
"Sepertinya dia melakukan operasi plastik," ucap Zail saat melihat rekaman CCTV yang ada di handphone Jefri.
Mendengar itu membuat Jefri menoleh, melihat Zail yang masih dengan serius menatap layar handphonenya. Zail terlihat masih mengamati pria yang menyamar menjadi Ziki. Matanya menyipit saat ia melihat adanya bekas luka operasi di lehernya.
"Iya … dia melakukan operasi plastik. Kau lihat luka yang ada di lehernya, itu adalah luka bekas operasi plastik." Zail menunjuk luka yang ada di leher Zaki yang mana terlihat seperti sudah mengering.
Jafri menggeram kesal, ia mengepalkan tangannya. Ia merasa gagal, sebelumnya tidak pernah Jefri sampai kecolongan seperti ini. Namun, saat ini ia malah kecolongan banyak kali bukan hanya sekali dan itu membuatnya marah kepada dirinya sendiri.
"Periksa orang itu di setiap rumah sakit! Jangan sampai ada yang terlewat," ucap Jefri dengan tangannya yang terkepal kuat.
"Okey," jawabnya dan pergi dari ruangan Jefri.
***
Waktu terus berlalu, dan saat ini waktu telah menunjukan pukul 6 sore. Jefri terlalu sibuk dengan pekerjaannya sampai ia hampir saja melupakan janjinya kepada anak-anaknya.
"Astaga … inj sudah pukul 6. Aku harus cepat, jika tidak mereka akan kecewa karena aku tidak menepati janjinya," ucal jefri dan bergegas mengambil jas dan tasnya.
Jefri melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, demi bisa sampai dalam waktu sesingkat mungkin. Untung saja tadi dia sudah menyelesaikan sebagian pekerjaannya. Jadi di atas mejanya sekarang hanya tinggal sebagiannya saja dan itu tidak terlalu banyak dan bisa Jefri kerjakan besok.
Tak lama kemudian mobil Jefri memasuki pekarangan mansion. Yang mana Jefri sudah ditunggu oleh keempat putra dan putrinya. Terlihat dari kejauhan mereka seperti marah kepada Jefri yang datangnya sangat lama.
"Papi … kau sudah janji akan mengajak kami ke pasar malam untuk bermain wahana bermain. Kenapa masih pulang malam sih," ucap Aulia dengan berkacak pinggang. Dahinya mengkerut menandakan jika dia sudah kesal dengan Jefri.
"Baiklah … Papi salah, Papi minta maaf. Sekarang kita ke pasar malam bagaimana?" tanya Jefri berusaha mengubah mood putra, putrinya. .
__ADS_1
"Okey," ucap Aulia dengan ekspresinya yang berubah tiga ratus enam puluh derajat.
"Ya, sudah Papi ganti baju dulu, ya …," ucap Jefri dengan mengecup puncak kepala Aulia.
Jefri masuk dan diikuti oleh Aulia, Amar, Zamar dan Axel. Namun, mereka mengerutkan keningnya saat melihat Jefri yang berjalan menghampiri Caroline.
"Stop … Papi, papi sudah janji akan mengajak kita ke pasar malam, kenapa malah menghampiri mami?" ucap Axel. Axel protes saat melihat Jefri yang menghampiri maminya. Semua tau jika papinya sudah bersama dengan mamanya makan semua akan terbengkalai. Jefri akan lupa waktu jika sudah bersama dengan Caroline.
“Jika Papi tidak segera mandi, yang ada pasar malamnya akan tutup, Papi … dan kita tidak akan bisa bermain wahana mainan!” omel gadis itu dengan berkacak pinggang.
“Baiklah tuan putri,” ucap Jefri dengan menunduk layaknya seorang bawahan.
“Sudah-sudah, Papi tidak usah drama, cepat mandi jika tidak kita akan telat …,” teriak Aulia dan mendorong bokong Jefri menuju tangga. Karena tinggi Aulia yang hanya bisa mencapai bokong Jefri.
“Iya-iya, Sayang … tapi jangan dorong Papi begini dong,” ucap Jefri saat Aulia masih saja mendorongnya.
