
Sinar matahari menyinari mansion Jefri, yang mana sinar itu masuk kedalam celah-celah jendela.
Caroline mengerjapkan matanya saat merasa jika tidurnya terusik, karena terkena sinar matahari. Saat matanya mulai terbuka dengan jelas Caroline kaget saat melihat ternyata dirinya sudah berada di dalam kamarnya yang ada di mansion Jefri.
Dan bahkan yang lebih mengejutkannya lagi dirinya tidak menggunakan sehelai benang pun. “Dasar para lelaki, ucapan kalian memang tidak bisa dipegang. kau mengatakan ‘aku janji tidak akan melepaskan pakaianmu saat tidur’.” Caroline berbicara dengan memajukan bibirnya.
Caroline mencoba untuk melepaskan tangan Jefri yang memeluk dirinya, Dan berjalan menuju Kamar mandi. Tetapi saat Caroline ingin menutup pintu kamar mandi tiba-tiba saja tangan Jefri menahannya dan Jefri masuk ke dalam tanpa permisi.
“Untuk apa kau masuk ke dalam kamar mandi Jefri ….” Wajah Caroline mulai merah, ia sendiri tau apa yang ingin dilakukan suaminya jika sudah mengikutinya masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan di sisi lain tepatnya di kamar anak-anak. Alex membuka matanya melihat sinar matahari yang masuk dengan leluasa ke dalam kamar mereka. Alex melihat ke arah jam dinding dan kaget saat ternyata jam sudah menunjukan pukul delapan.
Buru-buru Alex bangun dari tidurnya dan berlari menuju kamar Axel yang mana saling terhubung satu sama lain. “Axel bangn … ini sudah jam 8.” Alex mengguncang hebat badan Axel yang mana membuat Axel langsung membuka matanya.
“Memangnya kenapa jika sudah jam delapan … ini masih terlalu pagi, lagi pula kita bukanya sering bangun jam 11 siang.” Axel berucap dengan malas dan membalikan badannya ingin kembali memejamkan matanya.
"Bodoh! Apa kau lupa dengan misi kita? Nyonya menyuruh kita untuk bersikap dan meniru kebiasaan Alex dan Axel di depan Jefri dan Caroline. Mereka pasti akan curiga jika melihat kita yang bangun terlambat." Mendengar hal itu membuat Axel ingat dan segera berlari menuju kamar mandi begitu juga dengan Alex.
Sedangkan di ruangan makan Caroline menunggu Alex dan Axel untuk turun tetapi sudah lama mereka menunggu tetapi tidak terlihat juga batang hidungnya.
Baru saja Caroline ingin mencari Alex dan axel. Tiba-tiba saja mereka turun dari tangga dengan berlarian.
"Hei, jangan berlari … jika kalian terjatuh bagaimana?!" ucap Caroline berkacak pinggang di depan Alex dan Axel.
Alex dan Axel langsung menundukan kepalanya dan berkata, "Maaf bunda …."
Caroline mendengar kata bunda pun mengangkat salah satu alisnya dan bertanya, "tidak biasanya kalian memanggil mami, bunda?"
Alex yang menyadari jika dirinya salah dialog pun menjadi agak gugup dan berkata dengan terbata, "hmm … ka-kami ingin Mengganti sebutan Mami menjadi bunda."
__ADS_1
"Terserahlah …." Caroline berjalan kembali ke arah meja makan yang mana diikuti oleh Axel dan Alex.
Sedangkan di rumah Fahzan, Fahzan baru saja sampai di rumah pribadinya yang mana berhalaman luas dan juga terdapat banyak benda-benda antik.
Fahzan memasuki sebuah kamar yang mana kamar itu berisikan banyak sekali alat medis.
Seorang pria yang mana berisikan berbagai alat medis di tubuhnya sedang terbaring lemah di atas ranjang.
Di tubuhnya terdapat banyak luka yang membekas dan juga terdapat banyak alat yang tertancap pada tubuhnya. Hidupnya hanya bisa menunggu keajaiban untuk membuatnya sadar. Walau begitu Fahzan tetap mempertahankan pria itu, bahkan Fahzan merawatnya seperti layaknya saudara sendiri.
