Tawanan Tuan Jefri

Tawanan Tuan Jefri
34. kabur lagi


__ADS_3

"Kenapa harus kabur, Ma? Bukankah ini rumah-"


ucapan Axel lagi dan lagi terhenti karena Alex yang membekap mulutnya.


"Iya, Ma Alex juga merasa tidak nyaman berada di sini." Dengan tangan yang masih membekap mulut Axel, kaki Alex menginjak kaki adiknya yang mana membuat Axel terdiam.


"Kenapa kau selalu menutup mulut adikmu, Sayang?" tanya Caroline, bergerak turun dari tempat tidur, dengan menahan rasa sakit pada bagian intimnya.


"Tidak, Ma mulut Axel masih terasa manis, tadi dia makan jus rasanya enak di bibirnya masih terasa manisnya." Alex tidak memiliki alasan lain di dalam pikirannya hanya itu yang ada di dalam pikirannya.


Caroline hanya memutar matanya saja, ia tidak ingin membahas hal itu terlebih dahulu, karena menurutnya tidak terlalu penting.


"Sudah sekarang kita harus pergi dari sini." Caroline menggendong Axel dan menarik tangan Alex.


Tetapi perkataan Alex membuat Caroline terhenti. "Tapi, Ma … bagaimana cara kita keluar dari sini? Di apartemen ini memiliki keamanan yang ketat. Tadi Alex melihat sangat banyak penjaga yang berjaga di luar."


Caroline berfikir keras untuk bisa keluar dari apartemen Jefri. "Mama tau, di apartemen temen sini pasti ada lonceng kebakaran, Alex kamu cari di mana letak lonceng itu, dan setelah itu kamu hidupkan obat nyamuk sebanyak-banyaknya untuk membuat lonceng itu berbunyi dan jika belum berbunyi juga kamu hidupkan korek api dan dekatkan dengan lonceng itu sampai berbunyi. Setelah itu kamu berlari ke arah berlawanan untuk mencari pintu keluar, okey? Apa kamu bisa, Sayang?" tanya Caroline masih ragu dengan rencananya karena menurutnya itu masih berbahaya untuk Alex.


"Tenang, Ma … putramu ini bisa melakukannya dengan bersih," ucap Alex dengan yakin.


"Jika kamu merasa tidak bisa melakukannya biar Mama yang lakukan." Caroline ingin menurunkan Axel tetapi karena Alex yang mengatakan yakin jika di bisa melakukan hal yang dikatakan oleh mamanya maka Caroline mencari pintu keluar terlebih dahulu.


Tetapi sebelum itu Caroline, sempat memberikan sebuah mik, kecil untuk Alex yang akan menjadi alat percakapan mereka. Yang mana mic itu sudah terhubung dengan handphone Caroline.


Mereka menjalankan tugas masing-masing, yang mana Caroline dengan Axel mencari pintu keluar sedangkan Alex mencari alarm kebakaran.


Caroline sudah sampai di pintu keluar dan ia juga sudah menemukan jalan supaya Alex bisa menuju pintu keluar tanpa harus berpapasan dengan para pengawal Jefri.


Dan tak lama kemudian alarm kebakaran berbunyi menandakan jika Alex sudah berhasil menjalankan tugasnya, Caroline langsung mengarahkan jalan untuk Alex melalui jalan yang ia telusuri tadi, melalui handphone miliknya yang sudah terhubung dengan mic kecil yang ada pada Alex.


Dan 10 menit kemudian Alex,Axel dan Caroline sudah berhasil keluar dari apartemen Jefri dan sudah berjalan 100 meter dari apartemen Jefri.


"Ma, apa sebaiknya kita naik taxsi saja?" ucap Axel.

__ADS_1


'aku tidak membawa uang untuk naik taxsi, bagaimana aku mengatakannya pada anak-anak. Tapi kasihan juga mereka jika harus berjalan jauh, sebaiknya aku naik taxsi saja dulu, aku bisa gadaikan gelang ini saja'


Caroline tersenyum dan berkata, "baiklah sayang … kita naik taxsi supaya kalian tidak lelah."


Caroline berhenti di trotoar dan melihat kanan-kiri untuk mencari taxsi, tetapi Caroline tidak melihat ada taxsi yang melintas.


Namun ada sebuah mobil yang berhenti di depan membuat Caroline bingung dan menyuruh Alex dan Axel bersembunyi di belakangnya.


