
Miko mendengar ucapan Jefri menaikan sebelah alisnya dan berkata, "Apa kau lupa dengan tugas yang kau berikan kepadaku? Kau menyuruhku untuk mencari informasi tentang Jek, apa kau melupakannya?"
Jefri mengusap wajahnya frustasi, gara-gara bayangan wajah Caroline yang selalu menghantuinya, Jefri sampai melupakan apa yang dia tugaskan kepada Miko.
Miko yang melihat ekspresi Jefri semakin heran dibuatnya, pasalnya selama ini Jefri tidak pernah melupakan sedikit pun tugas yang dia berikan kepada anak buahnya. Walaupun itu tugas yang sepele tetapi Jefri tidak pernah melupakannya.
"Tidak biasanya kau begini, apa ada yang mengganggu pikiranmu, Kawan?" ucap Miko dengan mengusap bahu Jefri.
"Apa menurutmu jika bayangan seorang perempuan terus bermunculan di pikiran kita, apa itu tandanya sedang jatuh cinta?" tanya Jefri dengan wajahnya yang datar dan pandangannya yang lurus ke depan.
Miko yang mendengar perkataan sahabatnya, menaikan salah satu alisnya bingung. Namun sepersekian detik kemudian, otaknya kembali berfungsi.
Miko tersenyum dan berkata, "Apa kau sedang menyukai seseorang?" tanya Miko penuh selidik.
Jefri yang ditanya hal itu langsung tersadar, dan dengan rasa gengsinya dia menjawab, "Tidak, aku hanya bertanya, mana sini berikan laporannya."
Jefri mulai mengalihkan pembicaraannya karena ia tidak ingin jika mengakui perasaannya kepada Caroline.
"Apa kau tidak memiliki tangan untuk mengambil documen itu yang berada di atas mejamu," ucap Miko dengan menaikan sebelah alisnya.
Miko membuang nafasnya kasar. 'tidak biasanya Jefri bersikap seperti ini. Pasti ada sesuatu.' Batin Miko.
"Diam, aku atasan di sini!" ucap Jefri.
Jefri mengambil documen yang ada di atas mejanya. Lalu membacanya dengan ekspresi yang sangat serius.
Miko berjalan menuju sofa dan mendudukan bokongnya di atas sofa. Lalu tangannya menekan tombol pada telepon yang ada di atas meja depan sofa, yang mana telepon itu tersambung kepada sekretaris Jefri.
"Bawakan aku kopi ke ruangan Jefri," ucap Miko dengan santai dan merebahkan punggungnya di sandaran sofa.
"Baik, Tuan," jawab sang sekretaris dan menutup sambungan teleponnya.
__ADS_1
Sedangkan Jefri dengan serius membaca documen yang ada di tangannya. Tetapi semenit kemudian, Jefri mengerutkan dahinya membaca satu kalimat yang membuatnya kaget.
'Jek, tidak memiliki tunangan ataupun istri dia hanya hidup sebatang kara.' kalimat itu membuatnya sangat terkejut. Bagaimana tidak, pasalnya Jefri membawa Caroline dari mansion Jek dan mengira jika Caroline adalah istri ataupun tunangan Jek.
"Apa kau yakin dengan informasi ini?" tanya Jefri dengan memicingkan matanya.
Miko menoleh, melihat ke arah Jefri. Miko mengerutkan sedikit dahinya dan berkata, "Apa kau meragukan kemampuanku?"
Jefri tak menjawab dan dengan otaknya yang sedang amburadul saat ini, dia berusaha keras bagaimana untuk membuktikan apakah Caroline istri dari Jek atau bukan?
"Kami cari tau tentang identitas wanita ini!" perintah Jefri dengan nada suaranya yang terdengar tegas.
Jefri menyerahkan foto Caroline yang ia ambil dari rekaman kamera CCTV. Miko yang melihat foto di depan matanya, memperhatikan wajah orang yang ada di dalam foto.
‘Aku sepertinya pernah melihat wanita ini tapi aku melihatnya di mana, ya?’ Batin Miko dengan memperhatikan foto Caroline. Sepersekian detik kemudian, Miko ingat di mana dia melihat Caroline.
“Bukankah wanita ini adalah wanita yang menjadi tawananmu di mansion?” tanya Miko dengan tangannya yang dilipat di depan dadanya dan mengambil foto Caroline yang ada di tangan Jefri.