“Kalian harus ingat janji kalian pada Mami. Kalian tidak boleh sampai jatuh dari wahana yang kalian naiki dan ingat jika kalian sampai terluka Mami tidak ingin kalian main ke wahana bermain lagi!” ucap Caroline tegas. Sebenarnya Caroline sangat tidak yakin mengizinkan putra-putrinya untuk ke pasar malam.
Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada anak-anaknya. Namun, melihat wajah putra-putrinya yang sangat ingin bermain permainan di pasar malam, membuatnya tidak tega jika harus membuat masa kanak-kanaknya mereka terhalang karena rasa takutnya.
“Siap, Mami …,” ucap mereka serempak dengan sikap hormat saat upacara bendera.
Tak lama kemudian Alex datang dari arah tangga, dengan tangannya yang membawa handphone di tangannya dan berkata, “Kalian itu sangat kekanak-kanakan. Pantas saja kalian tidak besar-besar.”
Mendengar ucapan Alex, semua yang ada di sana pun menatap Alex dari atas sampai bawah dan bertanya, “Memang kakak sudah dewasa?”
__ADS_1
“Ya jelas sudah,” ucap Alex dengan penuh percaya diri dan tidak sadar diri.
“Tapi kenapa Kakak tidak tinggi-tinggi? Tinggi, Kakak masih sama dengan tinggi kita, besar badan Kakak juga masih sama denganku,” ucap Axel dengan menahan tawanya. Melihat kakaknya yang tidak sadar diri.
Alex menatap tajam adik kandungnya itu. Ia merasa sangat kesal dengan Axel yang sudah membuatnya malu di depan saudara tiri mereka. Alex pun berjalan meninggalkan Caroline dan yang lainnya di sana yang sedang menahan tawa, Alex terlihat berjalan menuju dapur dengan rasa kesal di hatinya.
Tak lama setelah Alex pergi, datanglah Jefri yang sudah ditunggu-tunggu sedari tadi. Melihat itu, tentu saja membuat Amar, Zamar, Aulia dan Axell berteriak kegirangan.
“Papi … ayo, kita ke pasar malam!” ucap Axel yang dipenuhi dengan kegembiraan.
“Iya-iya … Alex … ayo kita berangkat,” teriak Jefri memanggil Alex.
“Iya … sebentar, Pi,” teriak Alex dari arah dapur.
“Ya, sudah kalian naik dulu ke mobil, nanti Papi, Mami dan Alex akan menyusul.” Jefri mengelus puncak kepala Axel dan dijawab anggunakan kepala oleh mereka berempat.
Axel, Amar, Aulia dan Zamar pun berlari keluar mansion dan naik ke dalam mobil yang mana didalamnya sudah ditunggu oleh sopir. Jefri kali ini membuat penjagaannya sangat ketat untuk keluarganya, ia tidak ingin kecolongan untuk kesekian kalinya. Sudah cukup ia memberikan kelonggaran untuk keluarganya supaya bisa lebih leluasa dalam beraktivitas, tapi tidak kali ini saat ini bukan tempatnya untuk bersantai. Jefri harus serba Extra demi keluarganya.
Tak lama kemudian, Jefri, Caroline dan Alex datang dan duduk di kursi tengah berada di depan anak-anak. Sebenarnya Jefri ingin mengerjakan pekerjaan kantornya. Namun, ia berubah pikiran setelah mengingat ia tidak pernah berbagi waktu dengan keluarga kecilnya.
Setelah sekian lama mereka berkendara akhirnya mereka sampai di Pasar malam. Alex, Amar, Zamar dan Aulia berbinar melihat wahana bermain yang ada di sana, mereka segera turun dari mobil dan berlari menuju wahana mainan yang mereka inginkan.
Saat Jefri turun dari mobil, tangan Jefri segera memberikan kode kepada penjaga bayangan yang akan bertugas menjaga anak-anaknya dan Jefri pun berteriak, “Hati-hati … jangan berpisah ataupun jauh-jauh dari Papi dan Mami!”
“Okey …,” teriak mereka yang mana sudah jauh dari Jeefri maupun Caroline.
__ADS_1
“Ayo, Sayang kita ikuti mereka.” Jefri segera melingkarkan tangannya di pinggang Caroline dengan posesif.