Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
43. Donor darah


__ADS_3

Semua orang melihat ke arah asal suara, dan semua yang ada di sana kaget melihat kehadiran Carzol yang ada di sana, kecuali Jefri dan juga Miko.


“Iya, Tuan, Tuan Carzol bisa melakukannya, dia adalah paman Alex. dan kemungkinan darah mereka sama.” ucap Miko, dan hal tu tentu saja membuat Caroline semakin bingung.


“Bagaimana bisa, Carzol menjadi paman Alex? Carzol hanya paman angkat Alex dan Axel.” tanya Caroline bingung.


“Nanti akan aku jelaskan, Sayang ….” Jefri mengusap lembut kepala Carolin.


“Silahkan lewat sini, Tuan.” ucap sang dokter menunjukan jalan kepada Carzol


Setelah pintu ruangan tertutup. Caroline menatap penuh tanya kepada Jefri. Saat pandangan mereka bertemu, Jefri mengerti arti dari tatapan itu dan membuang nafas kasar lalu menjawab dengan suara yang lembut.


“Baiklah … aku akan menjawab rasa ingin taumu itu.” Jefri mengusap kepala Caroline dan mengajak Caroline dan Axel duduk di kursi yang ada di dalam ruang tunggu miliknya.


Jefri yang duduk dengan memangku Axel dan merangkul Caroline. dan berkata, “Carzol adalah kakak kandungmu, saat itu ayah dan ibumu terpaksa menaruh Carzol di panti asuhan, karena mereka tahu jika paman dan bibimu memiliki rencana yang sangat licik, akhirnya mereka membawa Carzol ke panti Asuhan untuk melindunginya. Sebenarnya saat itu mereka ingin melakukan hal yang sama denganmu, tetapi paman dan bibimu sudah mengetahui soal kelahiranmu,” Jefri menunda perkataannya yang mana membuat Caroline semakin penasaran, "selama ini mama dan papa, selalu datang ke panti asuhan untuk melihat perkembangan Carzol, tetapi tepat saat kau berusia lima belas tahun, papa dan mama pergi ke panti asuhan untuk menjenguk Carzol tetapi saat itu bibi dan juga pamanmu memiliki niatan buruk untuk mengambil alih perusahaan milik ayahmu. Dengan menabrak kendaraan yang di kendarai oleh papa dan mamamu.”


Jefri menghembuskan nafasnya setelah ia selesai menceritakan semua yang dia tau, saat jefri menoleh ke arah Caroline dan Axel betapa terkejutnya dia saat melihat istri dan anaknya menangis dalam diam.


“Hei … hei, jangan menangis. Kenapa kalian menangis? Semua itu sudah berlalu, dan sekarang kita hanya perlu menikmati hidup kita dengan bahagia.” Jefri bingung harus melakukan apa. Selama ini dia tidak pernah belajar cara untuk menenangkan orang.


“Papa, kau perlu belajar kepada paman Carzol untuk menenangkan orang,” ucap Axel menghapus sisa air matanya.


“Jika kau sudah mengetahui hal ini, mengapa kau tidak mengatakan yang sejujurnya kepadaku?” Caroline menatap Jeri dengan penuh amarah.


Gluk


‘Sepertinya aku salah’ Batin jefri.


Jefri ingin mengatakan sesuatu, tetapi Caroline sudah lebih dulu pergi dari hadapannya. Dengan segera Jefri menurunkan Axel dan menitipkannya kepada Miko.


Jefri pergi mengejar Caroline yang sedang marah, saat jefri sudah berada di dekat pintu rumah sakit. Jefri melihat Caroline yang menangis di ambang pintu.

__ADS_1


Dengan perlahan Jefri menghampiri Caroline dan memeluknya dari belakang. “Ada apa denganmu … kau bertemu dengan saudara kandungmu, apa kau tidak senang?”


Caroline menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku tidak tau harus bagaimana. Aku merasa senang karena aku memiliki seorang kakak, tetapi aku merasa sedih karena kau menyembunyikan hal sebesar ini dariku.”


“Dia menyembunyikan ini darimu untuk kebaikanmu sendiri, dia tidak ingin jika kau melakukan hal ceroboh untuk balas dendam kepada paman dan bibi.” Semua orang menoleh ke arah asal suara, dan itu bukan Jefri melainkan Carzol yang datang menghampiri sepasang kekasih itu dengan membawa tabung infus.


“Kakak …,” gumama Caroline dan melepaskan pelukan Jefri darinya dan berjalan memeluk Carzol.


Ada rasa iri dalam hati Jefri saat melihat Caroline yang memeluk Carzol.


