Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
47. Kejutan


__ADS_3

“Jangan teriak-teriak sayang …,” ucap Jefri dengan lembut, dan melepaskan tangannya dari mulut Caroline. 


“Bisakah kau tidak membuatku jantungan!” ucap Caroline dega alis yang berkerut dan nada tinggi. 


“Kau-” 


ucapan Caroline terhenti saat Caroline mengangkat kepalanya dan melihat sekelilingnya. 


Suasana gelap, dengan dihiasi lampu-lampu bercahaya emas dan bunga-bunga bergantungan di atas. Bukan hanya itu, tetapi tepat pada Sudut ruangan itu, terdapat air terjun dengan dihiasi oleh bunga teratai dan di dalam air terjun itu terdapat lampu bercahaya biru yang mana memperindah tempat itu. 


Carilone membalik badannya lagi, dan melihat diujung sana, terdapat rerumputan yang ditanami dengan bunga gumitir yang ditanami di bagian pinggirnya, dan bunga tulip di bagian tengah, dan bunga mawar merah dan putih yang berada di bagian paling tengah.  


Di pinggiran taman tersebut dipasang dengan lampu berwarna emas yang mana membuat bunga-bunga itu terlihat indah di dalam kegelapan. Di sudut lain lagi terdapat sebuah meja yang mana di sekeliling meja itu ditumbuhi dengan tanaman bunga matahari dengan berdampingan lilin di pinggirannya. 


Caroline menutup mulutnya melihat semua ini. Dari sudut matanya sebuah air mata kebahagiaan menetes sedikit demi sedikit. 


“Apa kau yang membuat semua ini?” tanya Caroline yang mana pandangannya masih melihat ke arah bunga bunga itu.


“Iya, sayang … bagaimana? apa kau menyukai ini?” tanya Jefri dengan memeluk Caroline dari belakang. 


“Ini seperti dunia dongeng. ini semua sangat indah.” ucapnya dengan terdengar suara isak tangis di sela-sela ucapan Caroline. 


Cup


Sebuah ciuman mendarat di pipi Caroline yang mana membawakan sebuah ketenangan untuknya. Caroline membalik badannya dan memeluk Jefri dan membenamkan wajahnya di dada bidang Jefri. 


“Bagaimana caramu membuat pemandangan seindah ini?” ucap Caroline menghapus sisa air matanya. 


“Kau tidak perlu tau, intinya kau hanya perlu menikmati suasana saat ini.” Jefri menaruh dagunya pada di atas kepala Caroline. 


“Sepertinya buahku semakin besar saja,” ucap Jefri saat merasakan dada Caroline yang sangat terhimpit dalam pelukan mereka. 


Dengan cepat Caroline melepaskan pelukannya dan memalingkan wajahnya dari Jefri. 


“Tidak usah malu, Sayang … bukankah tadi pagi aku sudah melihat semuanya?” ucap Jefri dengan menggigit telinga Caroline. 


Tetapi Caroline dengan cepat mengalihkan pembicaraan mereka dan mengajak Jefri untuk makan. 

__ADS_1


“Jef, aku ingin tanghulu, tadi kau sudah menjatuhkan tanghulu milikku, aku ingin kau menggantinya!” ucap Caroline dengan alis yang mengkerut dan tangan yang terkepal dengan memegang garpi di sebelah kanan dan sendok di sebelah kiri. 


Jefri tersenyum dan berkata, “Baiklah, Sayang … seberapa banyak pun tanghulu yang kau inginkan akan aku berikan untukmu.” ucap Jefri. 


Prok Prok prooko 


Jefri menepuk kedua tangannya dan dalam hitungan detik begitu banyak orang yang berjejer dengan membawa makanan yang mana adalah makanan favorit Caroline. 


Caroline memperhatikan semua makanan yang tersaji dengan menggugah seleranya. 


“Waooo … ini sangat lezat. aku akan makan yang mana, ya?” Ucap Caroline dengan memperhatikan semua makanan yang ada di atas meja. 


“Kau bisa menghabiskan semunya jika kau mampu.” ucap Jefri yang mana memandangi Caroline dengan kedua tangannya yang masih setia ada di bawah dagunya. 


Setelah satu jam berlalu mereka selesai dengan makanan mereka. 


“Sayang … aku ingin ini.” uap Jefri dengan tangannya yang nakal memegang buah yang ada di dada Caroline. 


“Bukankah tadi su-” 


“Ahhh …,” Desah caroline saat tangan Jefri dengan mudahnya meremas buah dada itu. 


