
Kitttttt
Semua yang ada di dalam mobil sudah menutup mata mereka. Bahkan Alex dan Axel pun sampai gemetar ketakutan. Dari belakang semua bodyguard Jefri yang melihat hal itu pun kaget, dan melajukan mobil mereka mendekat ke arah mobil Jefri.
Mobil Jefri pun mengerem tepat pada waktunya. Sehingga tidak terjadi apa pun pada mereka di dalam sana. Jefri menormalkan nafasnya dan membalik badannya melihat ke arah kedua putranya.
"Apa kalian tidak apa-apa?" tanya Jefri, terdengar nada khawatir dalam suara Jefri, dan hal itu membuat kedua bocah itu melihat ke arah sang ayah.
"Iya, Pi … aku tidak apa-apa," jawab Alex berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa takutnya. Ia tau jika ia terlihat takut makan Jefri akan menjadi lebih khawatir dan situasi akan kacau.
"Bagaimana denganmu, Xel?" Jefri kembali menanyakan kepada putra keduanya itu yang masih memejamkan matanya.
Melihat tidak ada reaksi dari sang adik Alex pun mencubit sedikit paha adiknya. Hal itu membuat Axel terperanjat dan mendongakan kepalanya menjawab hal yang sama dengan Alex. Namun, di belakang mereka Axel masih tetap menggenggam tangan sang kakak erat-erat menyalurkan rasa takut yang selama saat ini ia rasakan.
"Ya sudah … jika begitu kita pindah mobil, ya?" ucap Jefri dengan lembut dan digangguki oleh kedua putranya itu.
Saat keluar dari mobil, Alex Axel dan Jefri melihat ada beberapa mobil bodyguard yang berada di belakang mereka. Jefri langsung saja menagih kunci mobil pada mereka dan mengantar kedua anaknya pulang. Namun, tak lupa Jefri menyuruh untuk menyelidiki hal yang terjadi hari ini kepada ketua bodyguard itu.
Saat sampai di mansion, Alex dan Axel menolak untuk tidur di kamar mereka. "Sayang … kalian kan sudah besar, apa yang membuat kalian takut?" tanya Jefri. Namun, perkataan Jefri membuat mereka sedih.
Jefri yang melihat raut wajah kedua putranya pun buru-buru menyetujui permintaan mereka. Akhirnya, mereka berempat pun tidur bersama. Alex dan Axel terlihat lebih nyaman saat mereka tidur dibandingkan dengan saat mereka tidur di makan mereka sendiri.
***
__ADS_1
Pagi harinya Jefri tidak membiarkan keluarga kecilnya itu pergi tanpa pengawasan. Bahkan saat ini Jefri yang akan mengantar anak-anak sekolah. Apa lagi si bumil, si bumil yang satu ini sungguh tidak bisa Jefri tinggalkan dan akhirnya Jefri mengajaknya ke kantor.
"Dada … kalian hati-hati …," terlihat Caroline melambaikan tangannya kepada putra-putrinya.
Di samping Caroline tak lupa juga ada Jefri yang semakin posesif dengan Caroline. Ia tidak membiarkan Caroline pergi tanpanya. Bahkan saat ini Jefri yang sedang berada di belakang Caroline pun masih sempat mengecup tengkuk Caroline.
Tubuh Caroline sempat menegang. Namun, semua itu kembali seperti semua saat Caroline sadar di mana mereka berada. Caroline mencubit paha Jefri dengan tangannya yang bersembunyi antara Jefri dan dirinya.
Ia akan malu setengah mati jika ada orang yang mengetahuinya. Buru-buru Caroline masuk ke dalam mobil diikuti dengan Jefri begitu kelima anaknya tidak terlihat lagi dari gerbang sekolah. Jefri menyuruh sopir untuk melakukan mobil menuju perusahaannya.
Caroline awalnya ia akan diantar kembali ke mansion. Namun, siapa sangka jika ia akan dibawa menuju perusahaan Al Zero yang mana bangunan itu sangat mewah. Semua karyawan perusahaan menunduk hormat saat Jefri masuk tidak ada yang berani bermain mata dengan Caroline saat itu. Karena memang Jefri memerintahkan untuk meratakan siapa saja yang berani entah sang istri.
