Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
9. Menyerah


__ADS_3

"Tuan, wanita ini sudah menyerah dia sudah memohon kepada Anda." ucap Jose yang mendapatkan kabar dari pengawal yang ditugaskan oleh untuk mengawasi Caroline. 


Jefri tersenyum puas dengan  apa yang dikatakan oleh Jose, ada kesenangan tersendiri di hatinya saat mendengar kabar jika Caroline sudah mengibarkan bendera putih. 


"Kurung dulu dia, sampai aku datang ke mansion." Jefri langsung mematikan handphonenya saat selesai mengatakan kalimat itu, tanpa menunggu jawaban dari Jose. 


'Akhirnya kau menyerah juga, aku akan membalasmu sesukaku' batin Jefri berseringai licik dengan tangannya yang memasukan handphonenya di saku celananya. 


Sedangkan di sisi lain, Caroline yang sudah menyerah karena tidak tahan akan rasa lapar yang menyerang perutnya dan dinginnya lantai yang ada di ruangan eksekusi membuatnya tidak kuat untuk itu. 


Tetapi Caroline kembali kecewa, setelah dia memendam rasa gengsinya untuk mengatakan menyerah, tetapi pengawal yang berjaga di depan pintu eksekusi mengatakan jika dirinya harus menunggu sampai Jefri datang, dan itu sangat-sangat membuatnya, marah dan malu. 


"Kenapa aku harus terjebak pada situasi ini, sih, ini semua karena nenek lampir itu aku tidak akan tinggal diam, tunggu saja pembalasanku," ucap Caroline yang diselimuti oleh rasa marah kepada paman dan bibinya yang sudah menjualnya. 


Sudah sepantasnya Caroline marah kepada paman dan bibinya. Bagaimana tidak, semua harta peninggalan orang tuanya di rampas oleh mereka dan Caroline masih diam saja karena Caroline berpikir jika dia tidak bisa untuk menjalankan perusahaan keluarganya.


Tetapi apa yang Caroline dapatkan, semua perusahaan milik orang tuanya hancur lebur bangkrut karena ulah paman dan bibinya dan sekarang dirinya yang menjadi korban yang dijual kepada seorang mafia yang haus nafsu. 


Caroline tidak bisa menerima semua ini, Caroline mengepalkan tangannya dan bersumpah akan membalas semua apa yang dilakukan oleh paman dan bibinya. 


Jefri yang berada di rumah sakit baru saja bisa bernafas lega setelah mendengar jika Aurel sudah baik-baik saja. 


Jefri masuk ke dalam ruangan Aurel, Jefri memandangi wajah Aurel, orang paling berharga yang ada di dunianya. 

__ADS_1


Karena Aurel adalah satu-satunya keluarga yang tersisa. Setelah kejadian menyedihkan yang terjadi pada orang tuanya, sehingga membuat Jefri dan Aurel hidup tanpa adanya kasih sayang orang tua. 


Semenjak terjadinya tuduhan palsu terhadap keluarganya, orang tua Jefri menjadi stres memikirkan opini publik yang mengatakan jika keluarga Al Zero melakukan perdagangan manusia. 


Mama Jefri stres karena dihujat oleh warganet, sedangkan sang ayah saat akan kembali ke mansion untuk meluruskan masalah dia di keroyok oleh sekumpulan warga.  Sampai membuatnya koma di rumah sakit selama dua hari dan setelah dua hari ayah Jefri dikabarkan meninggal dunia dan sang mama terkena serangan jantung setelah mendengar kabar itu karena terlambat untuk dibawa kerumah sakit akhirnya mama Jefri ikut meninggal dunia. 


Pada saat itu mereka masih tinggal di kota Jakarta, dan setelah kejadian itu Jefri berusaha untuk bangkit dengan melanjutkan perusahaan keluarganya yang masih seumur jagung. Dan mulai dari saat itu Jefri pindah keluar negri bersama dengan Aurel. Semenjak Jefri memegang kendali perusahaan keluarga, perusahaan itu menjadi maju dengan sangat pesat, walau saat itu umur Jefri baru 18 tahun, tetapi dengan kecerdasan yang dimilikinya mampu untuk meningkatkan perusahaan sampai saat ini, perusahaan Al Zero sudah menjari kerajaan bisnis yang sesungguhnya. 