"Sayang … boleh, ya?" tanya Jefri meminta izin. 


Caroline yang sudah terlanjur basah pun menganggukan kepalanya. Jefri yang sudah mendapatkan izin segera menggendong Caroline menuju pintu yang mana terhubung ke kamarnya. 


Jefri merebahkan Caroline di atas kasur dan memperhatikan Caroline dari atas sampai bawah dan berkata, "Sepertinya aku salah ukuran pada bagian dadamu sayang … ternyata bagian dadamu lebih besar dari yang kuperkirakan." 


Bluss 


Wajah Caroline memerah karena malu dengan apa yang Jefri katakan. 


Jefri tersenyum dan menindih tubuh Caroline. Meraba-raba bagian dada Caroline yang mana buah segar itu hampir keluar dari tempatnya. 


Dengan sekali tarikan Jefri membuat gaun itu sudah tidak ada pada tempatnya lagi. Bahkan Caroline tidak menggunakan bra karena pada bagian dada gaun itu sudah terdapat cup yang sengaja Jefri pasang untuk memudahkannya melihat buah favorit miliknya itu. 


Jefri menghisap buah ceri yang terdapat di atas buah semangka itu. Yang mana membuat Caroline menggeliat-liat tidak karuan. 

__ADS_1


Dan sekali lagi mereka mengulangi hal itu sampai membuat mereka kelelahan sampai kesekian kalinya. 


Pagi pun tiba 


Caroline mengerjakan matanya, dengan perlahan Caroline mulai membuka seluruh matanya. Dan melihat ke sampingnya yang mana Jefri sudah tidak ada di tempatnya. 


Caroline mendudukkan badannya di atas kasur. 


Baru saja Caroline ingin memanggil Jefri, tetapi tiba-tiba saja pintu kamar terbuka. Caroline dengan cepat menutupi tubuhnya dengan selimut tebal yang ada di kasurnya. 


Terlihatlah dua orang  wanita yang menggunakan pakaian serba putih, seperti maid masuk ke dalam kamar Caroline. 


"Kalian siapa?" tanya Caroline panik, karena ia merasa sama sekali tidak mengenali dua wanita ini. 


"Selamat pagi, nyonya. Kami hari ini akan merias Anda sebagai pengantin," ucap salah satu dari wanita itu dan membantu Caroline untuk bangun dan menuntunnya menuju kamar mandi, dengan dirinya yang masih dililit selimut.


"Ehh … eh," ucap Caroline kaget saat tiba-tiba saja dia dituntun menuju kamar mandi. 


"Hei, apa yang kalian lakukan! Aku bisa mandi sendiri," ucap Caroline saat para maid itu ingin membantunya mandi. 


"Tapi nyo-" 


"Keluar!!!!" Teriak Caroline yang mana membuat kedua maid itu terperanjat dan segera berlari terbirit-birit keluar dari kamar mandi. 


"Sebenarnya apa lagi yang Jefri rencanakan ini? Kenapa sampai harus membuat para maid itu membantuku mandi? Awas saja jika ada hal yang akan membuatku tidak senang, aku akan menguburnya hidup-hidup!" ucap Caroline dan memasukan dirinya ke dalam bak mandi dan memulai ritual mandinya. 


Setelah 20 menit melakukan ritual mandi, Caroline keluar dari kamar mandi dan dua orang wanita maid tadi menunggu di luar kamar mandi, dan menuntun Caroline menuju ruang ganti. 


Caroline dibantu memakai baju pengantin yang mana terlihat sangat pas pada bagian tubuhnya. "Kenapa aku dipakaikan pakaian ini?" tanya Caroline bingung melihat dirinya yang didandani seperti pengantin asli. 


"Nyonya bisa melihatnya nanti, saat nyonya sudah selesai di hias," jawab salah satu maid itu yang memiliki hawa dingin pada ucapanya. 


"Tidak tuannya, tidak bawahnya, semuanya memiliki temperamen yang sama," gerutu Caroline memajukan bibirnya. 


"Sudah nyonya," ucap mereka kompak. Lalu Caroline di bawa menuju Gereja, yang mana gereja itu berada di dalam hotel, dan termasuk gereja terbesar di negara itu. 


Saat Caroline sampai di gereja, Caroline lagi lagi dikejutkan dengan hadiah Jefri. 

__ADS_1


Ya itu sebuah pernikahan dengan dekorasi yang sederhana tetapi mampu membuat mata orang yang melihatnya terpukau. 


__ADS_2