
"Tidak, Pi … kita tadi menonton film hantu, jadi tidak bisa tidur," ucal Axel kembali berbohong.
Namun, kali ini Jefri terlihat tidak percaya dengan ucapan Axel, ia menatap Axel dan Alex bergantian dengan sorot mata tajam.
Melihat itu, Alex dan Axel pun menundukan kepalanya. Akhirnya mereka pasrah, dan mengatakan yang sebenarnya kepada Jefri.
"Baiklah Papi … kami mengaku, kami memiliki penyakit insomnia," ucap Alex menundukan kepalanya.
Mendengar itu, hari Jefri merasa sakit. Karena selama ini ia tidak tau apa yang terjadi dengan kedua putra kandungnya ini.
Jefri mengusap pipi Alex dan Axel dan berkata dengan lembut, "Kenapa kalian tidak mengatakannya? …, Sejak kapan kalian memiliki penyakit ini?"
Alex dan Axel masih tertunduk dan berkata, "Setelah kejadian penculikan itu … Papi dan Mami setelah kejadian penculikan itu sibuk sendiri. Hisk … kalian melupakan kita, bahkan yang dulunya Mami selalu menemani kita tidur sekarang Mami jarang memasuki kamar kita."
Alex dan Axel menangis dengan kepala mereka yang tertunduk.
Jefri yang mendengar penjelasan dari kedua putra kandungnya itu pun merasa bersalah. Memang benar belakangan ini ia dan Caroline lebih asik dengan dunia mereka sendiri, mereka melupakan anak-anak mereka. Bahkan mereka menyerahkan semua keperluan Axel dan Alex kepada maid.
Sangat jelas jika kedua putranya itu membutuhkan kasih sayang mereka, Jefri tau sebelum Alex, Axel dan Caroline bersama dengannya Caroline selalu memberikan kasih sayang yang berlimpah kepada Alex dan Axel.
Jefri menghembuskan nafasnya kasar dan berkata, "Maafkan Papi boy … Papi salah, Papi selama ini selalu sibuk dengan kerjaan dan masalah yang ada. Sampai-sampai Papi lupa, dengan kalian. Papi janji mulai saat ini papi akan mendahulukan kalian dan Mami kalian dulu." Jefri langsung memeluk Alex dan Axel.
Jose dan Miko meneteskan air matanya melihat pemandangan yang ada di depan mereka. Tanpa mereka sadari mereka saling pelukan satu sama lain, melihat adegan antara ayah dan anak di depan mereka.
"Ngapain lo peluk-peluk gue? Najis!" Miko dan Jose menepuk-nepuk badan mereka merasa kotor. Karena berpelukan sesama batang.
"Lo yang main peluk duluan!" balas Jose yang masih menepuk-nepuk badannya.
Ckrek
Terdengar suara kamera dari arah ponsel Axel dan itu membuat perhatian Jose dan Miko terarah kepada Axel.
"Bocah, hapus!" Bentak Jose dan Miko bersamaan.
"Beraninya kalian membentak anakku!" Nada bicara Jefri yang penuh dengan penekanan di setiap katanya membuat Jose dan Miko takut dan berlari terbirit-birit.
__ADS_1
"Sudah … sekarang kita pulang ya, kalian harus tidur, Papi akan menemani kalian tidur," ucap Jefri, dengan mengusap kedua rambut putranya.
Alex dan Axle menganggukan kepalanya. Namun, sesaat kemudian mereka berkata, "Papi … bolehkan kita tidur bersama Papi dan Mami?" tanya Axel dan diangguki oleh Alex.
***
Tak lama kemudian Alex, Axel dan Jefri pun sampai di mansion. Mereka tidur dalam satu kamar, di kamar Caroline dan Jefri.
"Hati-hati … jangan menendang perut Mami, ingat di dalam sana ada adek kalian," ucap Jefri memperingati kedua putranya.
*
*
*
Tepat saat pukul 7 pagi, Caroline membuka matanya. Saat itu ia merasakan ada sebuah tangan kecil yang memeluknya, saat ia melihat pemilik tangan itu tidak lain adalah Axel.
