Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
42. amarah Caroline


__ADS_3

Semua orang kaget melihat apa yang ada di depan mata mereka saat ini.


Gambaran yang sangat menyeramkan, untuk dilihat.


“Alexx ….” Caroline, Jefri dan Axel segera berlari menuju Alex. Di mana Alex yang sudah terjatuh ke lantai dengan perut yang tertusuk oleh pisau. Yang mana awalnya Martha ingin menusuk Caroline dengan pisau itu.


“Alex bertahan ya, sayang ….” Caroline menangis sambil memeluk Alex.


“Biarkan aku menggendongnya ke mobil!” Jefri mengambil Alex dari pelukan Caroline dan berlari membawa Alex ke tempat parkir.


“Axel ikut, papa ya.” Caroline berusaha untuk bersikap tenang di depan Axel. dia tidak ingin membuat Axel khawatir dan takut melihat kejadian seperti ini.


Axel menganggukan kepalanya dengan patuh. Dan berlari mengejar Jefri yang tak jauh darinya saat itu.


Begitu Caroline melihat Axel pergi menyusul Jefri. Caroline memutar kepalanya, dengan tatapan matanya yang tajam mengarah ke arah Martha.


“Beraninya kau melukai putraku!” Suara Caroline yang melengking terdengar sangat menyeramkan di telinga semua orang yang ada di sana.


Miko yang melihat Caroline akan bereaksi, memerintahkan seluruh anak buahnya untuk membubarkan semua orang yang ada di sana, Bahkan mereka sampai membayar seratus juta untuk setiap orang agar tidak menyebar luaskan kejadian ini.


Setelah di sekitar sana sepi, Caroline maju demi langkah selangkah. Dan berjalan ke arah Martha yang sedang dipegang oleh bodyguard Jefri.


Caroline melemaskan jari-jarinya, sampai-sampai suara jari-jari Caroline pun terdengar sangat menyeramkan.


Aura membunuh menyebar dengan sangat cepat di sekitar sana.


Gluk


Miko menelan salivanya dengan kasar saat melihat Caroline dengan aura menyeramkan.


‘Apa ini Caroline yang Bohay, anggun dan cantik itu? Kenapa sekarang menjadi sangat menyeramkan?’ Batin Miko ketakutan.


“Apa yang akan kau lakukan Hah?! Kau hanya beruntung karena bukan kau yang menerima tusukan itu, jika tidak aku pasti akn menusuknya lebih dalam lagi. Aku hanya berbelas kasihan saja dengan anak harammu itu, karena dia masih sangat kecil.” Martha berbicara panjang lebar dan membuat Caroline menjadi darah tinggi.


“Apa ini [isau yang kau gunakan untuk menusuk anakku?” Caroline menaikan sebelas alisanya dan tersenyum licik.


“Kau memiliki mata untuk melihatnya sendiri,” jawab Martha dengan acuh tak acuh.


Caroline tersenyum licik dan membersihkan bekas darah yang tersisa pada pisau itu dengan tangannya. Caroline memutari Martha dengan pisau yang ditempelkan di kulit wajah Martha sesuai dengan posisi Caroline.

__ADS_1


Marta gemetar, dan berkata, “Apa yang kau lakukan!”


“Masih bertanya?”


Cresss


“Arrrhhh ….”


Caroline mengiris kulit pipi Martha dengan sangat tipis. Bahkan kulit daging itu Caroline pegang tanpa rasa jijik.


“Jalang! Lepaskan aku, kau benar-benar gila!” Martha berteriak kencang dan memberontak melepaskan tangannya dari genggaman bodyguard Jefri.


“Pegang dia dengan erat!” Teriak Caroline, yang mana membuat kedua bodyguard Jefri yang menggenggam Martha terjingkat kaget.


‘Astaga … baru kali ini aku melihat nyonya semarah ini.’


“Kau mengatakan apa? Aku tidak mendengarnya.” Caroline mendekatkan telinganya ke arah Martha.


“Kau gilaaa!” Martha dengan bodohnya menanggapi perkataan Caroline.


pruuurrtt


arrghhh


“Apa ini yang kau katakan ‘GILA’?” Caroline tersenyum licik, “Lalu bagaimana dengan kau yang menusuk seorang anak kecil dan mengatakan dia anak haram!”


“Itu memang kenyataan! ibunya adalah ****** dan anaknya adalah anak haram!” Martha berteriak dengan sangat kencang.