“Wanita yang sangat cantik, jika kau sudah selesai menghukumnya katakan padaku aku ingin menjadikannya wanitaku,” ucap Miko dengan senyum mesum yang menghiasi bibirnya.
Miko yang mendengar apa yang dikatakan Jefri segera mengalihkan pandangannya dari foto Caroline, dan bertanya dengan bingung, “Apa maksudmu? apa kau menjadikannya tawanan karena wanita itu adalah istri atau tunangan Jek?”
Jefri membuka laptopnya dan berdehem, “hhhmm ….”
“Sebaiknya kau lepaskan saja wanita itu, karena sepertinya dia tidak mungkin menjadi istri Jek, karena dari berita yang beredar di dunia bawah, Jek adalah pria mesum yang suka meniduri ribuan wanita,” ucap Jefri menjeda ucapanya, “dan jika dia kau lepaskan aku akan langsung menikahinya dan memberikan kehidupan yang sangat layak untuknya.”
"Aku ingin memastikannya, sebelum ada bukti aku tidak akan melepaskannya," ucap Jefri dengan nadanya yang dingin.
Entah kenapa, mendengar apa yang dikatakan oleh Miko tadi membuat hatinya tak nyaman, seolah ada sesuatu yang mengusik hati Jefri sehingga membuatnya tak nyaman.
Ada rasa marah dalam diri Jefri dengan ketikan mendengar Miko yang ingin menikahi Caroline.
__ADS_1
“Kau ingin mengerjakan tugas yang aku berikan atau gajimu aku potong setengahnya?” ucap Jefri dengan nada suara yang terdengar berat.
Miko tanpa Ba-Bi-Bu, langsung saja keluar dari ruangan Jefri dan mengerjakan tugasnya.
Sedangkan di sisi lain, Caroline masih tak dapat bangun dari ranjang Jefri. bagaimana tidak, bagian intinya terasa sangat sakit, semalam Jefri melakukannya berkali-kali, sampai membuatnya tak dapat bangun.
Bahkan untuk menggerakan kakinya saja terasa sakit, apa lagi jika di gunakan untuk berjalan. Caroline yang awalnya berencana untuk kabur dari mansion Jefri akhirnya menunda niatnya itu.
Caroline akan menunggu rasa sakit dari pangkal pahanya itu menghilang supaya dirinya bisa dengan lancar menjalankan rencananya dengan mulus.
“Sial, gara-gara si gila itu aku harus menunggu sampai sakitnya hilang,” gumam Caroline kesal.
cruuuttkkk
Terdengar suara perut Caroline terdengar jelas, memintanya untuk diberikan makan. Caroline yang masih stay berada di atas ranjang segera bergeser menyeret bokongnya yang untuk mendekat ke dekat nakas.
“Hallo, permisi, apa saya bisa meminta makanan?” tanya Croline yang sudah tidak kuat lagi untuk menahan laparnya.
“Makanan apa, cepat katakan jika tidak aku akan segera menutupnya!” terdengar suara seorang wanita dari seberang panggilan. suara yang terdengar judes dan jutek ditambah dengan nadanya yang kasar.
“Nasi goreng 2 porsi!” ucap Caroline yang asal menyebutkan nama makanan yang dipesannya.
daripada saya dirinya tidak makan lagi lebih baik ia menyebutkan asal nama makanan saja. Intinya dirinya makan nasi.
Caroline kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjang. dengan menuggu makananya datang.
tok tok tok
terdengar suara pintu diketuk dari luar dan tak lama kemudian disusul oleh suara teriakan seseorang. “Aku menaruh makanannya di depan pintu! kau ambil saja tenagaku habis untuk menaiki tangga.”
Caroline yang mendengar itu memijat kepalanya pusing bagaimana bisa ia berjalan jika kakinya masih terasa sakit, terutama bagian intinya.
__ADS_1
dengan susah payah Caroline bangkit dan langsung ingin berjalan ke arah pintu. tetapi kakinya benar-benar tak bisa berjalan sehingga Caroline tak dapat berjalan, Caroline jatuh ke lantai dengan tangannya yang memegangi pinggiran kasur king size itu.
Caroline mencoba untuk ngesot supaya bisa menuju pintu dan mengambil makanannya. Walau terasa sangat sakit, tetapi Carolin berusaha menarik tubuhnya dengan tangannya berpegangan dengan lantai untuk bisa menuju pintu.