
Mendengar ucapan Robdi, tatapan mata Jefri pun berubah menjadi semakin menyeramkan dan berkata, "Bawa orangnya ke hadapanku!"
Seketika itu semuanya langsung diam membisu. Tidak ada suara yang terdengar, sehingga membuat Jefri naik darah karena tidak ada yang menjawab ataupun mengambil tindakan.
"Apa kalian semua tuli! Aku menyuruh kalian membawa orang itu ke hadapanku! Apa kalian sudah bosan hidup?!" Bentak Jefri. Seluruh ruangan itu dipenuhi dengan hawa membunuh yang berasal dari Jefri.
Dorrr
Kesabaran Jefri pun mulai habis dan menembak secara asal salah satu orang yang sedang berlutut di depannya. Darah muncrat ke sana ke mari. Bahkan kebanyakan dari mereka sampai teriak dan gemetar ketakutan.
"Jika tidak ada yang menjawab, aku akan membuat kalian semua yang ada di sini hanya badan tak bernyawa," ucap Jefri, seiring dengan berjalannya waktu. Ruangan itu menjadi semakin mencekam, bahkan aura dingin yang biasanya hanya akan keluar saat bertempur melawan musuh, kali ini keluar bahkan lebih menakutkan dari saat di Medan perang.
"Tu-Tuan, itu Ziki tidak ada di sini. Sepertinya Ziki sudah ka-"
"Tuannn …," ucapan Rodbi terpotong dengan teriakan salah satu bodyguard yang berlari masuk ke dalam ruangan eksekusi.
Mendengar teriakan itu, jefri tidak menjawab. Ia hanya menatap bodyguard itu dengan tatapan horor. Bahkan semua yang ada di sana merinding melihat tatapan Jefri yang sangat menyeramkan.
Bodyguard itu seakan mengerti arti tatapan Jefri dan berkata, "Tuan kami menemukan mayat di samping tembok mansion."
Aura Jefri makin menyeramkan mendengar hal itu. "Mayat siapa itu?" tanya Miko yang berdiri di dekat pintu ruangan eksekusi.
"Mayat Ziki, Tuan … dan mayat itu sudah membusuk, sepertinya sudah lama," ucap bodyguard itu yang masih berdiri di depan pintu.
"Itu tidak mungkin, baru pagi ini aku dan Ziki berbicara bagaimana mungkin mayatnya membusuk. Jika pun dia mati, kematiannya pasti tidak akan terjadi sebelum aku bicara dengannya lagi tadi dan mayatnya tidak mungkin membusuk," ucap Rodbi menyangkalnya, karena pagi tadi ia masih berbicara dengan Ziki.
Pagi tadi memang Ziki masih berada di mansion. Namun, saat Ziki mendengar jika Jefri menyuruh semua bodyguard pelayan dan koki dan semua bawahan Jefri yang menjaga mansion untuk segera ke markas. Itu membuat Ziki alias Zaki ketar-ketir, ia sudah menduganya jika Caroline pasti akan langsung meninggal saat memakan racun yang ia campur di sayur itu.
Zaki langsung saja diam-diam pergi meninggalkan masion, untuk memberi laporan kepada Italia orang yang selama ini menjadi penyokongnya untuk membunuh Caroline.
Mendengar semua itu membuat Jefri merasa ada yang tidak beres, dan berkata, "bawa aku ketempat itu."
__ADS_1
"Baik, Tuan, Mari …," ucap bodyguard itu. Ia menuntun Jefri menuju tempat di mana bodyguard itu menemukan mayat Ziki
***
"Nona, tugas saya sepertinya sudah selesai. Caroline sudah meninggal, apa kau bisa memberikan apa yang saya inginkan sekarang?" ucap Zaki dengan badannya yang menunduk di hadapan Italia.
Mendengar itu Itali menaikan sebelah alisnya dan tertawa keras. "Hahahaha … bodoh."
Pranggg …
Ucapan Itali dan juga suara gelas pecah yang di lempar Italia tepat ke samping Zaki.