*
*
*
"Aku menyuruh kalian untuk melukai Caroline, bukan melukai calon suamiku!" bentak wanita itu dengan amarah yang memuncak. Saat ia mendengar jika Jefri hampir saja menabrak pohon.
"Jika sampai terjadi sesuatu pada suamiku, kalian akan tau akibatnya."
Brakk
__ADS_1
Wanita itu tidak lain adalah Italia. Yap, wanita yang sangat terobsesi dengan Jefri bahkan sampai rela melakukan apa pun hanya untuk membuat Jefri dan Caroline berpisah. Saat Italia mengetahui jika anak buahnya salah sasaran ia marah besar.
Pasalnya sedari awal Italia selalu sudah memberitahu anak buahnya untuk mencelakai Caroline bukan Jefri. Italia sudah sangat terobsesi dengan Jefri saat ia dan Jefri bertemu pertama kali di Prancis. Saat itu Itali sedang dikejar oleh preman, dan saat itu itali bersembunyi di dalam bagasi mobil milik Jefri yang sedang parkir. Preman itu tanpa mengetahui siapa dari pemilik mobil itu pun langsung mengepung mobil.
Jefri yang sedang di dalam mobil pun emosi karena melihat ada banyak preman yang mengepung mobilnya Jefri keluar dari mobil. Tanpa pikir panjang Jefri pun langsung menembak para preman itu dengan pistolnya satu persatu. Itali yang saat itu sedang bersembunyi di dalam bagasi mobil dengan sedikit terbuka, melihat semuanya dari dalam sana. Saat semua preman itu sudah tumbang, Italia langsung keluar dari bagasi mobil. Namun, siapa yang menyangka jika kejadian itu membuat Itali sangat terobsesi pada lelaki yang dia anggap saat itu sedang ingin menyelamatkan dirinya.
Wajah Jefri selalu terbayang dalam benak Italia. Saat Italia sampai di apartemennya, Italia langsung mencari tahu identitas pria yang menyelamatkannya. Italia melihat foto Jefri yang berada di sebuah artikel dan itu membuat Italia semakin terobsesi dengan Jefri.
Kembali lagi pada situasi saat ini. Terlihat di dalam ruangan yang awalnya terlihat mewah dan elegan itu sangat rapi. Namun, saat ini ruangan itu menjadi kacau balau karena Italia yang melemparkan semua benda yang ada di sekitarnya. Bahkan Italia kedua bodyguard yang melakukan kesalahan itu sampai terluka pada bagian lengan dan wajah mereka akibat amukan Italia.
"Cesar …," teriak Italia, memanggil tangan kanannya.
"Iya, Nona?" tanya Cesar begitu sampai di depan Italia.
"Cari tau keadaan Jefri, sekarang!" perintah Italia dengan Suara yang penuh penekanan.
Cesar terlihat takut dan kemudian berkata dengan gagap, "Ta-tapi, Nona … mencari keadaan Jefri Al Zero itu sangat sulit. Tidak ada yang bisa menembus keamanan yg dia. Dari mana kita akan mencari keadaannya?"
"Aku tidak mau tau, jika kau tidak bisa menemukan mereka maka …," ucapan Italia berhenti dan menunjukan sebuah rekaman yang mana terdapat seorang anak dan wanita yang berada di dalam rumah dengan penjagaan ketat.
"Baiklah, Nona. Akan aku cari," ucap Cesar dengan nada bergetar.
Wanita dan anak yang ada dalam video itu anak, anak dan istri Cesar. Yap, sebagian dari anak buah Italia aslinya bukan benar-benar bekerja padanya. Melainkan Italia dengan gilanya menggunakan keluarga mereka sebagai ancaman agar mau menjadi anak buahnya. Sebagian lagi anak buah Italia memang asli, tapi itu juga karena ada penyebabnya. Penyebabnya adalah karena mereka dibutakan oleh uang Italia menjanjikan gaji yang sangat tinggi bagi orang yang mau menjadi bawahannya.
__ADS_1
Italia mengambil foto Caroline yang sedang di lantai dan tersenyum. Lalu Itali membakar foto itu, dan berkata dengan keras, "Hahahh … aku akan menghancurkanmu berkeping-keping."