sampai di mana Martha di kurung. Di dalam ruangan yang lembab serta Darah yang terus mengalir, hal itu membuat wajahnya menjadi pucat. tidak hanya pucat tetapi badan yang kurus seperti tulang belulang. 


Martha sudah terlihat seperti orang gila dengan mulutnya yang tidak ada hentinya terus berteriak. 


“Hahaha … akhirnya kau datang,” ucap Martha tertawa seperti orang gila. 


Jefri menaikan sebelah alisnya, dia tidak menyangka seorang wanita yang sudah mengeluarkan begitu banyak darah masih bisa bertahan sampai titik ini. 


“Rupanya kau masih bisa bertahan,” ucapnya tersenyum samar. 


“Aku pastikan tiga bulan dari sekarang Caroline tidak akan lagi mencintaimu, dan lebih memilih seorang pria tua. Whahaha …kau cangkam itu,” ucap Martha yang mana sudah terlihat seperti orang gila. 


“Kau memang sudah gila,” ucap Jefri tersenyum samar. 


“Kuliti dia!” ucap Jefri dengan sangat tegas. 


“Jika setelah dikuliti dia masih tetap hidup, biarkan dia membusur di ruangan bawah tanah sampai di bisa bertahan,” ucap Jefri dan pergi meninggalkan ruangan itu. 


Jefri berjalan menuju ruangan Jose yang mana sekarang sedang ditempati oleh Miko yang menggantikan posisis jose. 


“Ada apa? Kenapa raut wajahmu terlihat panik seperti itu?!” tanya Jefri, melihat raut wajah panik Miko dengan pandangan yang fokus pada layar komputer. 


“Ada yang tidak beres dengan sistem keamanan kita, sepertinya ada yang meretasnya.” ucap Miko. 


“Minggir!” Jefri menarik pergelangan tangan Miko yang mana membuat  Miko berdiri. 


Jefri mengambil Alih laptop itu, walau Jefri bukan peretas handal seperti Carzol, tetapi pengetahuan Jefri lebih cerdas jika sudah berada di depan layar komputer. 


Baru beberapa menit Jefri berada di depan Laptop, tapi suara  teriakan yang keras sudah memenuhi telinga Miko. 


“Apa kau bodoh, Mereka sudah masuk ke dalam markas, Dan kau masih fokus dengan Sistem?!” bentak Jefri dengan muka garang 


“Siapkan-” 


dorrr

__ADS_1


dorrr


dooorrrr


__ADS_2