Pria itu adalah Jek. Yap, Jek musuh dari Jefri yang dulu sempat Jefri kejar karena membuat adik kesayangannya masuk rumah sakit.
Flashback on
Saat Jek kabur melalui pintu belakang mansionnya. Salah satu anak buah Jefri menemukan Jek, mereka bertarung dengan sengit, walau Jek terluka cukup parah tetapi dengan cepat Jek menusuk pisau ke arah anak buah Jefri.
Dan membuang mayatnya ke dalam sumur. Jek kembali melanjutkan perjalanannya menuju mansion Fahzan dengan seluruh tubuhnya yang berlumur darah dan luka yang terdapat di mana-mana.
Setelah Fahzan menangani Jek, Fahzan mulai mencari apa yang sebenarnya terjadi, dan Fahzan menemukan jika Jefri yang menyerang sahabatnya ini.
Mendengar kata Jefri Al Zero membuat Fahzan tidak berani berkutik. Ia tidak mungkin harus melawan Jefri yang mana tidak bisa masuk ke dalam jeruji besi.
Tetapi saat mendengar seseorang memiliki dendam kepada istri Jefri membuat Fahzan mengambil kesempatan itu untuk membalaskan dendam sahabatnya.
Flashback off
Fahzan menatap sahabatnya yang selalu ada disampingnya saat dia sedang dalam keadaan susah.
"Aku janji akan membalaskan dendam mu kawan. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi korbannya di sini. Aku akan membuat Jefri Al Zero merasakan apa yang kau rasakan," ucap Fahzan dengan senyum psikopat yang sangat menyeramkan.
__ADS_1
Fahzan berdiri dan ingin berjalan keluar dari ruangan itu, tetapi tiba-tiba tangannya digenggam dan membuat langkahnya terhenti.
****
"Xel, apa kau tidak apa-apa?" tanya Alex saat melihat adiknya yang mulai sadar.
Karena setelah tamparan keras kemarin membuat Axel menjadi pingsan semalaman dan membuat Alex panik.
Tetapi untungnya pagi ini Axel mulai membuka matanya dan membuatnya merasa lega.
"Aku tidak apa-apa kak. Semuanya baik baik saja." Axel menunjukan senyum terbaiknya kepada Alex padahal di dalam hati bocah itu terdapat rasa takut yang melanda hatinya.
Dan Alex yang melihat ekspresi wajah adiknya pun tahu jika itu ada rasa takut di hatinya.
"Sabarlah, sebentar lagi papa pasti akan datang menyelamatkan kita," ucap Alex untuk menenangkan adiknya.
Walau ia tau jika di luar sana sudah ada orang yang menggantikan mereka dengan wajah yang sama persis dengan mereka. Itu semua Alex tau saat Alex mendengar percakapan mereka saat dua anak buatnya melapor jika Alex dan Axel palsu melakukan kesalahan.
'Mama, Papa … Alex mohon, semoga kalian bisa membedakan mana yang asli dan yang palsu,' batin Alex dengan wajahnya yang menunduk.
Alex tidak dapat berbuat apa-apa karena kedua tangannya yang diikat begitu juga dengan kakinya.
"Tidak, Kak. Kita tidak bisa diam saja, kita tidak bisa hanya menunggu Papa dan Mama datang. Kita harus berusaha untuk bisa melepaskan tali ini," ucap Axel yang terlihat sangat serius.
"Tapi bagaimana kita bisa lepas, tali ini sangat kerat." Alex berusaha untuk menggerakkan tangannya tetapi sama saja tali itu tidak dapat longgar walau hanya sedikit saja.
Tiba-tiba saja Axel mendekatkan kursinya ke arah kursi Alex dan jemari-jemari Kecil itu berusaha untuk membuka ikatan tali yang sangat keras itu.
Tetapi hasilnya sama saja. Tali itu tidak dapat terbuka. Tetapi mereka tidak menyerah dan kali ini Alex yang mencobanya dengan menggunakan mulutnya dan didinya.
__ADS_1
Sampai akhirnya tali itu terbuka.