Cresss


press


Darah Martha yang kental muncrat mengenai wajah Caroline dan juga kaki dari bodyguard Jefri. Caroline memegang potongan daging Martha tanpa ada rasa jijik sedikit pun.


“Bawa dia pergi dari hadapanku!” ucap Caroline dan menjatuhkan pisau dan potongan daging itu ke lantai.


“Baik nyonya.” Bodyguard Jefri menyeret Martha yang sudah tidak bertenaga lagi. tenaganya sudah habis terkuras untuk memberontak yang tidak membuahkan hasil.


Setelah Martha sudah tidak terlihat lagi di hadapannya, Caroline menjatuhkan tubuhnya di lantai dan pandangan yang kosong.

__ADS_1


“Apa kau sudah selesai bermain-main, Sayang?” Jefri tersenyum dan berjalan ke arah Caroline yang masih terduduk di lantai.


Jefri memeluk Caroline dan membenamkan wajah Caroline di dadanya.


“Sudah, ya. Tenangkan dirimu dulu, tidak baik jika Axel melihat kau dalam keadaan seperti ini okey?” Jefri mengusap kepala Caroline dan mencium kening Caroline.


Tanpa aba-aba Jefri menggendong Caroline dan caroline tidak melawan ataupun berontak. Pandangannya sangat kosong melihat lurus kedepan.


Saat mereka sudah berada di dalam mobil. Carolin bertanya, “Apa Alex sudah di bawa ke rumah sakit? Bagaimana keadaannya?” Pandangan Caroline tidak berubah sama sekali, dengan tatapan kosong, Caroline melihat Jefri.


“Tenang, Sayang … Alex sudah di bawa ke rumah sakit dan dia pasti akan baik-baik saja!” Jefri mengerti jika saat ini caroline masih merasakan takut dalam dirinya. karena baru pertama kali baginya melakukan hal kejam dan mengerikan seperti tadi.


“Aku sudah menitipkan Alex kepada Jose.” Jefri mengusap kepala Caroline berusaha untuk menenangkan Caroline.


“Apa aku akan masuk penjara?” tanya Carolin dengan tatapan matanya yang kosong.


Jefri tersenyum dan berkata, “Tidak, Sayang … selama kau masih bersama denganku tidak akan ada yang berani memasukan ke penjara.”


Jelas saja tidak akan ada yang berani memasukan Caroline ke dalam penjara, karena jefri adalah ketua dari Dragon Black, yang mana sebuah pemerintahan pun tidak berani melawan kelompok itu.


Selama kau masih orang Dragon Black, tidak akan ada yang berani menyentuhmu di dunia ini. Apa lagi Caroline yang notabenenya adalah istri dari pemimpin Dragon Black.


Caroline menundukan kepalanya dan memeluk Jefri dengan erat. Walau Jefri mengatakan hal itu, tetapi Hati Caroline masih belum tenang ditambah dengan buah hatinya yang masih terbaring di rumah sakit.


Tak lama kemudian mereka sampai di mansion, Jefri menggendong Caroline keluar dari mobil. Dan langsung memasukan Caroline ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar mereka.


Sedangkan di sisi lain, Carzol yang mendengar berita dari salah satu anak buahnya yang mengatakan Jika Alex tertusuk pisau.


Carzol tanpa pikir panjang langsung lepas landas menuju Inggris. Dan mencari tau rumah sakit tempat Alex dirawat dengan koneksinya.


Caroline dan Jefri saat ini sudah ada di rumah sakit, Mereka mendapat kabar Jika Alex kekurangan darah karena darah yang keluar dari tubuhnya sangat banyak sehingga mereka membutuhkan seorang pendonor darah.


“Maaf Nyonya, tetapi Golongan darah Anda tidak sama dengan tuan muda,” ucap sang dokter dengan membenarkan kacamatanya dan membaca semua data yang ada di tangannya.


“Lalu kita harus bagaimana, Dok? Diantara kita tidak ada yang memiliki darah yang sama dengan Alex.” Caroline merasa cemas dengan keadaan Alex.


“Ma, biar aku yang melakukannya. Aku dan Alex kembar, sudah pasti darah kita sama.” ucap Axel.


“Tidak, kamu masih sangat kecil, Sayang.” Caroline menyetarakan tingginya dengan Axel.

__ADS_1


“Tapi, Ma. Jika aku tidak mendonorkan darah untuk Alex maka Alex akan dalam bahaya!” Axel merasa cemas dengan kembaranya.


“Tidak perlu biarkan aku yang mendonorkan darah untuk keponakanku, aku adalah pamannya kandungnya.”


__ADS_2