
Acara pernikahan Jefri dan Caroline telah usai. Semua para tamu telah pulang kembali ke Inggris termasuk Alex dan Axel.
Saat ini Jefri dan Caroline sedang berada di hotel Aman Tokyo. Mereka berdiri dengan saling berhadapan di bawah sinar bulan, tepatnya di balkon kamar mereka.
Dengan pakaian pengantin yang masih belum terlepas dari badan mereka.
"Sayang … semoga cinta kita akan abadi dan tidak ada yang memisahkan kita," ucap Jefri menatap Caroline dengan teliti. Dan semakin lama wajah Jefri semakin mendekat. Tetapi Caroline semakin mundur Seiring dengan langkah kaki Jefri yang berjalan maju.
Caroline berjalan. Mundur sampai masuk ke dalam kamar dan mentok ke dinding kamar.
Nafasnya tercekat saat wajah Jefri benar-benar dekat dengan wajahnya. Bahkan dapat Caroline rasakan tangan nakal Jefri mulai meraba bokongnya.
"Aku tidak pernah tau jika ini juga sangat besar. Pantas saja terlihat ketat. Aku salah ukuran," ucal Jefri. Karena baju pengantin ini adalah buatan Jefri sendiri.
pekik Caroline saat tangan Jefri meremasnya dengan kuat.
"Hihi, ini baru permulaan, setelah ini kita akan membuat adik yang banyak untuk Alex dan Axel." ucap Jefri, mengelusnya dengan lembut.
Kreekkk
"Jefriiiii!!!!" Teriak Caroline saat Jefri menarik gaun pengantinnya dengan satu tarikan dan membuat baju itu sobek dan secara langsung memperlihatkan seluruh bagian atas tubuh Caroline.
Karena bagian bawahnya Caroline masih menggunakan celana ketat yang mana menutupi lembahnya.
"Kau semakin nikmat tiap harinya sayang …," ucap Jefri mencolek lembah Caroline.
Caroline mendorong dada Jefri dan berkata, "Sudah cukup. Aku ingin mandi."
Caroline berjalan ke arah kamar mandi yang mana hanya menggunakan celana pendek yang sangat ketat.
Jefri yang melihat hal itu membuat ****** Jefri bangkit. Jefri melepaskan pakaiannya dengan cepat dan berlari menyusul Caroline sebelum Caroline menutup pintu kamar mandi.
"Apa yang kau lakukan Jefri! Aku ingin mandi, untuk apa kau masuk?!" pekik Caroline, saat Jefri tiba-tiba mendorong pintu yang akan ditutup olehnya.
__ADS_1
"Aku yang akan memandikanmu!" Jefri tanpa aba-aba langsung menggendong Caroline dan menurunkan Caroline ke dalam bak mandi yang sudah terisi dengan air hangat.
"Lepas Jefri, aku bisa mandi sendiri." ******* Caroline lolos begitu saja saat tangan Jefri dengan cepat meraup **** Caroline dan ********** dengan kencang.
"Apakah enak sayang …," ucap Jefri dengan senyum yang menggoda.
Caroline langsung saja menghentikan gerakan tangan Jefri yang ******* buah yang ada di dada Caroline.
"Kenapa kau menahannya sayang … apa kau tidak ingin aku menyentuhmu?" tanya Jefri, yang mana di wajahnya sudah tergambar jelas wajah kekecewaannya.
Caroline yang melihat itu menjadi tak enak dan berkata, "Aku … malu," ucap Caroline dan kepalanya yang menunduk dengan wajah yang merah merona.
Mendengar itu wajah Jefri semakin mendekat dan berkata, "Untuk apa malu, Sayang … bukankah aku sudah melihat semuanya?" ucap Jefri dengan senyum yang menggoda, "bukankah ini juga untuk Alex dan Axel? Mereka pasti akan senang jika memiliki adik lagi."
Caroline meremas pundak Jefri, saat Jefri menurunkan celana ketat yang Caroline gunakan dan memasukan jarinya ke dalam lembah Caroline yang sudah basah.
"Kamu basah, sayang …," bisik Jefri di telinga Caroline dengan menggigit pelan telinga Caroline.
Caroline memejamkan matanya, menikmati permainan Jefri.
