Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
79.


__ADS_3

"Ahhh … ya, om adalah Tuan Al Zero yang selalu muncul di TV," ucap pria itu membuat perdebatan ayah dan anak itu terhenti saat mendengar ucapannya.


Jefri tidak menjawab dia hanya menunjukan senyum sinusnya kepada bocah yang sudah mengatakan jika dirinya jelek.


"Tidak kusangka …." Pria berumur 13 tahun itu menggantung kalimatnya.


Jefri tersenyum bangga dan berkata, "tampan bukan?"


"Tidak kusangka, ternyata yang di tv itu hanya sebuah editan saja. Wajah aslinya tidak seperti yang ada di tv." Pria itu memalingkan wajahnya dengan kedua tangannya yang dilipat di depan dada.


"Hahahah …wajahmu, wajah editan, Ded. Hahaha …," ucap Aulia tertawa terbahak-bahak, "aku sudah mengatakannya 'kan, kau itu sudah tua hahaha …."


"Beraninya kau mengatakan aku jelek!" ucap Jefri dengan tangannya yang menggenggam erat stir mobilnya, "jika kau tua nanti kau akan jauh lebih buruk dariku."


"Tidak akan, aku akan lebih tampan darimu," ucap Nerto dengan percaya diri.


Nerto Wikanta anak dari salah satu pebisnis asal Indonesia, Nerto kabur dari penjagaan orang tuanya karena ia sudah malas meladeni orang tuanya yang tidak pernah memikirkan dirinya.


Sampai membuat Nerto muak, orang tua Nerto hanya memikirkan tentang bisnis dan citranya. Tidak pernah melihat kondisi Nerto sedikit pun sampai membuatnya kabur dari bodyguard keluarga Wikanta.


"Sudahlah Dedy, kenapa tidak mengalah saja dengan anak kecil," ucap Aulia seperti orang dewasa.


"Siapa yang kau sebut anak kecil bocah, aku ini sudah dewasa," ucap Nerto tidak terima.


"Owhhh … ya," Aulia mengangkat salah satu alisnya, saat ini Aulia terlihat seperti lebih dewasa dari usianya.


"Tapi jika di lihat, badan kakak seperti anak umur 13 tahun," ucap Aulia sedikit mengejan.


"Bocah kau tau apa, aku sudah 16 tahun asal kau tau saja," ucapnya dengan kedua tangannya yang dilipat di depan dada. Pria itu memang memiliki body lebih muda dari usianya membuat orang-orang yang baru mengenalnya akan mengira usianya masih 13 atau 12 tahun.


"Sudah, berhenti berdebat. Sekarang kau ingin kembali kepada bodyguardmu apa kau ingin aku membawamu ke hotel?" tanya Jefri saat melihat dari kaca spionnya, terlihat banyak mobil yang mengejar mobilnya.


"No, kakak tinggal di mansion bersama dengan Lia saja, Pa." Aulia terlihat menyilangkan kedua tangannya, ia masih tidak mau berpisah dengan pria tampan yang ia temui.


"Lia, mansion papi bukan panti asuhan Lia …." Protes Jefri tidak terima dengan permintaan Aulia.


"Tapi, Pi Lia yang menemukan kakak tampan ini," ucap Aulia dengan mata yang menunjukan memohon.

__ADS_1


"Apa Lia mau, mansion Papi menjadi tempat penampungan anak tampan?" Jefri melirik ke arah putrinya itu.


"Mau!" serunya gembira saat mendengar ucapan Jefri. Padahal awalnya Jefri ingin Aulia menjawab tak suka, tapi ternyata kenyataannya tidak sesuai harapan.


"Tidak apa-apa, Pi jika mansion kita menjadi panti asuhan untuk kakak-kakak tampan. Nanti saat besar Lia bisa menikahi semuanya," ucap Lia senang.


"Lia!" Bentak Jefri yang tidak suka jika putrinya itu terlihat centil atau pun memohon cinta kepada seorang pria.


"Iya, Pi … Lia ikut kata papi saja," ucap Lia menundukan kepalanya.


Nerto hanya melihat perdebatan antara anak dan ayah itu. Ia merasa iri melihat perdebatan Aulia dan Jefri, Nerto juga ingin merasakan hangatnya keluarga. Sejak dulu, Nerto tidak pernah mendapat kehangatan keluarga, semua teman-teman selalu mendapatkan kasih sayang dan manjaan dari orang tua mereka, sedangkan Nerto selalu ditinggal, ditinggal dan ditinggal.


