
Melihat raut wajah Jefri yang seperti itu, membuat Axel menghentak-hentakan kakinya kesal, sedangkan Alex menatap Jefri dengan tajam. Mereka tidak terima jika Jefri akan membatalkan janjinya. Karena mereka sudah sangat mengharapkan mempelajari banyak senjata-senjata tajam.
Jefri melihat raut wajah putranya pun hanya bisa menghembuskan nafasnya dan berkata, "Baiklah … tapi kalian harus janji. Kalian diam dulu di ruangan, Papi, jangan keluar sebelum Papi datang okey?"
Mendengar ucapan Jefri, Axel dan Alex saling pandang satu sama lain. Mereka berpikir jika mereka akan melanggar perkataan Jefri tanpa sepengetahuan Jefri. Namun, sangat disayangkan Jefri dapat membaca cara berpikir kedua putranya itu.
"Jangan berpikir, Papi tidak tau apa yang ingin kalian lakukan. Jika kalian berani melanggarnya jangan pernah berharap, Papi akan mengajarkan kalian!" ucapan jefri terdengar sangat tegas kepada kedua putranya itu.
Tatapan nyalang Jefri berikan kepada axel dan Alex yang mana membuat kedua pria kecil itu menunduk. Alex dan Axel tidak dapat membantah lagi, mereka hanya bisa menganggukan kepala.
Melihat jawaban kedua putranya yang sangat memuaskan membuatnya tersenyum senang. Jefri pun mengajak mereka ke markas dan menempatkan kedua putranya itu di ruangan pribadinya. Tak lupa Jefri menempatkan kedua bodyguardnya di depan pintu ruangannya untuk menjaga kedua putranya.
"Ingat, jangan sampai terjadi apa pun pada mereka, dan jangan sampai ada yang membiarkan mereka keluar dari ruangan sebelum aku datang!" ucap Jefri mengingatkan tugas dari kedua bodyguard yang menjaga Alex dan Axel.
"Baik, Tuan," jawab mereka kompak.
Jefri pun melenggang pergi dari pintu ruangannya. Saat ini Jefri berada di dalam ruangan Miko, yang mana Miko sudah menunggunya dari tadi dengan tangannya yang masih asik pada tabletnya.
Brakk
Jefri menggebrak meja Miko. Karena Miko yang tidak memperhatikan dirinya yang baru masuk dari pintu. Gebrakan itu tentu membuat Miko marah dan hampir saja memarahi Jefri.
"Apa?" ucap jefri yang terdengar sedikit meninggi, "mau marah?"
Sebelah alisnya terangkat dan menatap Miko tajam. Miko hanya bisa menunduk, ia tidak bisa melawan Jefri walau ia adalah sahabatnya. Namun itu tetap saja saat ini statusnya adalah bawahannya.
"Di mana mereka?" tanya jefri setelah amarahnya mulai reda.
"Ayo," ucapnya dengan tangannya yang melambai ke arah Jefri.
__ADS_1
Miko pun mengajak Jefri menuju ruangan bawah tanah. Ruangan yang berada di tempat paling jauh yaitu 40 meter di bawah tanah. tak lama kemudian Jefri dan Miko pun sampai di ruangan itu. Di sana terlihat satu keluarga yang seperti memiliki tatapan kosong.
***
“Xel, apa kau tidak penasaran kenapa papi tidak mengizinkan kita keluar dari sini?” tanya Alex yang mana saat ini mereka sedang duduk di ruangan Jefri. Jefri tidak ingin kedua putranya bermain senjata tanpa ada pengawasan darinya.
“Ya … penasaran, sih. Tapi aku tidak ingin melanggar, bagaimana jika papi beneran akan membatalkan rencananya untuk mengajari kita?” jawab Axel yang mana masih asik dengan buku bacaannya.
Alex mendengar jawaban Axel pun hanya membuang nafasnya kasar. Alex pun hanya melanjutkan kegiatannya membaca buku tanpa melakukan apa pun.
Walau di dalam hati Alex masih sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh papi mereka. Lama mereka membaca buku, sampai satu jam kemudian mereka mulai bosan dengan bacaan mereka.