Jefri tersenyum senang saat melihat Caroline yang menikmati permainan jarinya. Dengan senyum jahil.
'Astaga, istriku sangat menggoda, bagaimana aku bisa tidak berhasrat setiap hari.'
Melihat buah kesukaannya yang memantul-mantul mengikuti pergerakan badan Caroline, langsung saja tangan yang satunya, meremas buah kesukaannya itu, walau tidak cukup hanya dengan satu genggaman tetapi Jefri dapat merasakan buah kenyal dan padat dan berisi Caroline yang empuk membuatnya merasa semakin *********.
***** Caroline tertahan yang mana terdengar merdu di telinga Caroline.
Jefri mendekatkan wajahnya dan berkata, "Sayanggg … tidak perlu ditahan, lepaskan saja."
"Ti-tidakhhh, nanti ada yang mendengarnya …," ucap Caroline dengan ********.
"Tenang sayang, tidak akan ada yang mendengarnya, ruangan ini kedap suara." Jefri menghisap leher Caroline, yang mana membuat ******* Caroline semakin keras.
Jefri melepaskan jarinya dari lembah Caroline yang berlumpur dan berkata, "lembahmu sangat sempit, Sayang …."
__ADS_1
Blus
Wajah Caroline langsung merah seketika itu.
Jefri tersenyum, Caroline secara spontan langsung membenam wajah Jefri di dadanya.
Jefri yang mendapat rejeki nomplok langsung memainkan, buah kesukaannya sehingga membuat tanda biru di bagian dadanya.
Jefri tidak dapat menahan lagi hasratnya, dan langsung memposisikan tubuhnya. Dengan sekali gerakan batang kayu Jefri sudah masuk ke dalam lembah berlumpur Caroline.
Jefri bergerak semakin liar hingga membuat Caroline terus ********.
Di dalam ruangan itu hanya dipenuhi dengan alunan-alunan merdu dari bibir Caroline dan Jefri. Sampai pada akhirnya mereka selesai di pagi hari.
"Trimakasih, sayang … kau yang terbaik," ucap Jefri dan mencium Caroline yang sudah tertidur lebih dulu karena merasa kelelahan.
Jefri memposisikan tubuhnya di samping Caroline, menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Caroline, dan tidur dengan memeluk Caroline.
Ke esokan paginya, Caroline terbangun dari tidur nyenyaknya. Saat Caroline membuka matanya, Caroline tidak menemukan adanya Jefri di samping.
Saat Caroline menggerakkan badanya, semuanya terasa sakit, "Astaga … bagaimana dia bisa melakukan ini, dia melakukannya sampai berjam-jam. Bahkan sampai pagi, hingga membuat badanku remuk." Caroline memegang pinggangnya yang terasa ngilu dan sakit di bagian pinggulnya.
Caroline berusaha untuk bangun dan berjalan ke kamar mandi dengan cara jalannya yang sedikit mengangkang dengan tanpa busana sama sekali.
Setengah jam kemudian Caroline sudah keluar dari ruang ganti dengan menggunakan baju yang serba tertutup untuk menutupi semua tanda yang sudah Jefri buat di tubuhnya.
Baju lengan panjang dan keras yang menutupi lehernya serta celana kaos panjang.
Jefri yang duduk di atas ranjang dengan berpakaian rapi mengkerut keningnya saat melihat Caroline yang berjalan dengan sedikit mengangkang dan pakaian yang serba tertutup.
"Ada apa denganmu kenapa kau berjalan seperti itu?" tanya Jefri dengan keningnya yang mengkerut.
"Ini semua salahmu!" ucap Caroline memalingkan wajahnya.
Jefri pun mengerti apa ya g sedang berlaku di sini. Jefri tersenyum dan berkata, "Bukankah itu nikmat sayang … aku ingat kau mendesah dengan merdu kemarin." Jefri mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat bibir Caroline.
__ADS_1
"Manis," gumam Jefri dengan lidahnya yang menjilat bibirnya.
“Sudah ih … kau diam!” Jefri tetap saja tersenyum ia tidak merasa bersalah sama sekali telah membuat istrinya kesakitan. Justru sebaliknya Jefri sangat senang melihat wajah Caroline saat ini