"Pantas saja kau dapat dengan mudah di buat jatuh miskin oleh keponakanmu itu. Kau terlalu bodoh, apa kau pikir semudah itu membuat Caroline meninggal, kau lihat ini," ucap Italia dengan menunjukan sebuah rekaman yang mana menunjukan Jefri menemukan Ziki yang meninggal dan mayatnya pun telah membusuk.
"Mereka menemukan mayat Ziki dan masih terlihat tenang, itu artinya tidak terjadi apa-apa pada Caroline." Itali menarik handphone miliknya dan melemparnya ke sembarang arah.
Melihat rencananya yang lagi-lagi, gagal untuk membunuh Caroline membuat Itali naik darah.
"Maaf, Nona, saya teledor. Akan saya usahakan secepat mungkin wanita suala itu mati, Nona, saya permisi." Zaki pamit begitu saja dan keluar dari ruangan Italia.
***
Jefri melihat mayat yang ada di samping tembok mansion miliknya pun menutup hidungnya saat mencium bau busuk yang sangat menyengat.
Melihat keadaan mayat itu yang sudah mulai membusuk. Jefri berkata, "Zail, bawa mayat ini dan lakukan otopsi sesegera mungkin!" Perintah Jefri dan berjalan menjauh.
"Aku ingin hasilnya besok sudah ada di atas mejaku. Jika aku tidak melihatnya besok, habis kau," Mendengar ucapan jefri yang terakhir, tentu saja membuat Zail merinding melihat wajah yang menyeramkan itu.
"Miko, kau terus selidiki siapa yang menaruh racun di dalam sayuran itu. Sampai pelakunya sudah pasti diketahui, lalu suruh Bi Michi untuk mengganti semua bahan yang ada di dapur tanpa terkecuali kau harus melihat dan menangani itu sendiri. Jika sampai ada masalah seperti ini lagi, kau juga akan berhadapan denganku!" Ancam Jefri menunjuk Miko dengan tatapan tajam dan menyeramkan Jefri pun mulai menaiki mobilnya menuju mansion karena sudah berada di gerbang mansion, jarak dari gerbang ke pintu mansion Jefri membutuhkan 1 km untuk sampai ke pintu mansion.
Gluk …
__ADS_1
Miko menelan salivanya kasar, ia tau apa yang akan terjadi jika hal itu sampai terulang kembali. Ia ingat apa yang sudah pernah ia alami saat ia lalai menjaga Caroline.
Semua aset miliknya disita dan juga Miko harus pergi ke sebuah pulau terpencil beberapa hari.
***
"Sayangg … aku pulang." Suara teriakan Jefri membuat Caroline dan juga anak-anak membalik badannya saat mendengar suara yang sangat mereka kenai itu.
Anak-anak yang awalnya sedang menonton TV dengan masing-masing dari mereka memegang popcron pun berlari menghampiri Jefri kecuali Alex.
"Papi …," teriak mereka menghampiri Jefri.
"Ada apa ini? Kenapa kalian tiba-tiba memeluk Papi seperti ini? Pasti ada yang kalian mau 'kan?" tanya Jefri dengan menunjuk ke arah putra dan putrinya.
"Papi … kita ke wahana bermain yuk," ucap Axel dengan menunjukan pupy eyesnya kepada Jefri.
Jefri mensejajarkan tinggal badannya dengan Alex dan berkata, "Boleh, asal kalian mendapat izin dari Mami."
Gluk
Axel menelan salivanya kasar dan berkata, "Pa, boleh ya … tanpa izin Mami."
Axel pun memeluk kaki Jefri dengan erat, ia tau jika Caroline tidak akan membiarkan putranya ini pergi ke wahana bermain.
"No, jika tidak ada izin dari mami kalian tidak boleh pergi," ucap Jefri dengan tegas.
"Memang kenapa kak, kalau kita minta izin dari mami? Mami kan baik, dan sayang sama kita, pasti mami memberikan kita izin," ucap Aulia dengan sangat percaya diri.
Axel menarik Aulia, Amar dan Zamar menjauh dari jalan Jefri. Enatah apa yang akan Axel katakan kepada saudara-saudaranya itu.
Jefri pun berjalan ke arah sofa di mana ada istri tercintanya dan juga putra sulungnya. Yang selalu bersikap layaknya orang dewasa.
__ADS_1
selamat membaca 😊