
“Mama,” gumam Alex kala melihat Axel yang bertabrakan dengan Caroline.
Sebelum Axel mengangkat kepalanya dengan cepat Alex memakaikan topi dan juga masker kepada sang adik.
Dan tak lupa Alex menutup kepalanya dengan topi yang yang ada pada jaket berwarna hitam yang ia kenakan sedari tadi.
“Maaf, tante tidak sengaja, apa kalian terluka?” Caroline berjongkok dan ingin melihat wajah anak yang ditabraknya.
Tetapi belum sempat Caroline melihatnya Alex sudah lebih dulu menarik tangan sang adik untuk berjalan menuju tempat sekretaris CEO dan meninggalkan Caroline yang masih terpaku di tempat.
“Anak zaman sekarang ditanya malah melengos, semoga Alex dan Axel tidak seperti itu,” gumam Caroline menggelengkan kepalanya.
Caroline saat itu baru saja selesai menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada sekretaris Jefri.
Sedangkan Axel berusaha membuat langkah sang kakak untuk berhenti dan berkata, “Kenapa kau berjalan terburu-buru sekali? Tidak ada siapa yang mengejar kita,” ucap Axel.
“Diam! Apa kau tidak mendengar suara orang tadi mirip dengan suara mama? jadi jangan berbicara begitu keras, kau paham?” ucap Alex memperingati Axel.
“Jadi apa wanita tadi itu adalah mama? Kenapa mama bisa ada di perusahaan papa?” tanya Axel.
“Iya, dan aku tidak tahu mengapa mama bisa ada di sini, jadi tutupi wajahmu dengan ini dan berhentilah berbicara!” ucap Alex dengan tegas kepada Axel.
Alex menarik tangan Axel menuju meja sekretaris Jefri. “Hallo adik manis, apa kalian tersesat? Sini biar Kakak antar kalian kembali,” ucap sekretaris Jefri saat melihat Alex dan Axel.
“Bukan, kita tidak tersesat, tetapi kita ke sini untuk menemui Jefri Al Zero, apa beliau ada?” ucap Alex dengan wajahnya yang datar seperti biasanya.
Sekretaris Jefri yang mendengar nama yang disebutkan oleh Alex, merasa kaget. “Maaf jika Kakak boleh tau, kalian siapanya Tuan Jefri?” tanya sekretaris Jefri.
“Dia adalah ayah kami, Kakak yang cantik.” Bukan Alex yang menjawab melainkan Axel.
__ADS_1
“Adek, pasti bercanda, bos kita belum pernah menikah … mana mungkin beliau mempunyai anak,” ucap sekretaris tersebut dengan senyum paksa menghiasi wajahnya.
“Kami tidak berbohong Kakak, kita memang anaknya, lihat saja wajah kami bukankah wajah kita terlihat sama,” jawab Axel.
Sekretaris Jefri mulai memperhatikan lebih jelas wajah Alex dan Axel. ‘Iya, memang benar wajah mereka sangat mirip dengan Tuan Jefri, apa aku harus membiarkan mereka masuk?’ Batinnya berkata.
Akhirnya karena sudah tidak memiliki alasan lain, sekretaris Jefri membiarkan Alex dan Axel masuk ke dalam ruangan CEO
“Tuan, ada dua orang anak yang mengatakan jika mereka adalah anak Anda,” ucap sekretaris Jefri, begitu mereka sampai di ruangan CEO.
Jefri yang mendengar hal itu, menaikan sebelah alisnya dan memutar kursi yang ia duduki.
Baru saja Jefri mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Alex dan Axel, betapa kagetnya ia melihat wajah yang sama dengannya. Bisa dikatakan jika Alex dan Axel adalah duplikat Jefri dalam versi anak-anak.
“Kau boleh keluar,” ucap Jefri kepada sang sekretaris.
“Tuan, ada satu lagi saya-”
“Baik Tuan.”
‘Siapa dua bocah ini? kenapa mereka bisa sangat mirip denganku? Dan juga apa yang aku rasakan ini? aku merasakan sesuatu yang aneh menyentuh hatiku saat aku melihat mereka.’
“Katakan siapa yang mengirim kalian ke mari?” Jefri menatap tajam Alex dan Axel.