“Sudah okey? Kau jangan menangis, jika kau menangis itu artinya kau tidak suka bertemu dangan kakakmu yang tampan ini.” Caroline langsung menghapus air matanya dan berkata, “Tidak aku sangat bahagia memiliki seorang kakak.”


“Kakak, seharusnya kau beristirahat di dalam kamar.” ucap Caroline.


“Tidak apa-apa, aku sudah menduga kau akan menangis jika mengetahui hal ini, karena itu aku menyusul kalian.” ucap Carzol yang terdapat kelembutan di dalam suaranya itu.


“Ya sudah, sekarang aku akan mengantarmu kembali keruanganmu.” Caroline menuntun Carzol dengan memapah lengan Carzol.


Sedangkan Carzol yang melihat ekspresi Jefri, tersenyum penuh kemenangan. Dan Berbicara tanpa mengeluarkan suara kepada Jefri, “Kau berhutang kepadaku.”


Jefri yang mengerti bahasa bibir Carzol pun menyadari, jika kakak iparnya melakukan ini tidak cuma-cuma tetapi pasti menginginkan sesuatu.


Carzol ditempatkan diruangan yang sama dengan Alex, agar memudahkan mereka untuk melihat proses penyembuhan mereka.


Caroline tidur di samping Alex, begitu juga dengan Axel. Sedangkan Jefri tidur dengan Carzol, bukan karena kasur itu tidak cukup. Kasur itu bahkan lebih dari cukup karena kasur itu bisa ditempati sampai lima atau enam orang.


Tetapi karena Caroline masih belum memaafkan Jefri, karena menyembunyikan identitas Carzol sebenarnya, begitu juga dengan Carzol yang tidak mengatakan identitasnya kepada Caroline sehingga membuat sang ratu marah.


“Sana kau, jangan dekat-dekat denganku!” Jefri mendorong Carzol untuk menjauh darinya.


“Siapa juga yang ingin berdekatan denganmu, aku ini masih normal!” Carzol dan Jefri tidur dengan saling membelakangi bahkan merekam membangun pembatas di antara mereka dengan menggunakan guling sampai sepuluh tumpuk.

__ADS_1


“Papa, Paman, kalian ini tidur saja sampai bertengkar! Apa aku perlu mengajarkan kalian bagaimana cara tidur yang benar!” Axel berdiri di atas kasur dengan kedua tangannya yang berkacak pinggang.


“Itu bukan, papa yang melakukannya, Sayang … tapi pamanmu yang selalu berdekatan dengan, Papa,” ucap Jefri mencari kebenaran.


“Itu tidak benar Xel, Papamu dari tadi selalu memundurkan bokongnya sampai tembok pembatas yang Paman but bergeser,” ucap Carzol membela diri.


Telinga Caroline terasa panas mendengar pertengkaran antara suaminya dan juga kakaknya. Caroline perlahan turun dari ranjang dan berdiri di samping ranjang Jefri dan Carzol.


“Jefri kemari!” perintah Caroline dengan menggunakan jari telunjuknya yang bergerak ke arahnya.


Jefri merasa senang, karena mengira jika Caroline akan memintanya untuk tidur dengannya.


“Kakak, kau berdiri!” Begitu Carzol berdiri. Caroline menarik kerah baju Jefri dan mendekatkannya dengan Carzol.


“Axel ambil tali itu dan ikat mereka!” perintah Caroline, dengan menunjuk pada tali yang ada di atas nakas samping ranjang Alex.


“Okey.” Axel segera mengambil tali dan mengikat Carzol dan juga Jefri.


“Caroline apa yang kau lakukan!” ucap Jefri dan Carzol bersamaan.


“Ini adalah cara jitu untuk membuat kalian tidur bersama,” Caroline menepuk-nepuk kedua tangannya.


“Bagaimana Xel?” tanya Caroline.


“Beres, Ma.” Axel mengacungkan Jempolnya ke arah Caroline.


Lalu Caroline mendorong Carzol dan jefri yang sudah diikat, dengan kedua badan mereka menempel dan berhadapan. Carzol dan Jefri terjatuh di atas kasur dan Caroline tinggal membenarkan posisi mereka. Setelahnya Caroline menutup Carzol dan Jefri dengan selimut.


“Sayang … jangan lakukan ini, Ya. Aku tidak akan ribut lagi, tapi lepaskan ini!” ucap Jefri dengan tatapan matanya memohon.


“Apa kau tidak kasihan dengan Kakakmu ini yang sedang sakit.” Begitu juga dengan Carzol yang memperlihatkan ekspresi tak berdayanya.

__ADS_1


Tetapi semua itu percuma, karena Caroline tidak mendengarkan apa yang jefri dan Carzol katakan.


__ADS_2