Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
54.


__ADS_3

Miko dan Jose masih terus melakukan pencarian keberadaan Jefri dan Caroline.


Dari atas tepatnya dari dalam helikopter Jose melihat adanya cahaya di dalam hutan, “Kenapa di dalam hutan bisa ada cahaya?” gumam Jose.


Mendengar gumaman Jose, Miko pun melihat ke bawah sana dan menyuruh pilot untuk menurunkan helikopter mereka menuju hutan. Tetapi karena tidak ada tempat untuk mendarat akhirnya helikopter itu hanya bisa merendah dan menurunkan sebuah tangga.


Jose dan Miko turun menggunakan tangga itu. mereka mulai masuk ke dalam hutan mengikuti Cahaya di mana tempat awal mereka melihat cahaya api.


Dan saat mereka menemukan cahaya api itu, Miko dan Jose kaget karena melihat Jefri dan CAroline yang tidur hampir tidak menggunakan pakaian karena pakaian mereka yang basah.


Caroline dan jefri hanya menggunakan pakaian bawahan saja dengan tidur saling memeluk satu sama lain.


Miko denga jahilnya berteriak dengan kencang di telinga Jefri. “Jefriiiiiiiii … kau telanjang …,” teriak Miko dengan mendekatkan mulutnya di telinga Jefri.


plakk


Jefri langsung menampar mulut Miko, dengan satu tangannya berusaha menutup telinga caroline dan berteriak, “Tututp Mata kalian …,” teriaknya sampai-sampai membuat seluruh penghuni hutan berlari menjauh dari mereka.


Jose dan Miko dengan Miko yang memegang mulutnya yang habis ditampar, berbalik badan. Jefri berjalan mengambil baju yang ia jemur di atas ranting pohon dan kembali dengan menutupi tubuh Caroline.


Jeffri langsung menggendong caroline dan membawanya menuju tempat helikopter itu menunggu mereka dengan dituntun oleh Miko dan Jose.


Dengan caroline yang berada dalam gendongannya Jefri duduk dengan merebahkan kepala Caroline di pahanya.


Sedangkan di mansion Jefri, Alex, Axel dan Aurel baru saja sampai di mansion dan saat ini mereka sedang rebahan di sofa ruang tamu dengan membawa setoples popcorn. Aurel sampai tidak bisa berkata-kata melihat tingkah kedua keponakannya.


Tak lama kemudian terdengar suara helikopter di halam belakang. Dan Aurel sudah bisa menebaknya jika kakak dan kakak iparnya sudah ditemukan. “Alex Axel. Papa dan Mama kalian sudah pulang!” seru Aurel gembira.


Tetapi ekspresi Alex dan Axel, tidak seperti apa yang Aurel duga. Alex dan Axel malah terlihat santai saja, seakan tidak terjadi masalah sama sekali. Bahkan mulutnya dengan santau mengunyah Popcorn yang ada di tangannya.


Aurel sudah malas melihat tingkah kedua keponakan kembarnya yang sedikit berbeda dari biasanya, dengan perasaan kesal Aurel berjalan menuju taman belakang menemui Kakak dan Kakak iparnya.

__ADS_1


Begitu melihat Jefri yang masuk dengan menggendong Caroline, Aurel langsung menghampiri Jefri dan dengan paniknya bertanya, “Apa yang terjadi?!” pekiknya khawatir.


“Tidak apa-apa, dia hanya tertidur saja. Di mana anak-anak?” tanya Jefri dengan volume suara dibuat sekecil mungkin.


“Ada di ruang tamu, Kak.” jawabnya.


Jefri menganggukan kepalanya dan berjalan menuju kamarnya dengan Caroline. Sementara Aurel kepalanya masih clingak-clinguk mencari seseorang. Jose dan Miko berjalan menuju Aurel. “Apa yang Anda Cari, Nona?” tanya Jose, melihat Aurel yang sedari tadi seperti sedang mencari sesuatu.


“Kenapa Zail tidak ada?” tanya Aurel dengan raut wajah Khawatir.


“Tenang, Nona. Zail di belakang sebentar lagi akan sampai,” jawab Jose, sedangkan Miko sudah masuk lebih dulu tanpa memperdulikan Aurel.