Tidak ada yang berani melawan perusahaan Al Zero, karena perusahaan Jefri bisa berdiri tanpa adanya investor. Seluruh kekayaan milik Jefri adalah kekayaan tunggal, sehingga Jefri hanya dengan menggunakan uang miliknya bisa untuk memenuhi modal perusahaannya. 


'Dek, yang kuat ya, jangan tinggalkan Kakak sendiri, kakak tidak kuat jika harus hidup sebatang kara. Selama ini Kakak kuat hanya untukmu, dan Kakak akan berjuang sampai akhir untukmu juga, Rel," ucap Jefri mengusap kening Aurel. 


Esok harinya, Jefri sudah sudah kembali ke mansion untuk memberikan hukuman kepada Caroline. 


Cklak 


Pintu ruangan eksekusi terbuka, memperlihatkan Caroline yang sedang meringkuk kedinginan di lantai dengan bibir serta wajah yang pucat membuat Jefri tersenyum puas.


Walau dalam hatinya Jefri merasa kasihan tetapi dengan segera Jefri menepisnya dan mengingatkan dirinya sendiri tentang Jek yang mengeroyok adiknya. Hal itu seketika membuat emosinya bangkit, dan dengan kasar ya Jefri menendang Caroline yang sedang menutup matanya mengarah hawa dingin yang meruap masuk ke dalam tubuhnya. 


Tendangan itu membuat Caroline terbangun dan membuka matanya. Dilihatnya Jefri yang menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan amarah. 


Dengan cepat Caroline memeluk kaki Jefri dan berkata, "Tuan saya mohon, Tuan, berikan saya makan, saya sudah tidak sanggup menahan lapar ini, Tuan," ucap Caroline dengan tatapan memohon dan memeluk erat kaki Jefri. 

__ADS_1


Jefri tersenyum puas, dan mencubit dagu Caroline mengangkat wajahnya dan membuat mata mereka bertemu. 


"Ikuti aku!" ucap Jefri dengan suaranya yang terdengar tegas. 


Caroline berusaha untuk bisa berdiri, dengan tenaganya yang sudah sangat terkuras dan rasa lapar yang menghantam perutnya Caroline terus berjalan dengan sesekali berpegangan pada tembok. 


Sampai pada saat mereka sampai di kamar Jefri. Jefri duduk dengan santai di atas ranjang dan Caroline tetap berdiri dengan tidak tegak di depan Jefri. 


"Sekarang puaskan aku, baru kau akan mendapatkan makanan dan juga kembali ke kamar bawah tanahmu," ucap Jefri tersenyum miring.


"Tidak!" Caroline menolak dengan tegas. 


"Kau yakin? Jika kau tidak melakukannya maka kau tidak akan keluar dari ruangan itu dan juga tidak akan makan, selama seminggu lagi," ucap Jefri tersenyum.


Perkataan Jefri membuat Caroline goyah. 'tidak mungkin aku bisa menahan lapar ini seminggu lagi, ini saja sudah membuatku tidak bisa melakukan apa-apa bahkan bergerak pun aku akan sangat sulit. Aku tidak boleh meninggalkan dunia ini sekarang bagaimanapun aku belum membalas semua dosa mereka.' batin Caroline.


Akhirnya mau tidak mau Caroline naik ke atas ranjang dan dengan berat hati melayani Jefri. 


Jefri yang melihat hal itu tersenyum puas, dengan cepat Jefri men*i*m bibir seksi Carolin, dengan tangannya yang menelusuri gumpalan daging yang ada balik kemeja yang Carolin gunakan.


'Kenapa benda ini semakin hari semakin membesar.' Batin Jefri. Karena merasakan gumpalan yang sedang di genggamnya saat ini semakin besar dan semakin membuat hasratnya menggebu. 


Bibir Jefri masih terus menelusuri bibir Caroline yang selalu menjadi candu bagi Jefri, tetapi semakin lama Caroline semakin terbuai dan mulai merasakan bagian bawahnya berkedut. 

__ADS_1


Tangan Jefri tak ingin kalah, tangan nakal itu membuka kancing kemeja Carolin, sampai semua kancing kemejanya terlepas dan memperlihatkan gumpalan daging yang besar yang masih tertutup oleh b*a berwarna putih. 


Jefri meremas gumpalan daging itu membuat sesuatu di bawah sana yang sudah menegang semakin menegang sampai Caroline yang berada di atasnya dapat merasakan benda itu


__ADS_2