Saat pintu mobil itu terbuka, beberapa orang berpakaian seperti penculik keluar dan membekap Caroline dan juga Alex dan Axel.


Dan membawa mereka masuk ke dalam mobil. Karena saput tangan yang digunakan penculik itu sudah berisi obat bius membuat Caroline dan kedua putranya pingsan.


Sedangkan di kamar Jefri, Jefri baru saja keluar dari kamar mandi dan kaget saat melihat tempat tidurnya kosong.


Deg


Jantung Jefri berdetak lebih kencang kejadian beberapa tahun silam kembali terbayang.


"Ya, Tuan?" Salah satu dari penjaga yang berjaga di luar masuk ke dalam kamar Jefri dengan badan yang bergetar. Saat mendengar suara teriakan Jefri ia sudah tahu jika Jefri sudah marah.


"Yang lainnya masuk!" teriak Jefri lagi. Dan semua bodyguard yang menunggu di luar pun masuk.


"Ya, Tuan?" ucap mereka serempak.


"Apa yang kalian lakukan! Di mana istriku?" Bentak Jefri.


"Tenang, Tuan mungkin nyonya berada di kamar Tuan muda, atau berada di dapur." ucap anak buah Jefri.


Jefri yang sedang marah pun membuat otaknya tak bekerja, dia sangat takut jika kehilangan Caroline.


Jefri dengan cepat menuju kamar dan dapur yang ada di mansion. Setelah beberapa menit, Jefri mencari, tetapi Jefri tetap tidak menemukan di mana keberadaan Kedua putranya dan Caroline.


"Periksa CCTV, Cepat!" Teriak Jefri, wajah merah tangan terkepal kuat sampai urat-urat nya terlihat. Air mata yang mulai keluar dari sudut matanya.

__ADS_1


'Aku kira setelah aku melakukannya kembali kau akan tinggal di sisiku dan memaafkanku, tetapi kenapa kau tetap pergi meninggalkanku? Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi dariku! Kau hanya akan menjadi milikku, walau nyawaku menjadi taruhannya aku tidak akan membiarkanmu pergi.'


"Tuan …," teriak salah satu anak buah Jefri yang datang menghampiri Jefri.


"Tuan … saya melihat dari rekaman CCTV nyonya dan tuan muda di masukan ke dalam mobil dalam jarak 100 meter." Dengan nafas yang masih tersengal-sengal pengawal itu berusaha untuk tetap berbicara dan menyampaikan isinya.


"Lacak keberadaan mobil itu." Jefri segera menghubungi Jose dan Miko untuk membantu melacak keberadaan mobil yang membawa Caroline dan kedua putranya.


Di sebuah jalanan sepi, yang mana jalan itu tidak pernah ada yang melewatinya karena memang itu adalah jalan yang belum selesai diperbaiki dan di biarkan begitu saja.


Byur


Uhuk uhukuhuk


"Siapa kalian!" teriak Caroline berusaha untuk lepas dari ikatan tali yang mengikat tangan kaki serta lehernya.


"Diam!" Bentak salah satu dari empat penculik itu, "bos silahkan," ucap penculik itu membiarkan seorang wanita dengan pakaian yang serba terbuka untuk memegang kedua tali itu.


Caroline melihat ke mana arah tali itu. Dan matanya melotot saat melihat kedua tali itu yang mengikat kedua leher putranya yang sedang pingsan.


"Jefriii …," teriak Miko yang kelakuannya seperti anak-anak yang berlari ke arahnya dengan menunjukan sebuah flashdisk di tangannya.


"Bisakah kau tidak seperti anak-anak, ini sedang genting," ucap Jose dengan wajah dan aura dinginnya.


"Dari pada kau es batu," ucap Miko.


"Ada apa?" Wajah datar tanpa ekspresi selalu menjadi ekspresi andalan Jefri yang ditujukan kepada orang-orang, kecuali Caroline dan putranya.


"Aku menemukan di mana lokasi mobil yang membawa Carolineku," ucap Miko memberikan flashdisk di tangan ya kepada Jefri.


Jefri langsung melotot dan memberikan tatapan tajam kepada Miko, sedangkan Miko hanya menutup mulutnya saja. Jefri memasang flashdisk itu di laptop miliknya dan melihat lokasi keberadaan Caroline.


"Ayo kita ke sana! Tunggu aku, Sayang …," Jefri berucap yang mana suara terdengar semakin mengecil

__ADS_1


__ADS_2