“Kau mencariku, Sayang?” suara seseorang dari arah kegelapan membuat mereka semua menoleh ke arah asal suara.


Dilihatnya Zail berjalan ke arah mereka dengan santai. Jose Berjalan masuk ke dalam mansion dan Aurel berlari menuju Zail dan menabrakan badan ke dalam pelukan Zail. Ada rasa hangat yang Aurel rasakan saat jatuh ke dalam pelukan Zail.


“Kenapa? Apa kau tidak bisa lepas dariku lagi?” tanya Zail dengan suara yang penuh kelembutan.


Tetapi tiba-tiba saja senyuman itu sirnah dari bibir Aurel dan berkata, “Yang,sepertinya ada yang tidak beres dengan kedua keponakanku” ucapan Aurel dengan raut wajah serius.


“Kenapa sayang?” tanya Zail dengan lembut.


“Mereka tidak seperti biasanya, mereka sangat aneh, kau tau Alex yang biasanya bersikap dingin kali ini lebih terlihat seperti anak-anak pada umumnya. dan Axel dia terlihat lebih boros dari biasanya dan cara makannya tidak seperti biasanya.” Aurel menceritakan panjang lebar apa yang ia alami dengan Axel dan Axel di mall tadi.


“Mungkin itu hanya untuk sementara nanti mereka akan kembali seperti biasanya.” ucap Zail yang terlihat tidak menganggap serius ucapan istrinya.


Mendengar jawaban dari Zail, Aurel pun cemberut dan hanya mengikuti langkah Zail membawanya ke mana.


Sedangkan di sisi lain, Fahzan dengan sangat anggun dan Santi ya duduk di kursi yang berada di ruangan yang sangat minim cahaya. Bahkan ventilasi di sana hanya ada satu buah jendela kecil saja.


Dengan sangat sabar Fahzan menunggu Alex dan Axel sadar. Dengan senyum di wajahnya, Fahzan berjalan menuju kursi tempat Axel Alex di ikat.

__ADS_1


Dan memperhatikan wajah mereka dengan seksama. "Ckckck … sungguh malang, padahal kalian ini jika dewasa akan tumbuh menjadi pria tampan. Tetapi maaf kalian tidak akan lama lagi di dunia ini. Aku akan membalaskan dendam Tuanku kepada orang tua kalian melalui kalian."


Fahzan meraba-raba wajah Alex yang lebih mulus.


Alex yang merasakan ada sesuatu yang sedari tadi meraba dirinya itu pun, segera membuka matanya dan kaget saat melihat dirinya yang sedang terikat tali yang mana mengikat kedua tangan dan kakinya.


"Heii … Santi dong, jangan panik begitu … kau hanya terikat belum tercekik." Fahzan mengitari tempat duduk Alex dan menikmati wajah Alex yang terlihat marah.


"Ternyata kau betul-betul anak Jefri … wajahmu dan ekspresimu saat marah sangat menunjukan jika kau sangat mirip dengannya," ucap Fahzan dengan nada yang terdengar menyeramkan.


Alex berusaha untuk bisa membuka lakban yang menutup mulutnya dengan menggunakan lidahnya, tetapi usahanya tidak membuahkan hasil. Lakban itu sangat kerat.


Alex terlihat mengerutkan keningnya dan menendang kaki dengan keras ke arah Axel yang masih belum sadarkan diri.


Axel pun mulai membuka matanya dan ekspresi yang sama Axel tunjukan di depan Fahzan.


Axel seakan ingin berkata sesuatu dan membuat Fahzan penasaran.


"Aku ingin mendengar apa yang kau katakan?" ucap Fahzan dan dengan kasar membuka lakban yang ada di mulut Axel.


"Lepaskan kami, dasar kau Anj**g!" umpat Axel dengan meludahi fazan.


"Bocah sialan!"


Plakkk


Fahzan menampar wajah Axel dengan sangat keras sampai-sampai membuat Axel terjatuh begitu juga dengan kursinya.


"Dasar tidak tau tata Krama!" umpat fazan.


Alex melihat adiknya yang diperlakukan seperti itu ingin rasanya dia membalas tetapi dengan mulut yang dilakban seperti itu membuatnya tidak bisa mengeluarkan suara.

__ADS_1


__ADS_2