"Haiisss … papi kenapa lama banget, sih," ucap Axel kesal. Ia mulai turun dari Sofanya dan membuka lemari yang mana menjadi pintu rahasia.
Hal itu pun diikuti oleh Alex karena ia juga merasa bosan. Walau sudah dua kali melihat ruangan itu mereka tetap saja kagum dengan semua senjata yang ada di sana.
Mata Alex tiba-tiba saja tertuju pada sebuah busur panah dan juga anak panahnya. Alex ingin mencoba busur itu. Namun, belum juga Alex menyentuh busur itu pintu ruangan rahasia itu sudah terbuka oleh kedua bodyguard Jefri.
"Aku bisa paman," ucap Alex menatap tajam ke arah bodyguard itu.
Sedangkan bodyguard yang satunya sedang menghubungi Jefri tentang kejadian ini. Tak lama kemudian, mereka mendapatkan pesan jika mereka boleh mengajari Alex dan Axel. Namun, keselamatan mereka harus diutamakan jika berani membuat putranya terluka keluarga mereka taruhannya.
***
Di ruangan bawah tanah, Jefri sudah berhasil membuat semua anggota keluarga Snack kembali normal. Ternyata benar dugaan mereka jika seluruh keluarga Snack terkena hipnotis.
Miko langsung saja menanyakan di mana keberadaan Mona dan Marcell dan ternyata selama ini mereka berada di pulau terpencil di Indonesia. Mereka hidup dengan nyaman menggunakan semua barang milik keluarga itu.
Jefri memerintahkan Miko untuk menangkap Mona dan Marcell dan segera kembali ke ruangannya. Jefri khawatir jika meninggalkan Axel dan Alex hanya dengan bodyguardnya ia tidak yakin jika kedua bodyguardnya bisa menjaga Alex dan Axel sebaik dirinya.
__ADS_1
Saat membuka pintu ruangan rahasia Jefri melihat pemandangan di mana yang terjadi justru sebaliknya. Kedua putranya itu menjadikan kedua bodyguardnya sebagai bahan latihannya.
"Tuan … tolong, Tuan …," teriak kedua bodyguard itu ketakutan. Bagaimana tidak? Axel dan Alex menjadikan mereka bahan latihan memanahnya. Di atas kepala kedua bodyguardnya terdapat sebuah apel dan apel itu akan dipanah oleh Alex dan Axel.
Bahkan kaki mereka sampai gemetar saking takutnya. Karena Alex dan Axel baru belajar mereka takut jika panah Alex dan Alex tidak tepat.
Bless
Kedua bodyguard itu memejamkan matanya ketakutan. Namun, saat membuka matanya ternyata pahan Alex dan Axel tepat sasaran sehingga menerbitkan senyuman di bibir kedua bodyguard itu.
"Apa kalian sudah selesai bersenang-senangnya?" tanya Jefri menelisik kedua putranya itu.
Alex dan Axel menganggukan kepalanya senang. Jefri hanya dapat membuang nafasnya, ia mengira tadi tembakan Alex dan Axel akan meleset karena mereka baru belajar.
Dan Jefri sungguh tidak percaya jika mereka berdua dapat dengan cepat mempelajarinya.
"Sayang … kita pulang dulu ya? Ini sudah malam. Jika mami tau kalian tidak dirumah saat dia bangun kalian juga akan kena marah," ucap Jefri memberi pengertian kepada kedua putranya.
"Iya, tapi Papi janji akan membawa kita ke sini besok setelah pulang sekolah?" ucap Axel yang menunjukan jari kelingkingnya.
"Janji." Jefri pun menautkan kelingkingnya di jari putranya itu.
***
Saat sedang dalam perjalanan pulang, jalanan menjadi sepi, karena saat ini sudah menunjukan pukul 3 pagi.
Dussss
Tanpa diduga tiba-tiba saja ban mobil yang mereka kendarai meledak dan membuat mobil menjadi oleng. Jefri berusaha mengendalikan mobil, sedangkan Alex dan Axel sudah ketakutan jika mereka akan menabrak sesuatu.
__ADS_1
"Sayang … kalian pegangan erat, papi akan berusaha mengendalikan ini mobil," ucapnya dengan tangannya yang memegang setir mobil dengan kuat.