[Hallo, kau jemput anak-anak, mereka masih diam di taman bermain dekat sekolah mereka, dan jaga keamanan mereka!] Jefri


[Tapi tuan bagaimana dengan Nona Aulia, kami masih belum menemukannya] bodyguard Jefri


[Aulia sudah bersamaku, kalian bawa pulang anak-anak] Jefri


[Baik, Tuan] bodyguard Jefri.


***


"Nih, turun sekarang." Jefri memberikan gold card kepada Nerto.


Nerto yang melihat kartu langka itu tentu saja ingin mengambilnya. Namun, gengsinya lebih tinggi dibandingkan kebutuhannya.


"Aku tidak butuh itu," ucapnya seolah-olah dia memiliki uang yang banyak.


"Yakin?" ucap Jefri dengan senyum mengejek. Pasalnya ia tau jika Nerto kabur tanpa membawa uang sepeserpun, baru tadi ia membaca informasi yang dikirimkan oleh Miko mengenai Nerto.


"Yakin, aku tidak butuh uangmu." Nerto melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh ia berjalan keluar dari mobil Jefri.


Melihat Nerto yang sudah keluar dari mobilnya, Jefri menurunkan kaca mobilnya sebelum Nerto pergi menjauh dan berkata, "Aku tau kau kabur tanpa membawa uang sepeserpun, jadi bawalah untuk bekalmu sampai kau memaafkan kedua orang tuamu," ucal Jefri mulai melunak kepada Nerto.


Mendengar ucapan Jefri Nerto menghentikan langkahnya dan membalik badannya, perlahan air matanya mulai keluar membanjiri pipinya yang putih.


Nerto terharu, tidak pernah ada yang mengerti dirinya, bahkan orang tuanya juga tidak pernah bisa mengerti apa yang ia inginkan. Hanya sedikit perhatian, itu yang Nerto butuhkan.

__ADS_1


Karena Jefri sudah mengetahui hal itu, Nerto pun menerima kartu pemberian Jefri. Yang mana di dalam kartu itu terdapat uang sebanyak 10 triliun.


Bruss


Jefri langsung mengemudikan kembali mobilnya begitu Nerto mengambil kartu tersebut.


***


Akhirnya, Jefri pun sampai pada tempat pernaungan terakhirnya, yaitu mansion.


Aulia langsung berlari masuk ke dalam mansion, ia ingin mengadu pada Mamanya tentang apa yang Jefri lakukan.


"Mama …," teriak Aulia berlari memeluk Caroline begitu ia melihat Caroline dari jauh.


"Lia … jangan lempar tubuhmu pada Mama!" teriak Jefri mengejar Aulia yang berlari kepada Caroline.


Hap


Jefri dengan cepat menangkap Aulia, ia takut jika Aulia akan secara langsung melempar tubuhnya kepada Caroline. Mengingat Caroline saat ini sedang mengandung.


"Papa … Lia ingin bersama Mama, jangan gendong Lia." Suara cempreng Aulia benar-benar akan memecahkan gendang telinga Jefri rasanya.


"Uhhhmmm …." Karena tidak tahan dengan suara cempreng Aulia, Jefri pun membekap mulut Aulia untuk meredam suaranya.


"Suaramu terlalu keras Lia, kau tau aku yang diam di atas bisa mendengar suaramu yang hampir membuat gendang telingaku pecah." bukan Jefri yang menjawab melainkan Amar yang berjalan perlahan turun melalui tangga.


"Biarkan saja, ini kan bibir Lia, bukan bibir kakak," ucap Aulia santai. Ia terlihat tidak menghiraukan ucapan Amar.


Aulia melompat turun dari gendongan Jefri dan masuk ke dalam pelukan Caroline yang dari tadi hanya diam menonton perdebatan anaknya dan juga suaminya.


Kringgg


Terdengar suara handphone Jefri, Jefri pun mengangkat panggilan itu dan menjauh dari Caroline dan anak-anak saat membaca jika itu dari Jose.


[Apa?] Jefri


[Tenang dulu, aku hanya ingin menyampaikan jika ketua dari kelompok Snack dan juga keluarganya masih tidak ingin memberitahu di mana mereka menyembunyikan Mona dan Marcell] Jose

__ADS_1


[Sial, apa yang mereka gunakan sampai kelompok Snack mau menyembunyikan mereka sedetail ini] Jefri.


__ADS_2