“Tidak ada yang mengirim kita ke mari, kami ke mari hanya ingin memastikan apa benar kau adalah ayah kami atau bukan,” ucap Alex dengan tatapan tak kalah tajam kepada Jefri.
Jefri tidak menyangka ada seorang anak yang berani menatapnya dengan tajam. selama ini tidak ada yang berani menatapnya seperti itu kecuali Caroline, hanya dia satu-satunya orang di dunia ini yang berani melawan dirinya.
“Kalian tidak perlu berpura-pura lagi, kalian hanya bocah yang dimanfaatkan seseorang untuk menjebakku saja. ada banyak orang yang menginginkanku menjadi ayah mereka dengan menggunakan berbagai cara.
__ADS_1
“dan aku yakin jika kalian adalah salah satu dari mereka, kalian hanya melakukan operasi plastik untuk membuat wajah kalian mirip denganku,” ucap Jefri dengan aura dingin yang menyebar di sekitarnya.
Tetapi aura dingin itu tidak membuat kedua Alex dan Axel takut sedikit pun.
“Kau salah Ayah, kami adalah putramu dan juga Caroline. walau kita tidak tau apa masa lalu kalian, sampai kalian berpisah seperti sekarang. Tetapi aku sangat yakin 100% jika kau adalah ayah kami,” ucap Alex.
“Caroline,” gumam Jefri. seketika ia teringat dengan apa yang sudah terjadi 7 tahun yang lalu. Jefri mengingat malam di mana saat dirinya memaksa Caroline melakukan hubungan intim.
“Apa kalian memiliki fotonya?” tanya Jefri dengan nada sedikit melembut.
“ini,” ucap Alex memperlihatkan foto sang mama.
Jefri mengambil foto itu, air matanya berlinang di kelopak matanya saat melihat foto Caroline. “Jadi kalian benar-benar anakku dan Carolin? hiks … hiks, akhinya aku tahu ternyata Caroline masih ada tempat untukku di hatinya,” ucap Jefri mengusap Air matanya.
“sini!” Jefri merentangkan tangannya meminta Alex dan Axel untuk masuk ke dalam pelukannya.
Alex dan Axel langsung berlari masuk ke dalam pelukan Jefri. di sela-sela pelukan mereka Jefri yang tangannya mengusap-usap kepala Alex dan Axel diam-diam mengambil sampel rambut mereka, tanpa mereka ketahui.
“Ayah … hisk, hiks, kenapa Ayah meninggalkan kami? Ayah tau, teman-teman Axel sering mengejek Axel karena Axel tidak memiliki ayah.” bocah berusia kurang lebih enam tahun itu menangis dalam pelukan Jefri.
“Iya sayang, maafkan Ayah, semua ini karena ayah, maafkan ayah sayang, mulai sekarang jika ada yang mengejek kalian, kalian langsung katakan pada Ayah, ya,” ucap Jefri mengusap air matanya yang membasahi pipinya dan yang satunya mengusap-usap kepala Alex.
Alex sangat berbeda dengan Axel, Axel yang bersikap manja saat masuk ke dalam pelukan sang ayah, berbeda dengan Alex, Alex justru berwajah datar dan tetap menyebarkan aura dingin di sekitarnya.
Dan Jefri dapat merasakan hal itu,yang mana hal itu membuat Jeffri tersenyum miring dan berkata dalam hati, ‘Anak ini sangat mirip denganku, memiliki sikap yang mirip denganku seperti ini, tidak diragukan lagi jika mereka memanglah anakku.’
Tiba-tiba saja Alex melepaskan pelukannya lalu bertanya, “Ayah, apa yang membuatmu berpisah dengan mama?” tanya Alex dengan ekspresi datarnya.
Jefri yang mendengar pertanyaan sang putra, yang membuat nafasnya tercekat. Jefri membuang nafasnya kasar lalu mulai menjawab pertanyaan sang putra, “Ini semua berawal dari kesalahan Papa, papa salah karena sudah menyakiti mama kalian. dan saat ini papa sedang berusaha memperbaiki hubungan dengan mama kalian, Papa ingin membuat keluarga kita bersatu kembali,” ucap Jefri dengan kepalanya yang menunduk.
__ADS_1
Jefri sengaja tidak mengatakan semuanya dengan jelas, karena Jefri tidak ingin putranya memarahinya dan membuat hubungannya dengan sang putra menjadi semakin retak.