Caroline mengedarkan pandangannya ke arah ranjangnya dan saat ini ia sedang menikmati pemandangan yang ia lihat. Di mana seluruh keluarganya sedang tidur dalam satu ranjang.
Setetes air mata keluar dari sudut mata Caroline, Caroline sadar semenjak kejadian penculikan itu Caroline tidak memperhatikan Alex dan Axel, ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, entah kenapa dan dari mana datangnya pemikiran itu.
Namun, Caroline mulai menyadari hal itu, ada rasa bersalah di dalam hatinya saat ia mengingat kelalaiannya sebagai seorang ibu.
"Sayang … jangan menangis, aku tau kau sedang memikirkan apa. Ini semua salahku juga terlalu sibuk dengan pekerjaan dan masalah kita sampai melupakan anak-anak." Jefri menghampiri Caroline dan memeluk Caroline.
"Sebaiknya kita temani mereka tidur dulu, ya … sepertinya mereka masih memerlukan kasih sayang kita," ucap Jefri dan mencium kening Caroline.
Caroline menganggukan kepalanya dan kembali tidur dengan memeluk kedua putranya.
"Maafkan Mami, sayang …," ucap Caroline sebelum ia memejamkan kembali matanya.
***
Pukul 12.30 PM
__ADS_1
Alex dan Axel mengerjapkan matanya, dan saat mereka melihat ke arah jam dinding. Mata mereka melotot saat itu juga.
"Aaa … telat …," teriak Alex dan Axel saat melihat jam dinding yang menunjukan waktu pukul 12.30 PM
Bahkan Caroline dan Jefri pun terbangun akibat teriakan mereka.
"Ada apa sayang … kenapa kalian teriak," tanya Caroline mulai mendudukkan badannya.
"Mami, kita terlambat. Bukan terlambat lagi, kita bolos …," ucap Axel panik.
Walaupun Axel dan Alex anak Jefri, seorang Jefri Al Zero. Namun, mereka sangat mengusahakan untuk tidak terlambat dan tidak bolos. Mereka selalu berusaha untuk bisa belajar disiplin waktu dan ini pertama kalinya mereka bolos.
"Sudah sayang … tidak apa kalian tidak sekolah sehari, bukankah kalian sudah mengetahui semua pelajaran kalian? Bahkan lebih dari itu," ucap Jefri.
"Baiklah …," jawab Axel.
"Sekarang kalian mandi dulu, Mami akan masak makanan kesukaan kalian, okey?" ucal Caroline yang mana langsung membuat wajah kedua putranya itu menjadi ceria.
"Okey!" seru mereka dan berlari menuju kamar mandi saking semangatnya.
"Apa kau akan membuatkan makanan kesukaan mereka saja? Bagaimana denganku?" tanya Jefri memeluk Caroline dan menjadikan pundak Caroline sebagai sandaran kepalanya.
"Baiklah … aku juga akan membuatkan makanan kesukaan Papanya anak-anakku, cup," ucap Caroline yang mana di akhiri dengan kecupan singkat di pipi Jefri dan Caroline berlari keluar dari kamar sebelum singa itu menyerangnya balik.
"Sayang … ini masih kurang," teriak Jefri. Namun tidak mendapat respon dari Caroline, ia melihat ke bawah, dilihatnya celananya sudah menonjol memperlihatkan sesuatu yang mulai bangun.
"Haisss …." Jefri pun hanya bisa mandi dengan air dingin untuk menenangkan dirinya.
Di dapur, Caroline sedang bergelut dengan semua peralatan dapurnya. Jefri memang tidak melarang Caroline untuk memasak asalkan Caroline tidak melukai dirinya sendiri itu tidak masalah bagi Jefri.
Saat Caroline membuka kulkas, Caroline mengambil bahan yang ditaruh oleh Zaki di dalam kulkas.
Yang mana bahan makanan itu sudah dicampur oleh sesuatu di dalam nya oleh Zaki. Namun, karena tidak menunjukan kejanggalan membuat tidak ada siapa pun yang mengetahui hal itu.
Tak lama kemudian masakan yang Caroline buat pun selesai. Caroline menghidangkan semua masakannya di atas meja makan yang sudah ada keluarga kecilnya yang menanti di sana tanpa adanya, Amar, Zamar dan Aulia.
__ADS_1